Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Greensteria, Ajak Ibu-Ibu Rumah Tangga Olah Sampah, Gelar Pelatihan Gratis, Rogoh Kocek dari Kantong Sendiri

Anom Bagaskoro • Jumat, 4 Oktober 2024 | 15:45 WIB

 

MAGGOT: Kaum Muda Greensteria memperlihatkan bentuk maggot kepada ibu-ibu rumah tangga dalam pelatihan mengolah sampah.
MAGGOT: Kaum Muda Greensteria memperlihatkan bentuk maggot kepada ibu-ibu rumah tangga dalam pelatihan mengolah sampah.

RADAR JOGJA - Persoalan sampah belum juga teratasi secara tuntas di DIJ karena banyaknya tempat pembuangan akhir (TPA) yang tak bisa menampung lagi. Menanggapi masalah ini, kaum muda yang menyebut dirinya sebagai Greensteria mengajak ibu rumah tangga mengolah sampah rumahan.

 

Bertempat di Pendopo Lapangan Sanggrahan, Kalurahan Brosot, ibu rumah tangga nampak berkumpul dengan membawa barang bekas dan sampah organik dari rumah. Mereka membawa barang itu untuk keperluan mengikuti pelatihan yang diadakan Greensteria.

Kelompok ini mencoba mengedukasi masyarakat mengenai pengolahan sampah dari hulu yang terpusat pada sampah rumah tangga. Ketua Tim Greensteria Andini Lestari menyampaikan, kesengajaan mereka melakukan edukasi ke ibu rumah tangga.

"Kami memang sengaja menyasar ibu rumah tangga, karena mereka memiliki peran besar," ucap Andini saat ditemui Radar Jogja beberapa waktu lalu (10/9).

Baca Juga: Ratusan Anak Ramaikan Gebyar PAUD Kulon Progo 2024, Latih Anak Cinta Seni Budaya

Baca Juga: Tak Bisa Menang atas Persijap, Seto Sebut Hanya karena PSIM Yogyakarta Tak Dinaungi Keberuntungan

Andini menjelaskan, peran ibu rumah tangga sangat penting dalam menanggulangi timbulan sampah. Lantaran ibu rumah tangga seringkali mengurus masalah sampah yang ditimbulkan dari rumah. Diharapkan melalui pelatihan dapat memberikan wawasan mengenai pengolahan sampah anorganik.

Peserta pelatihan diajari cara membudidayakan maggot rumahan, dari sejak pembibitan, pengolahan sampah, hingga masa panen. Maggot sendiri merupakan hewan yang mampu mengurai sampah organik, yang dapat membantu dekomposisi sampah rumahan, seperti nasi basi, potongan sayur, maupun sisa makanan.

Menurutnya, jika sampah organik dapat diolah dan tak masuk ke TPA, dapat memberikan efek baik. Lantaran sampah organik memberikan sumbangan gas metana di TPA.

Jika gas metana memanas akan mengakibatkan kebakaran pada TPA seperti kebakaran yang melanda beberapa TPA beberapa waktu lalu. "Maggot juga punya nilai ekonomis tinggi," ungkapnya.

 Andini menjelaskan, timnya sengaja mengangkat maggot karena memiliki nilai ekonomis jika dibudidayakan. Maggot dapat diperjualbelikan sebagai komoditas pakan ternak maupun dekomposer alami. Dengan budi daya yang baik, ibu rumah tangga dapat memanfaatkan magot untuk menambah perekonomian keluarga.

Sebenarnya agenda pelatihan yang mereka lakukan merupakan rangkaian kegiatan kelompoknya. Mereka memiliki visi mengajak masyarakat dalam mengolah sampah dari hulu hingga hilir. Yang mana sebagai kaum muda ingin memberikan kontribusi terhadap masyarakat secara langsung.

Baca Juga: Persiba Bantul Mulai Seleksi Pemain untuk Persiapan Menghadapi Liga 3 Musim 2024-2025

Baca Juga: Manajemen PSS Belum Berani Depak Wagner Lopes, Beralasan Menghargai Kontrak sang Pelatih

Kelompok yang beranggotakan 10 orang ini merupakan lulusan program Green Leadership Indonesia. Program ini bertujuan menciptakan kaum muda yang memiliki pandangan keadilan sosial dan ekologis. Tentunya program yang dilakukan sama sekali tak dipungut biaya alias gratis.

Justru kelompok ini rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk mendanai setiap programnya. Padahal Grinsteria beranggotakan mahasiswa yang terkadang memiliki kendala finansial. Misal dalam kegiatan pelatihan magot, Greensteria membuat rumah magot yang nantinya menjadi pusat budi daya maggot di Kalurahan Brosot.

Sementara itu, peserta pelatihan Suryani mengapresiasi langkah ini. Lantaran pengolahan sampah menggunakan maggot di lingkungannya tidak pernah dilakukan. Biasanya sampah rumah tangga dibuang di sembarang tempat. "Baru tahu ada maggot untuk mengurai sampah dan bisa dijual," katanya.

Suryani menjelaskan, pelatihan yang dilakukan dapat membuka wawasan mengenai pengolahan sampah. Sampah ternyata memiliki nilai ekonomis tinggi jika diolah dengan benar. Setidaknya dengan itu dapat mengurangi sampah rumah tangga, sekaligus memberikan tambahan pemasukan bagi keluarga. (laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#DIJ #Kulon Progo #persoalan sampah #ibu rumah tangga #tpa #Sampah #Sanggrahan #Brosot