Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Joko Triyanto Lestarikan Jemparingan dengan Produksi Alat-Alat Panahan di Kulon Progo, dari Otodidak Kini Buka Les untuk Menarik Minat Kaum Muda

Anom Bagaskoro • Rabu, 9 Oktober 2024 | 15:45 WIB

 

 

GAYA MATARAMAN: Joko Triyanto membuat peralatan jemparingan di bengkel kerjanya, Padukuhan Ngulakan, Hargorejo, Kokap Selasa (8/10/2024).
GAYA MATARAMAN: Joko Triyanto membuat peralatan jemparingan di bengkel kerjanya, Padukuhan Ngulakan, Hargorejo, Kokap Selasa (8/10/2024).

KULON PROGO - Eksistensi jemparingan atau panahan versi Mataraman terus dilestarikan oleh berbagai pihak, mulai pemain hingga perajin. Joko Triyanto, 53, menjadi salah satu pelestari olahraga ini dengan memproduksi busur jemparingan.

Hobi bisa membawa rezeki. Itulah yang diucapkan Joko Triyanto kepada Radar Jogja saat berkunjung di rumah produksi Jemparingku, Padukuhan Ngulakan, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Selasa (8/10/2024). Berawal dari hobi panahan, ia justru berkembang menjadi perajin busur khas Mataraman, dan menjadi satu-satunya di Kulon Progo.

 "Tidak menyangka, karena dulu hanya suka olahraga panahan dan berlanjut dengan jemparingan," ucap Joko.

 Ia menjelaskan, sebelum menjadi perajin busur jemparingan dirinya hanya menaruh minat pada olahraga panahan. Berjalannya waktu, ketertarikannya pada budaya jemparingan yang mirip dengan olahraga panahan pun tumbuh. Lantaran, Joko menganggap budaya jemparingan memiliki nilai luhur yang memberikan filosofi berupa nasihat. Seperti kesabaran, sunah Rasullullah, dan hal-hal lain yang tak dapat ditemui di olahraga konvensional lainnya.

 Berangkat dari situ, Joko mulai mempelajari jemparingan hingga menjadi ahli jemparingan. Namun lambat laun ia mulai memikirkan nasib budaya jemparingan. Pasalnya, saat itu jemparingan belum banyak dikenal oleh masyarakat, terutama di Kulon Progo. Prihatin dengan kondisi itu, ia mulai memutar otak agar dapat mengenalkan olahraga jemparingan ke khalayak umum. Berbagai kegiatan telah dilakukan, namun tak kunjung ada perkembangan minat pada jemparingan.

Joko akhirnya menelisik alasan di balik tak berkembangnya jemparingan. Usut punya usut, tak berkembangnya jemparingan diakibatkan oleh masyarakat yang kesulitan mendapatkan perlengkapan pokok jemparingan. Ditambah presepsi masyarakat mengenai jenis olahraga panahan yang memakan banyak biaya, semakin membuat jemparingan ditinggalkan banyak orang.

Menanggapi hal ini, Joko mulai mempelajari pembuatan alat jemparingan seperti busur dan anak panahnya. Berulang kali dirinya mencoba membuat busur yang layak dipakai, namun berulangkali gagal juga. Hingga di titik dirinya mendapatkan rumus yang tepat dalam membuat busur.  "Otodidak membuatnya. Belajar dari buku, terus dipraktikkan hingga berhasil," ucapnya.

Setelah menemukan proses pembuatan perlengkapan jemparingan, ia memutuskan membuat rumah produksi alat-alat jemparingan di samping rumahnya pada 2014 silam. Joko mulai memproduksi busur (gandewa), anak panah (deder dan bedor), serta bandulan.

Bermodal uang pribadi, Joko menjalankan bisnis perajin alat jemparingan diniatkan untuk melestarikan kebudayaan. Ia tak mematok alat jemparingan dengan harga mahal, terutama bagi kaum muda dan anak sekolah. Lantaran kaum muda dan anak sekolah merupakan target untuk menjadi penarik animo masyarakat terhadap jemparingan. Sekaligus melalui anak muda, jemparingan dapat dilestarikan ke generasi selanjutnya.

"Dibuat murah supaya tertarik. Bahkan kalau ada yang berminat bisa belajar langsung ke sini tanpa harus bawa busur dulu," ucapnya.

Berkat hal itu, jemparingan mulai banyak dikenal oleh masyarakat Kulon Progo. Perjuangan Joko sebagai perajin alat jemparingan juga diapresiasi Pemkab Kulon Progo melalui berbagai penghargaan.

Tak puas dengan itu, Joko terus berupaya melestarikan jemparingan dengan mengajak kaum muda dalam berkegiatan. Dirinya bahkan membuka les dan kegiatan pengenalan jemparingan di kelompok masyarakat. Langkah itu membuahkan hasil, terbukti di Kulon Progo jemparingan mulai dikenal dan banyak digemari.

"Sampai sekarang kami terus melakukan produksi, mengajar, dan mengenalkan jemparingan," pungkasnya.

 Joko menyampaikan, dirinya tak ingin berpangku tangan setelah melihat perkembangan jemparingan. Sebagai pemain sekaligus perajin, Joko tetap memproduksi alat jemparingan dengan harga murah, seperti busur yang dihargai Rp 300 ribu, dan anak panah ratusan ribu rupiah per lusin.

Selain itu, Joko mulai mengajak berbagai pihak untuk mempelajari produksi kerajinan alat jemparingan. Ilmu yang ia dapatkan, terus digetoktularkan. Tujuannya, tak lain untuk melestarikan budaya jemparingan. (gas/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Kulon Progo #Jemparingku #Hargorejo #rumah produksi #JEMPARINGAN #kokap #Busur