KULON PROGO - Musim hujan melanda Bumi Binangun tetnyata cukup banyak berdampak ke sektor pertanian. Salah satunya, komoditas hortikultura terong yang mengalami penurunan kualitas. Selain itu, harga jual komoditas terong juga mengalami penurunan. Akibatnya, beberapa petani terong terpaksa membuang hasil panennya.
Yamidi salah satu petani terong asal Kalurahan Banaran mengeluhkan hal itu. Setiap musim hujan tiba, dirinya selalu menghadapi permasalahan hama yang menggerogoti tanamannya. Serangan hama berdampak banyak ke hasil panennya. "Yang menyerang tanaman berupa hama kutu kebul dan ulat," ucap Yamidi, Senin (9/12).
Yamidi menyampaikan, saat musim hujan memang hama kutu kebul seringkali ditemui. Namun, di tahun ini jumlah temuannya lebih banyak. Dampak dari kutu kebul mempengaruhi kondisi tanaman terong, dan berpotensi mematikan tanaman.
Selain mempengaruhi pertumbuhan tanaman, kutu kebul juga mempengaruhi kuantitas buah terong dalam setiap panennya. Di tahun ini, akibat kutu kebul cukup terasa. Lantaran, di tahun ini Yamidi hanya bisa mendapatkan panen sekitar 70 kilogram. Padahal biasanya, hasil panen bisa mencapai satu kuintal.
Hama ulat juga ditemukan di panennya tahun ini. Ulat sering ditemui menggerogoti buah, dan menghisap bagian sari buah. Dampaknya, kualitas buah terong berkurang. Terlihat dari teksturnya yang berkerut dan warna buah yang cenderung pudar. "Sudah menggunakan beragam pestisida kimia dan nabati tapi tetap tidak berpengaruh," tuturnya.
Yamidi menyampaikan, kejadian serangan hama tak hanya dialami dirinya saja. Beberapa pertanian terong di daerah lain juga terdampak serangan hama sejenis. Padahal upaya petani dalam mengurangi dampak hama telah dilakukan. Seperti penggunaan pestisida kimia, nabati maupun alat perangkap hama. Namun upaya itu tak membuahkan hasil.
Selain kuantitas dan kualitas yang menurun, petani juga mengeluhkan harga komoditas terong. Selama beberapa bulan terakhir komoditas terong terjun bebas. Harga terong yang diambil dari petani berkisar Rp 2.500, padahal harga terendah yang pernah terjadi di sekitar Rp 3.500. Membuat petani tak bisa balik modal, dan menikmati hasil jirih payahnya. "Harga dan kualitas hasil panen rendah, jadi terpaksa dijual," ucapnya.
Akibat harga, kuantitas, dan kualitas panen mengalami penurunan, sebagian petani terpaksa membuah terong panennya. Pasalnya, jika tetap dijual kualitas terong tidak bisa diterima pasar. Sehingga petani lebih memilih membuang hasil panennya. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo