KULON PROGO - Longsor Jalan Provinsi Sentolo-Nanggulan semakin meluas Minggu (5/1). Akibatnya ruas jalan milik pemprov ini terputus total. Akhir Desember lalu, ruas jalan telah ditutup secara resmi karena longsor memakan separuh badan jalan.
Warga sekitar Sutarto menyaksikan longsor jalan yang meluas. Ia menyampaikan, sekitar pukul 12.30 kemarin terjadi longsor susulan di bekas titik longsor sebelumnya. Untungnya tidak ada kendaraan yang melewati area itu.
Padahal di hari biasa, walaupun jalan ditutup masyarakat masih melewati area longsor. "Siang tadi (kemarin, Red) hujan deras sejak malam terutama dua jam menjelang siang hari," ucapnya Minggu (5/1).
Pria yang akrab dipanggil Tato ini menyampaikan, hujan lebat menjadi faktor utama longsor semakin meluas. Tanah yang labil juga mempercepat longsoran. Bahkan pascakejadian, muncul air dari bawah tanah sekitar satu meter di bawah aspal. Air itu diperkirakan berasal dari saluran drainasi di bahu jalan.
Selain sifat tanah yang labil, faktor beban kendaraan yang melintas juga mempengaruhi luasan longsor. Pasalnya, sebelum longsor beberapa kendaraan masih melewati area itu.
Seringkali kendaraan bermuatan berat juga menambah amblas bagian jalan. "Sekarang hanya tersisa satu meter dan berpotensi longsor kembali," tandasnya.
Baca Juga: Pegadaian Liga 2: Deltras Taklukkan Gresik, PSKC Cimahi ke Babak 8 Besar
Tato menyampaikan, Jalan Sentolo-Nanggulan terputus total setelah menyisakan satu meter badan jalan. Sehingga, masyarakat akhirnya tidak menggunakan jalan ini. Masyarakat mencari jalan alternatif, karena khawatir longsor kembali ketika melintas.
Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo Taufiq Prihadi menyampaikan terjadi longsor di Jalan Sentolo-Nanggulan. Pihaknya telah melakukan penutupan di jalur itu sejak akhir Desember. "Sudah disiapkan jalan alternatif melalui Gunung Kinjeng," ucapnya.
Ia berharap masyarakat menggunakan jalur laternatif yang disediakan. Lantaran Jalan Sentolo-Nanggulan cukup berbahaya untuk dilewati. Pihaknya juga telah berkordinasi dengan DPUPKP untuk penanganan pascalongsor. (gas/laz)
Editor : Heru Pratomo