KULON PROGO - Rencana Pemkab untuk membangun Terminal Ekspor di Kapanewon Sentolo segera terealisasi.
Progres realisasi saat ini telah mencapai tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED).
Keberadaan terminal ekspor diharapkan menjadi penaung UMKM di Kulon Progo dalam menyalurkan produknya hingga mancanegara.
"Segera terealisasi, dan saat ini sedang penyusunan DED," ucap Kepala Dinas Penanaman Modal, dan Perizinan Terpadu (DPMPT) Kulon Progo Heriyanto, saat dihubungi Radar Jogja, Senin (16/9/2024).
Heri menuturkan, Terminal Ekspor merupakan tempat menampung produk UMKM yang memenuhi syarat untuk di ekspor.
Munculnya ide pembuatan terminal, berawal saat melihat produk UMKM asli Kulon Progo yang banyak di ekspor.
Namun nyatanya selama ini sebelum di ekspor, produk justru dikumpulkan di kabupaten lain terlebih dahulu untuk dikemas dan kembali ke Kulon Progo saat hendak dikirimkan melalui penerbangan Yogyakarta International Airport (YIA).
Melihat fenomena ini, DPMPT dan Disdagin mencoba mengkaji pembuatan terminal ekspor.
Tujuannya menampung kebutuhan ekspor, serta menjadi wadah pengembangan UMKM untuk memperluas jangkuan pasar.
"Tidak bekerjasama dengan investor, pengelolaannya oleh pemda," ujarnya.
Perihal pembangunan dan pengelolaan akan dilakukan oleh pemkab, dengan pembiayaan melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Sedangkan, untuk pengelolaan terminal ekspor akan ditangani kelembagaan UMKM yang akan segera dibentuk.
Dalam mendukung keberadaan terminal ekspor, DPMPT juga menggandeng calon mitra kerja dari perusahaan ekspedisi raksasa, PT. Samudera Indonesia.
Petusahaan ini diharapkan dapay membantu penyiapan SDM ekspor, mencari buyer, serta memperkenalkan prosedur ekspor ke UMKM.
Sementara itu, Kepala Bidang Cipta Karya DPUPKP Kulon Progo Yuniar Wibowo menjelaskan, pihaknya diberi mandat dalam penyusunan DED.
Sebenarnya, penyusunan DED telah dilakukan beberapa waktu lalu. Namun karena perlu penyesuaian anggaran, akhirnya dilakukan revisi.
"Dari DED, pembangunan Terminal Ekspor berkisar Rp 10 miliar," singkatnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva