Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kekurangan Anggaran BPBD Kulon Progo Terpaksa Kanibal EWS Rusak

Anom Bagaskoro • Jumat, 13 Desember 2024 | 14:50 WIB
Kekurangan Anggaran BPBD Kulon Progo Terpaksa Kanibal EWS Rusak
Kekurangan Anggaran BPBD Kulon Progo Terpaksa Kanibal EWS Rusak

 

KULON PROGO - Upaya BPBD Kulon Progo memitigasi bencana terus dilakukan. Dengan keterbatasan anggaran BPBD melakukan sejumlah perbaikan EWS yang rusak. Mereka melakukan kanibal komponen agar EWS tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

 

Kepala BPBD Kulon Progo Taufik Prihadi mengakui sejumlah personel BPBD berinisiatif mengkanibal EWS. Lantaran, anggaran untuk perbaikan EWS tak bisa ditanggung pemkab. Padahal peran EWS cukup sentral dalam memperingatkan masyarakat akan bahaya longsor.

 

"Keterbatasan anggaran membuat kami melakukan perbaikan seadanya," ucap Taufik, saat ditemui Radar Jogja, Kamis (12/12).

 Baca Juga: HET Gas Melon Naik, Disdag Gunungkidul Antisipasi Kelangkaan saat Libur Nataru

Taufik menyampaikan, terdapat 20 EWS rusak yang telah ditarik kembali ke kantornya. EWS itu merupakan bantuan dari BPBD DIJ tahun 2017 lalu. Fungsi alat ini, untuk mendeteksi adanya pergeseran tanah yang berpotensi menimbulkan tanah longsor.  Biasanya EWS akan dipasang diantara rekahan tanah yang berpotensi mengalami longsor.

 

Secara teknis EWS dipasang dengan menggunakan seling yang mengukur pergerakan ataupun pergeseran tanah. Jika tanah bergeser dalam ukuran 1 mm, EWS akan mendeteksi langsung. Pergeseran lebih dari 1 cm dengan skala destruktif akan memicu EWS membunyikan sirine sebagai tanda potensi tanah longsor.

 

20 EWS yang telah dicopot BPBD diletakkan di beberapa kawasan rawan tanah longsor. Diantaranya Gunung Gajah Kapanewon Kokap, dan sebagian besar di Samigaluh. Kerusakan EWS diakibatkan karena komponen terpapar sinar matahari dan beberapa tertimbun longsor. EWS keluaran tahun 2017 ini, tergolong usang karena metode pembacaan tidak dikomputerisasi. Pada EWS keluaran terbaru, pembacaan dapat dilihat dari komputer yang jauh jaraknya dari titik pemasangan.

 Baca Juga: Dibangun Total dengan Anggaran Rp 73 Miliar, Mal Pelayanan Publik Sleman Resmi Dibuka

"Tambal sulam, komponen yang hidup dipindahkan untuk melengkapi," ucapnya.

 

Taufik menjelaskan, karena tidak ada anggaran pihaknya melakukan perbaikan secara mandiri. Akibatnya, komponen yang rusak tidak langsung diganti. Rata-rata kerusakan komponen berada di CPU, Aki, maupun panel surya. Untuk perbaikan pihaknya memindahkan komponen EWS lain ke EWS yang minim kerusakan. Dengan metode perbaikan seperti EWS dapat fungsikan secara normal. Tetapi karena komponen kanibal, kuantitas EWS berkurang dari 20 unit menjadi 5 unit aktif. Rata-rata kerusakan komponen berada di CPU, Aki, maupun panel surya.

 

Sebenarnya, untuk mengganti komponen EWS berkisar Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta. Sedangkan untuk pengadaan EWS baru diperkirakan membutuhkan anggaran Rp 20 juta hingga Rp 50 juta. Namun, BPBD tidak memiliki anggaran perawatan. Lantaran, selama ini penanganan bencana sudah sangat menyita anggaran.

 Baca Juga: Sedang Panen Ikan Bawal Laut, Nelayan di Pantai Congot Nganggur, Ini Alasannya

"Minimal kami bisa menggunakan sebagian EWS untuk mendeteksi potensi longsor, walaupun jumlahnya sedikit," ucapnya.

 

Taufik menyampaikan, peran EWS tergolong penting. Lantaran, EWS dapat memperingatkan masyarakat untuk menjauhi area dengan sirine yang berbunyi. Pentingnya alat ini juga dirasakan masyarakat, terbukti dengan pengajuan permohonan untuk pemasangan 3 EWS di kawasan rawan longsor. Sayangnya, permohonan itu belum bisa terealisasi akibat minimnya anggaran. (gas)

 

Editor : Heru Pratomo
#rusak #Kulon Progo #kekurangan anggaran #EWS #BPBD #kanibal