KULON PROGO - Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Wates, Kulon Progo berupaya menciptakan swasembada pangan.
Potensi pertanian di wilayah tersebut terus digali, hingga kini kalurahan tersebut memiliki produk beras unggulan yang telah dipasarkan di berbagai daerah.
Seksi Usaha Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngestiharjo Sahadadi Mulyono menjelaskan, lahan pertanian basah di wilayahnya masih terus dilestarikan dan digarap petani. Meski tak dipungkiri pembangunan terus masif.
Gapoktan Ngestiharjo mencatat, setidaknya ada 695 petani di Kalurahan Ngestiraharjo tergabung dalam gapoktan.
Jumlah tersebut terbagi menjadi 18 kelompok tani dan 4 kelompok wanita tani (KWT).
Sementara luasan lahan pertanian di Ngestiraharjo mencapai 70 hektare.
Menurut Sahadadi, sejauh ini lahan basah masih terlindungi lantaran, petani setempat enggan menjual ataupun mengubah lahan pertanian menjadi pekarangan maupun bangunan.
Mereka memilih bertahan dan tetap bertani terutama menanam padi.
"Hasil pertanian pangan di Ngestiharjo semuanya berkualitas tinggi," ucapnya.
Menurutnya, kualitas gabah dikatakan tinggi apabila kadar air di dalamnya rendah.
Sehingga hal ini mempengaruhi harga gabah anjlok.
"Tidak ada harga gabah rendah, yang ada kualitas yang gabah rendah," ucap Sahadadi.
"Seringkali gabah milik petani dihargai kurang dari Rp 6 ribu, karena kualitasnya cenderung jelek. Baik dari segi bentuk bulir, hingga kadar air gabah menjadi faktor jeleknya kualitas," imbuhnya.
Idealnya, kadar air dalam gabah kualitas medium di kisaran 13 persen.
Sedangkan kadar air dalam gabah kualitas premium di angka 12 Persen.
"Petani yang memperoleh harga rendah biasanya memiliki gabah dengan kadar air 15 persen serta bentuk biji yang tak utuh," lanjutnya.
Sahadadi menceritakan, produk hasil pertanian pangan Ngestiharjo telah dikenal masyarakat luas.
Pada 2018 lalu, Gapoktan Ngestiraharjo mengeluarkan brand Beras Ngestiraharjo yang menyasar pasar kalangan menengah ke atas, skala industri.
Tak hanya menjual produk kualitas terbaik, Gapoktan Ngestiraharjo juga berhasil mensejahterakan petani. Alasannya, gapoktan memberikan berbagai fasilitas.
Gapoktan bekerjasama dengan petani lokal membeli gabah di atas rata-rata.
Saat ini, harga gabah yang ditawarkan gapoktan Rp 6 ribu per kg lebih tinggi dibanding harga yang ditawarkan Bulog.
Dengan harga tinggi, tentunya petani enggan beralih profesi, dan mendapat hasil yang lebih optimal.
Di balik kisah sukses Gapoktan Ngestiharjo, tentunya ada perjuangan yang melekat.
Gapoktan yang berdiri sejak tahun 1998 ini, berdiri atas dasar visi swasembada pangan di kalurahan.
Desa Ngestiharjo kala itu fokus pada pengembangan sektor pertanian, dengan orientasi hasil pertanian berkelanjutan.
Memiliki potensi lahan basah puluhan hektar, kalurahan fokus dengan pengoptimalan hasil panen.
Tentunya pengoptimalan lahan basah pertanian memerlukan waktu lama untuk mempetoleh hasil terbaik.
Keberhasilan pengolahan lahan pertanian tetlihat di tahun 2010.
Melalui Gapoktan Ngestiraharjo pertanian mencatatkan hasil panen tertinggi dalam sejarah kalurahan.
Tak puas dengan kondisi itu, Gapoktan dan Kalurahan Ngestiraharjo menggagas pemanfaatan teknologi pertanian.
Namun, gagasan ini tak bisa terealisasi dengan mudah, karena keterbatasan anggaran. Gapokton berulangkali mengajukan proposal bantuan.
Hingga di akhir 2023, teknologi pertanian berhasil terealisasi, ditandai adanya bantuan alat harvester dai kementerian dan daerah.
"Teknologi itu kami manfaatkan untuk menghasilkan panen yang optimal," ucapnya.
Mulai di tahun 2023, gapoktan mulai meningkatkan kualitas panennya.
Ternyata, tak selang lama keberhasilan pemanfaatan teknologi pertanian terlihat. Kualitas gabah yang dihasilkan Kalurahan Ngestiraharjo mengalami kenaikan signifikan.
Bantuan pemerintah juga terus mengalir dengan munculnya fasilitas pengeringan dan penggilingan padi.
Momentum itu, tentunya dimanfaatkan kelompok untuk semakin mrningkatkan kualitas komoditas pangan. Dengan adanya teknologi itu, ratusan petani Ngestiharjo merasakan keuntungan. Pasalnya, mereka bisa memanfaatkan fasilitas pengeringan untuk meningkatkan harga jual beras.
"Kami memanfaatkan bantuan dari pemerintah, untuk memberikan manfaat bagi petani," pungkasnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva