Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gapoktan Ngestiraharjo di Kalurahan Ngestiharjo Wates Mampu Swasembada Pangan, Hasilkan Produk Beras Unggulan

Anom Bagaskoro • Minggu, 10 November 2024 | 18:45 WIB

Aktivitas menjemur gabah, petani Kulon Progo.
Aktivitas menjemur gabah, petani Kulon Progo.

 

KULON PROGO - Di tengah pesatnya pembangunan di Kapanewon Wates, ada sebuah wilayah yang mampu berdaya di bidang pertanian. Wilayah tersebut merupakan Kalurahan Ngestiharjo yang menciptakan swasembada pangan ala mereka sendiri. Bahkan Ngestiharjo memiliki produk beras unggulan yang telah dipasarkan di berbagai daerah.

 

Seksi Usaha Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngestiharjo Sahadadi Mulyono menjelaskan, wilayahnya masih banyak memiliki lahan pertanian basah yang terus digarap oleh petani. Meskipun berada di wilayah perkotaan dengan pembangunan masif, lahan pertanian tak pernah terancam. Lantaran, petani Ngestiharjo enggan menjual ataupun mengubah lahan pertanian menjadi pekarangan maupun bangunan.

 

Niat petani untuk tetap bertani dan mengolah masih cukup kuat dirasakan. Pasalnya, petani Ngestiharjo terutama yang tergabung dalam gapoktan merasakan keuntungan dari bertani. Sehingga mereka memilih bertahan dan tetap bertani.

"Tidak ada harga gabah rendah, yang ada kualitas yang gabah rendah," ucap Sahadadi.

 

Sahadadi menyampaikan, naik turunnya harga gabah maupun komoditas beras dipengaruhi kualitasnya. Seringkali gabah milik petani dihargai kurang dari Rp 6 ribu, karena kualitasnya cenderung jelek. Baik dari segi bentuk bulir, hingga kadar air gabah menjadi faktor jeleknya kualitas.

 

Idealnya kadar air dalam gabah kualitas medium dikisaran 13%, sedangkan untuk premium di angka 12%. Petani yang memperoleh harga rendah biasanya memiliki gabah dengan kadar air 15% serta bentuk biji yang tak utuh.

 

"Hasil pertanian pangan di Ngestiharjo semuanya berkualitas tinggi," ucapnya.

Seakan menjadi desa percontohon, produk hasil pertanian pangan Ngestiharjo telah dikenal masyarakat luas. Bahkan di tahun 2018 lalu, Gapoktan Ngestiraharjo mengeluarkan brand Beras Ngestiraharjo yang menyasar pasar kalangan menengah keatas. Mereka menyasar kualitas beras atas, dan menggeser pesaing produsen beras skala industri.

 

Tak hanya menjual produk kualitas terbaik, Gapoktan Ngestiraharjo juga berhasil mensejahterakan petani. Alasannya, gapoktan memberikan berbagai fasilitas.

Photo
Photo

Selain itu, gapoktan bekerjasama dengan petani lokal dengan membeli gabah diatas rata-rata. Saat ini, harga gabah yang ditawarkan gapoktan Rp 6 ribu per kg lebih tinggi dibanding harga yang ditawarkan Bulog. Dengan harga tinggi, tentunya petani enggan beralih profesi, dan mendapat hasil yang lebih optimal.

 

Di balik kisah sukses Gapoktan Ngestiharjo, tentunya ada perjuangan yang melekat. Gapoktan yang berdiri sejak tahun 1998 ini, berdiri atas dasar visi swasembada pangan di kalurahan. Desa Ngestiharjo kala itu fokus pada pengembangan sektor pertanian, dengan orientasi hasil pertanian berkelanjutan. Memiliki potensi lahan basah puluhan hektar, kalurahan fokus dengan pengoptimalan hasil panen.

Tentunya pengoptimalan lahan basah pertanian memerlukan waktu lama untuk mempetoleh hasil terbaik. Keberhasilan pengolahan lahan pertanian tetlihat di tahun 2010. Melalui Gapoktan Ngestiraharjo pertanian mencatatkan hasil panen tertinggi dalam sejarah kalurahan. 

 

Tak puas dengan kondisi itu, Gapoktan dan Kalurahan Ngestiraharjo menggagas pemanfaatan teknologi pertanian. Namun, gagasan ini tak bisa terealisasi dengan mudah, karena keterbatasan anggaran. Gapokton berulangkali mengajukan proposal bantuan. Hingga di akhir 2023, teknologi pertanian berhasil terealisasi, ditandai adanya bantuan alat harvester dai kementerian dan daerah.

 

"Teknologi itu kami manfaatkan untuk menghasilkan panen yang optimal," ucapnya.

Baca Juga: Bawa Tema Pandemic Era, Salvador Dance Crew SMA Bopkri 1 Jogja Masuk Top Five Dance Competition 2024 Honda DBL with Kopi Good Day 2024 D.I. Jogjakarta

Mulai di tahun 2023, gapoktan mulai meningkatkan kualitas panennya. Ternyata, tak selang lama keberhasilan pemanfaatan teknologi pertanian terlihat. Kualitas gabah yang dihasilkan Kalurahan Ngestiraharjo mengalami kenaikan signifikan. Bantuan pemerintah juga terus mengalir dengan munculnya fasilitas pengeringan dan penggilingan padi.

 

Momentum itu, tentunya dimanfaatkan kelompok untuk semakin mrningkatkan kualitas komoditas pangan. Dengan adanya teknologi itu, ratusan petani Ngestiharjo merasakan keuntungan. Pasalnya, mereka bisa memanfaatkan fasilitas pengeringan untuk meningkatkan harga jual beras.

 

"Kami memanfaatkan bantuan dari pemerintah, untuk memberikan manfaat bagi petani," pungkasnya. (gas)

Editor : Heru Pratomo
#swasembada pangan #produk #beras #Kulon Progo #gapoktan #wates #Unggulan