KULON PROGO - Dampak kemarau panjang masih dirasakan masyarakat Kulon Progo. Bahkan lebih parah dari tahun sebelumnya. Terdapat ratusan titik daerah kekeringan yang berasal wilayah dataran tinggi di Perbukitan Menoreh. Akibat situasi ini, BPBD Kulon Progo bekerja keras dalam menyalurkan air bersih ke masyarakat yang membutuhkan.
"Lebih parah dari tahun sebelumnya, ada 120 titik kekeringan yang tersebar di enam kapanewon," ucap Komandan TRC BPBD Kulon Progo Sunardi Senin (30/9/2024).
Kekeringan yang melanda Bumi Binangun dianggap parah dari tahun sebelumnya, bukan hanya dari jumlah titik kekeringan. Namun, dampak kekeringan yang benar-benar terasa. Daerah utara sebagai contohnya, banyak pamsimas, dan sumur yang dikelola warga mengalami kekeringan. Ditambah, beberapa wilayah yang mengeluhkan air PDAM yang keruh akibat debit air Waduk Sermo yang kian menurun.
Sunardi menjelaskan, secara berurutan kapanewon terdampak kekeringan paling banyak yaitu, Kapanewon Kokap, Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang, Pengasih, dan Panjatan. Kapanewon Kokap menjadi wilayah terdampak paling banyak dengan 40 titik kekeringan.
Hitungan titik ini, didasari dengan lokasi pendistribusian air. Terkadang dalam satu kalurahan terdapat puluhan titik kekeringan, yang tersebar dalam lingkup RT atau padukuhan. Sebagai contohnya di Kalurahan Kalirejo, Kokap terdapat delapan titik distribusi air. Setiap titiknya membutuhkan air 5.000 liter, dan dikirimkan secara berkala. "Titik kekeringan semakin hari semakin bertambah, sedangkan jumlah mobil tangki cuma tiga armada," ujarnya.
Pria yang kerap dipanggil Mbah Banser ini mengutarakan, daftar tunggu antrian pendistribusian yang semakin lama. Lantaran, terbatasnya armada membuat satu titik pendistribusian perlu menunggu sekitar 10 hari untuk mendapatkan pasokan air bersih kembali.
Dengan tiga armada milik BPBD, dinsos, dan PMI, setiap hari melakukan enam kali pedistribusian air. Faktor jalan terjal menjadi salah satu penghambat pendistribusian. Terutama daerah perbukitan tanpa aspal. Sehari, satu armada hanya bisa mendistribusikan di satu tempat. "Kami sudah menjadwalkan penambahan armada, untuk mengurangi jeda waktu distribusi," tuturnya.
Meski kekeringan parah, beberapa daerah langganan kekeringan justru tak mengalami kekeurangan air bersih. Lantaran wilayah tersebut sudah melakukan mitigasi bencana kekeringan. Berupa rehabilitasi mata air, yang membuat air bersih masih terus dapat diakses masyarakat.
Sementara itu, Lurah Sidomulyo Suprijanto membenarkan hal itu. Di tahun sebelumnya, kekeringan hanya melanda tiga padukuhan di kalurahnnya. Namun di tahun ini ada sekitar lima padukuhan yang mengeluhkan kekeringan. "Dampaknya banyak dirasakan masyarakat, karena kebutuhan air bersih tidak dapat ditunda," ujarnya.
Suprijanto menjelaskan, daerah yang sebelumnya tak pernah mengalami kekeringan justru mengalami kekeringan parah. Lantaran, sumber mata air serta sumur dangkal yang biasa digunakan warga kering. Warga beberapa kali sempat mengajukan proposal ke pihak terkait. Namun, kebutuhan dan distribusi belum mencukupi jumlah yang diinginkan warga. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita