KULON PROGO - Kondisi Pasar Wates di tahun 2024 tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Lantaran, banyak kios dan los yang tak melakukan aktivitas perdagangan.
Pedagang pasar memilih menutup tokonya, karena tak ingin merugi akibat minimnya pembeli.
Masalah ini ditengarai akibat keberadaan pasar pagi.
Salah satu pedagang yang sudah berjualan selama 20 tahun Jaimalis membenarkan hal itu.
Alasan, dibalik sepinya pembeli di Pasar Wates tak lain tak bukan karena keberadaan pasar pagi.
Bahkan sebagian besar pedagang memilih menutup tokonya dengan alasan sepi pembeli.
"Kami sebagai pedagang resmi pasar, merasa sangat dirugikan," ucap Jaimalis, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (6/12/2024).
Jaimalis menjelaskan, keberadaan pasar pagi justru merugikan banyak pedagang.
Pasar pagi memiliki jam operasional dari jam 05.00 WIB hingga 07.30 WIB memang dapat mengundang pengunjung ke pasar.
Namun, karena pasar pagi dibuka di emperan pasar membuat pengunjung tak masuk ke dalam pasar.
Sehingga, pedagang yang menyewa los dan kios tak merasakan dampak dari pasar pagi.
Terkadang pasar pagi juga melebih batas operasional hingga pukul 10.00 WIB.
Kondisi ini semakin menekan pedagang pasar yang merasakan sepinya pembeli. Saking sepinya pembeli, pedagang lebih baik tak membuka kios ataupun losnya.
Lantaran, omset mereka tak cukup untuk membayar retribusi pasar yang terus naik.
"Retribusi naik terus, makanya banyak yang tutup bisa dilihat ada ratusan kios tutup," ujarnya.
Jaimalis menyampaikan, kondisi itu membuat sebagian pedagang kucing-kucingan dengan petugas penarik retribusi.
Beberapa pedagang membuka kios di pagi hari. Namun, saat menjelang siang hari pedagang akan menutup kiosnya.
Lantaran, saat siang hari petugas retribusi akan menarik pungutan.
Padahal penjualan lebih kecil dibanding jumlah retribusi yang harus dibayarkan. Hal itu, dilakukan untuk mencegah kerugian.
Kondisi sepinya pasar, berdampak banyak ke pedagang sayur mayur di area lantai 2 Pasar Wates.
Lantaran, pasar pagi cukup banyak menyerap konsumen komoditas sayur mayur yang seharusnya mampir di lantai 2 saat pagi hari.
Sebagian pedagang lantai 2 mencoba mengambil peruntungan dengan membawa dagangannya dari lantai 2 ke pelataran untuk mengikuti pasar pagi.
Namun usaha mereka sia-sia, tak banyak keuntungan di dapat dari pasar pagi.
"Yang jualan di pasar pagi itu harganya murah-murah, karena mereka tengkulak ambil langsung dari petani," tuturnya.
Jaimalis menjelaskan, kebanyakan pedagang pasar pagi merupakan pedagang dari luar kabupaten.
Mereka merupakan tengkulak yang menjual harga lebih murah.
Seperti tengkulak komoditas sayur yang mendapatkan sayur dari Wonosobo, dengan harga murah dan menjualnya di harga yang lebih rendah dibanding pedagang di pasar wates. Membuat pedagang Pasar Wates tak mampu bersaing.
"Kami merasa dianak tirikan, kami sewa kios, bayar retribusi tapi tidak ada timbal baliknya," ungkapnya.
Menurutnya Pemkab Kulon Progo perlu turun tangan untuk mengatasi masalah ini.
Terutama untuk mengatasi masalah pedagang Pasar Wates yang kehilangan pembeli. Lantaran, jika terus berlanjut pedagang akan lebih memilih mengosongkan kiosnya karena terus menerus merugi.
Sementara itu, Kepala UPT Pasar Wates Siti Rokhayah membenarkan sepinya Pasar Wates. Namun, dirinya membantah keberadaan pasar pagi lah penyebabnya.
Menurutnya, pedagang Pasar Wates perlu menaikkan kelasnya agar bisa bersaing dengan pedagang di pasar pagi.
"Pembeli tentu mencari pasar yang dekat dan lebih murah, sehingga pedagang juga harus bersaing," ujarnya.
Siti menyampaiakan, Pasar Wates tak membatasi asal domisili pedagang.
Sehingga, pedagang dari luar daerah bisa berjualan di area pasar sesuai dengan ketentuan.
Dia berharap agar pedagang asli Pasar Wates dapat bersaing dengan pedagang pasar pagi.
Tentunya dnegan meningkatkan kualitas dagangan dan harga jual yang kompetitif. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva