Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Pernah Ada Normalisasi dan Peninggian Tanggul, 2 Kalurahan di Lendah Jadi Langganan Banjir

Anom Bagaskoro • Minggu, 15 Desember 2024 | 23:03 WIB

 

MELUAP : Personil BPBD melakukan identifikasi dampak luapan air.
MELUAP : Personil BPBD melakukan identifikasi dampak luapan air.
KULON PROGO - Sejak pagi hari masyarakat di Kalurahan Bumirejo dan Jatirejo, Lendah dikagetkan dengan genangan air yang masuk ke rumahnya, Sabtu (14/12).

Genangan air bersumber dari Sungai Puton yang melewati 2 kalurahan tersebut meluap.

Sebenarnya, banjir akibat luapan sungai bukanlah hal baru bagi masyarakat.

Pasalnya, setiap tahun 2 kalurahan ini menjadi langganan banjir.

Kepala BPBD Kulon Progo Taufiq Prihadi membenarkan kejadian luapan air di 2 kalurahan.

Hasil peninjauan BPBD, banjir hasil luapan air sungai tak berdampak meluas hingga k seluruh kelurahan.

Banjir hanya berdampak ke pemukiman dan area persawahan di dekat aliran sungai.

"Wilayah terdampak paling parah di Padukuhan Ngipik dan Dukuh, Kalurahan Bumirejo," ucap Taufiq, Minggu (15/12).

Taufiq menyampaikan, banjir di Kulon Progo relatif bersifat genangan yang merupakan hasil limpahan air sungai.

Banjir tipe ini cenderung surut setelah beberapa jam.

Seperti banjir di Kalurahan Bumirejo dan Jatirejo surut setelah 5 jam menggenang.

Kendati cepat surut, banjir di wilayah Lendah cukup banyak berdampak ke aktivitas masyarakat.

Lantaran, material banjir membawa sampah dan mengganggu masyarakat karena ketinggian mencapai 50 cm.

Bahkan banjir yang berwarna keruh seringkali mencelakai masyarakat yang hendak berpergian.

Pasalnya, masyarakat tidak bisa melihat jalanan maupun selokan yang berada di pinggir jalan.

"Ada 10 rumah terdampak, dan 1 fasilitas umum yaitu sekolah dasar," ujarnya.

Selain berdampak ke pemukiman warga, puluhan hektar sawah juga terendam banjir.

Beberapa tanaman seperti padi tergenang, padahal 1 bulan lagi akan memasuki musim panen. Untungnya, banjir segera surut.

Menurut Taufiq, wilayah Kapanewon Lendah merupakan langganan banjir.

Hal ini terjadi karena infrastruktur irigasi dinilai tak mendukung saat musim hujan.

Saat musim hujan Sungai Puton tak mampu menahan debit air yang berasal dari sungai-sungai kecil. Sehingga, hampir di setiap tahun selalu terjadi banjir.

Sungai yang memiliki lebar bekisar 5 meter ini tak pernah dinomalisasi.

Akibatnya, endapan tanah mengumpul di musim kemarau.

Saat musim hujan endapan mengurangi jumlah debit air yang dapat ditampung sungai. Sehingga air sungai meluap di pemukiman yang terletak di dekat sungai.

"Itu juga perlu peninggian dinding tanggul sungai," ujarnya.

Taufik membeberkan, selain normalisasi untuk mencegah banjir, perlu adanya penambahan dinding tanggul sungai.

Tujuannya untuk menambah volume tampung sungai. Sekaligus mencegah luapan air yang masuk ke pemukiman.

Walaupun telah mengetahui penyebab banjir, pihaknya tak bisa berbuat banyak.

Pasalnya, kewenangan mengurus sungai berada di wilayah Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO).

Pihaknya hanya bisa memastikan penanganan banjir, seperti pemompaan air, dan pemberian bantuan logistik.

Sementara itu, warga terdampak banjir Putra Nur Kayana setuju dengan ungkapan wilayahnya langganan banjir.

Putra menyampaikan, sejak Jumat sore wilayah Lendah telah diguyur hujan. Keesokan paginya langsung terjadi banjir.

"Sudah jadi langganan banjir, tentu mengganggu aktivitas," ucapnya.

Putra menyampaikan, banjir cepat surut setelah menunggu beberapa jam.

Namun, aktivitas masyarakat tetap terganggu. Terutama warga yang hendak berangkat bekerja di pagi hari. (gas)

Editor : Bahana.
#genangan #lendah #Luapan Air #Kulonprogo