RADAR JOGJA - Dukuh Bantarjo, Kalurahan Banguncipto Udjik Sudaryati tak hanya luwes dalam menangani urusan masyarakat. Ia juga cekatan dalam urusan bisnis, terutama soal kerajinan berupa tenun. Dilandasi keinginan melestarikan budaya tenun turun-temurun, ia mengangkat pamor tenun hasil produksi dengan alat tenun bukan mesin (ATBM).
Lahir dan besar di Kalurahan Banguncipto, Udjik telah mengenal tenun sebagai produk asli desanya. Sejak dahulu kala, Banguncipto telah dikenal sebagai sentra industri tenun ATBM dengan berbagai produk yang dihasilkan. Mulai kain surjan hingga stagen, semua dibuat dengan cara manual, memanfaatkan ATBM.
Lambat laun akibat teknologi mesin tenun yang semakin maju, membuat produk tenun ATBM ditinggalkan pasar. Masyarakat yang dahulunya perajin tenun, berubah meninggalkan pekerjaan penenun. Pasalnya, produk tenun manual cenderung lebih mahal serta memakan banyak waktu produksi.
"Masyarakat di sini sudah mengenal tenun, sayang jika ditinggalkan tradisi itu," ucap Udjik saat ditemui Radar Jogja Selasa (1/10/2024).
Ia menyampaikan, kegiatan menenun telah menjadi aktivitas rutin masyarakat. Sehingga bisa disebut sebagai tradisi turun-temuran yang perlu dilestarikan. Dari situlah Udjik mencoba menghidupkan kembali budaya menenun dengan berbagai macam cara.
Di tahun 2016, Udjik mulai mencari ibu-ibu yang terbiasa menenun dan membuat kelompok Tenun Bantarjo. Setelah itu ia mencoba mengakses bantuan dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), baik di kabupaten maupun provinsi untuk mengembangkan usaha produksi tenun ATBM.
Untungnya, langkah Udjik disambut baik dengan munculnya pemberian bantuan berupa sarana ATBM. Pada tahun itu, Tenun Bantarjo resmi diproduksi. Namun, langkah usaha mereka terganjal akibat tak bisa memasarkan produk. Selama dua tahun, usaha Tenun Bantarjo tergolong tak mengalami peningkatan. Lantaran terus melakukan produksi tenun, tetapi tak dipasarkan karena minim peminat. "Produk menumpuk, tidak bisa terjual," ucapnya.
Melihat kondisi itu, dirinya tak pantang menyerah. Bahkan untuk memaksimalkan penjualan, produk berupa kain tenun dibuat berbagai produk siap pakai seperti dompet. Berkat keuletan dan kesabarannya, perlahan usahanya mengalami peningkatan. Dengan penjualan produk tenun yang terus mengalami peningkatan.
Tak sampai situ, munculnya pergub yang mengatur penggunaan surjan bagi ASN di DIJ membuat produksi tenun kebanjiran order. Surjan yang terbuat dari kain lurik, kebanyakan terbuat dari tenun ATBM. Sehingga, usahanya kian tumbuh berkat momentum itu. "Sejak kewajiban pemakaian surjan, permintaan mengalami peningkatan," tuturnya.
Udjik menjelaskan, momentum itu terus dimanfaatkan, hingga membuat usahanya terus bertumbuh. Ada 20 pekerja ibu rumah tangga yang memproduksi tenun ATBM. Setiap bulannya pekerja mampu menghasilkan puluhan kain tenun tergantung ukurannya.
Berkat itu, banyak ibu rumah tangga merasakan manfaatnya. Lantaran mereka dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk memproduksi tenun sebagai tambahan penghasilan keluarga.
Tak puas dengan capain itu, Udjik terus berinovasi dengan mengoptimalkan produk hasil tenun. Dirinya telah mengembangkan puluhan produk berbahan tenun seperti surjan, syal, dompet, tas, hingga dress berbahan tenun.
Ia tak hanya memiliki keluwesan dalam mengelola bisnis. Dirinya juga memiliki kepekaan dalam menangkap peluang. Terlihat saat tren tenun serat agel terus mendapat perhatian di masyarakat, dirinya mulai memproduksi tenun serat agel. Bahkan muncul produk baru sperti tas dan dekorasi dari serat agel hasil produksi kelompoknya. (gas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita