KULON PROGO - Bencana alam di Bumi Binangun seakan silih berganti. BPBD Kulon Progo pun merasa perlu menerjunkan puluhan alat berat selama seminggu terakhir. Lantaran titik bencana cukup besar, terutama tanah longsor. Salah satunya yang berdampak pada rumah Satiyo di Padukuhan Talun Ombo, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih.
Kepala BPBD Kulon Progo Taufik Prihadi menyampaikan, bencana longsor di Kulon Progo memang banyak terjadi di bagian utara. Selama sepekan telah terjadi beberapa tanah longsor di daerah utara. Salah satunya di Kalurahan Sidomulyo dalam satu titik terjadi satu kali longsoran dan sekali longsoran susulan.
"Untuk Sidomulyo hasil asesment mengarahkan untuk penggunaan alat berat," ucap Taufik saat ditemui Radar Jogja Jumat (22/11/2024).
Ia menyampaikan, bencana longsor di Kalurahan Sidomulyo terjadi karena intensitas hujan tinggi. Terdapat satu rumah warga terdampak longsoran dan jalan desa yang tertutup material. Sehingga, BPBD menyiapkan alat berat untuk membersihkan material longsoran.
Mendatangi lokasi longsor, Radar Jogja menemui Satiyo, pemilik rumah yang terdampak bencana. Dia menyampaikan, longsoran terjadi selama dua kali di hari berbeda. Longsoran pertama pada Rabu (20/11/2024). Saat itu di wilayahnya hujan lebat hingga menyebabkan longsor.
"Longsor pertama cuma kecil. Yang kedua baru materialnya sampai mengenai rumah," ujarnya.
Ia menyatakan, setelah longsor pertama warga berinsiatif melakukan kerja bakti pembersihan material longsoran. Namun hanya berselang hari, sekitar pukul 01.00 Kamis (21/11/2024) terjadi longsor susulan. Material longsoran berupa tanah dan batu langsung menerjang bagian tengah rumah Satiyo.
Longsor susulan tergolang besar dan menyebabkan dampak ke rumahnya serta jalan desa. Lantaran material longsoran memiliki kuantitas banyak dengan didominasi batu berukuran satu meter. Material itu membuat rumah Satiyo yang terbuat dari kayu terdorong.
Gebyok kayu yang menjadi sekat terluar rumah terdorong hingga 75 cm. Untungnya, tiang penyangga rumah miliknya tetap berdiri kokoh dihantam batu. Sehingga rumahnya tidak roboh dihantam longsoran.
"Waktu itu malam, saya dan keluarga tidak tidur. Jadi memang merasakan kalau ada longsoran," tegasnya.
Satiyo menyampaikan, esok harinya sejumlah relawan dan personel BPBD meninjau keadaan longsor. Di hari itu juga rumahnya kedatangan alat berat ekskavator yang digunakan untuk pembersihan longsoran.
Berpotensi adanya longsor susulan, dirinya berinisiatif meminta melakukan pengerukan di bagian tebing. Sehingga, selama dua hari ini ekskavator masih melakukan pengerukan di area rumahnya. (gas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita