KULON PROGO - Seniman asal Kulon Progo Teguh Paino memiliki cara sendiri untuk menanggapi isu lingkungan. Terutama soal sampah yang terbawa aliran Sungai Progo hingga memenuhi Pantai Trisik. Sampah pun diolah menjadi karya seni dan layak dinikmati.
Menggunakan alat seadanya di galeri seni miliknya, Teguh melakukan rutinitasnya memilih cumplung hasil berburu di pesisir pantai. Cumplung yang merupakan tempurung kelapa berlubang akibat dimakan tupai, dipilihnya untuk menjadi sebuah karya seni.
Jari-jemarinya dalam mengubah sampah menjadi karya seni, seakan sudah terbiasa. Bahkan dalam satu hari Teguh berhasil membuat karya seni yang disebutnya sebagai Boneka Cumplung itu. Boneka yang memiliki konsep seperti wayang ini terbuat dari cumplung kelapa, iratan bambu, bambu kecil, dan sampah plastik yang telah dirangkai.
Penggunaan tali kenur semakin menambah keunikan boneka ini. Pasalnya, boneka dapat dimainkan bak wayang kulit, dan diputar di bagian kepalanya yang terbuat dari cumplung. "Sebenarnya boneka sudah lama, tetapi kemarin diikutkan lomba di World Water Forum dan mendapat juara tiga," ungkapnya saat ditemui Radar Jogja Selasa (24/9/2024).
Ia menjelaskan, antusiasnya dalam mengolah sampah menjadi barang seni dilakukan untuk menanggapi isu lingkungan. Melihat daerah muara Sungai Progo yang selalu dipenuhi sampah, menjadi pemicu dirinya membuat boneka cumplung. Daerah muara, tepatnya di kawasan Pantai Trisik, selalu menghadapi masalah tahunan yaitu sampah yang menumpuk.
Sampah itu lalu dikumpulkan dan dibuat menjadi berbagai karya seni instalasi. Termasuk, boneka cumplung yang telah dibuat sejak awal tahun lalu. Sebenarnya boneka itu tidak diniatkan untuk mengikuti lomba. Namun entah kenapa dirinya tertarik dengan konsep lingkungan yang dibawa di World Water Forum. Sehingga, ia mendaftarkan Boneka Cumplung sebagai karya seni dari sampah.
Teguh justru kaget, karyanya mendapatkan respons luar biasa dari dunia internasional. Boneka Cumplungnya berhasil menyabet Juara 3 Kategori 3D Sayembara Karya Seni dari Sampah, mengalahkan pesaingnya dari negara-negara lain. Boneka Cumplung diberikan judul Fragmentasi Figur-Figur ini, dinarasikan sebagai pemanfaatan sampah yang mengganggu ekosistem di muara sungai dan menghambat aliran sungai.
"Pada dasarnya terinspirasi dari mainan anak kecil, tradisi Nini Thowok, jailangkung, dan wayang golek," ucapnya.
Selain isu lingkungan, Boneka Cumplung memiliki makna yang menggugah hati, karena terinspirasi dari tradisi Nini Thowok, mencoba menakuti anak-anak yang nakal di zaman dahulu. Menyiratkan sampah yang tak diolah kembali justru memiliki dampak pada kerusakan ekosistem.
Alumni FSR ISI 2001 ini menyampaikan, ke depan akan terus mengembangkan Boneka Cumplung dengan menambah figur-figur baru. Tujuannya untuk mementaskan seperti pertunjukan wayang kulit. Tentu dengan lakon yang mengangkat isu lingkungan, dan kritik sosial berbalut candaan.
Teguh menuturkan, selain memenangkan lomba, Boneka Cumplung telah mengikuti berbagai pameran. Selama dua bulan penuh, boneka ciptaannya dipajang di YIA. Boneka ini mendapat apresiasi dari pengunjung bandara, terutama yang memahami proses serta makna di balik boneka tersebut.
Ia juga sempat membawa Boneka Cumplung untuk diikutkan dalam Pameran Experimental Art yang digelar beberapa waktu lalu. Bahkan dirinya juga memasang instalasi seni khusus yang terbuat dari sampah organik pohon kelapa, membuat karyanya banyak dikunjungi. Lantaran sangat menarik mata jika dipadukan berbagai ornamen dengan pencahayaan. (gas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita