CEMAS: Seniman membuat instalasi seni dari sampah muara Sungai Serang.
KULON PROGO - Pemandangan berbeda nampak jelas di Muara Sungai Serang, tepatnya di Timur Pemecah Ombak Pantai Glagah, Kalurahan Karangwuni, Selasa (31/12/2024).
Pasalnya, terdapat puluhan karya seni instalasi yang dipamerkan di sana. Karya seni ini merupakan hasil seniman yang gusar dengan masalah sampah di DIY.
Gerakan bertajuk Daulat Sampah Installation Seniman DIY Art Performance Art ini di prakarsai oleh seniman-seniman asal DIY.
Salah satunya seniman sekaligus inisiator kegiatan, Jajang Kawentar.
Jajang menyampaikan, kegiatan merupakan tanggapan atas isu sampah yang merebak di DIY maupun Indonesia secara umumnya.
Bertepatan dengan tahun baru, acara ini juga sebagai refleksi atas kejadian di tahun 2024.
"Total ada 34 seniman, mereka berasal dari DIY dan Jateng," ucap Jajang, saat ditemui Radar Jogja, Selasa (31/12/2024).
Jajang menyampaikan, partisipasi seniman mengikuti kegiatan ini atas dasar pandangan dan visi yang sama.
Mereka memiliki kekhawatiran dan gusar dengan isu sampah.
Sehingga, kegiatan Daulat Sampah berfokus pada pemanfaatan sampah menjadi karya seni.
Puluhan seniman terlebih dahulu, akan mengumpulkan sampah yang berserakan di muara sungai.
Dengan imajinasi dan kreativitas mereka sampah diolah menjadi karya seni instalasi.
Sebagian besar seniman memanfaatkan sampah organik seperti, bambu, kayu, sabut kelapa, hingga ranting pohon untuk konstruksi utama instalasi.
Sedangkan, sampah anorganik digunakan sebagai ornamen tambahan mempercantik karya seni.
"Sampah di sini kebanyakan organik, jadi kami memanfaatkan untuk bahan utamanya," ucapnya.
Jajang menyampaikan, Daulat sampah bertujuan meningkat kesadaran masyarakat. Pasalnya, masih banyak sampah yang dibuang sembarangan.
Padahal jika dimanfaatkan dengan mengolahnya dapat mengurangi jumlah timbulan sampah.
Daulat Sampah menurutnya sebagai wadah mengkampanyekan isu sampah.
Sekaligus sarana seniman mencontohkan ke masyarakat untuk mengolah sampah sesuai dengan pekerjaan mereka.
Seperti seniman yang memanfaatkan sampah untuk karya seni.
Senada dengan Jajang, Teguh Paino seniman asal Bumi Binangun antusias dengan kegiatan tersebut.
Lantaran, masalah sampah menjadi tanggung jawab semua orang.
Seniman yang bergerak di industri seni dapat memanfaatkan sampah menjadi produk seni yang mampu menarik hati orang.
"Konsep karyanya, berupa instalasi seni gerak dinamis," ucapnya.
Teguh menyampaikan, karyanya memanfaatkan sampah organik dengan sentuhan sampah anorganik.
Dirinya membuat karya seni gerak yang menggunakan bambu, dan ranting yang diikat dengan serat rami.
Pantauan Radar Jogja , terdapat 34 instalasi karya seni.
Seniman sejak pagi hingga sore hari membuat karya mereka dengan menggunakan sampah.
Beberapa seniman menuangkan ide kritisnya dengan memanfaatkan sampah batang pohon.
Karyanya berupa kuburan yang dilengkapi batu nisan bertuliskan "Bumi Bin Alam" menggambarkan kondisi bumi yang mati akibat dipenuhi sampah.
Beberapa seniman juga membuat gubuk beserta boneka manusia di dalamnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva