KULON PROGO - Rekayasa lalu lintas yang berada di Teteg Kulon Wates dikeluhkan masyarakat, karena menimbulkan kemacetan.
Terutama saat pagi dan sore hari, maupun di jam-jam sibuk lainnya.
Lantaran, di Teteg Kulon terdapat perlintasan kereta api dengan jalan penghubung antara wilayah Wates utara dan selatan.
Sebelumnya, Teteg Kulon tak dikeluhkan masyarakat.
Keluhan masyarakat muncul setelah adanya rekayasa lalu lintas yang melarang pengendara berbelok kanan menuju perlintasan dari arah barat Jalan Tentara pelajar, maupun dari arah timur Jalan Muh Dawam.
"Kalau dari RSUD Wates (Jalan Tentara Pelajar), dilarang untuk berbelok kanan harus memutar di Alwa," ucap Aris Sahid Hermawan, saat ditemui Radar Jogja pada program sapa warga beberapa waktu lalu.
Aris menjelaskan, rekayasa lalin yang diterapkan di Teteg Kulon justru tak efektif.
Lantaran, pengguna jalan mencari efisiensi waktu perjalanan.
Jika pengguna dipaksa berputar di titik yang cukup jauh seperti di Alun-Alun Wates (Alwa), mereka membutuhkan waktu tambahan 5 menitan.
Diperparah saat pagi hari, Alwa seringkali mengalami kepadatan pengendara.
Ditambah dengan perlintasan kereta yang frekuensinya cukup banyak setiap paginya.
Baca Juga: Satu Pekan Gempa Jogja, 107 Bangunan Rusak Paling Banyak Gunungkidul, Begini Rinciannya
Sehingga, disamping harus memutar jauh, saat ada kereta pengendara perlu berhenti dan menimbulkan kemacetan.
"Pengendara terpaksa melanggar rambu, karena mengincar efisiensi," ujarnya.
Dari pengamatannya, pengguna Jalan Tentara Pelajar yang berasal dari arah barat secara langsung akan memilih belok kanan, walaupun sadar tindakannya melanggar aturan.
Sebenarnya terdapat opsi lain dari arah barat bisa melewati Teteg Tambak.
Namun, jalur ini juga mengalami kemacetan saat pagi hari. Sehingga pengguna jalan tetap memilih melewati Teteg Kulon.
Saat sapa warga, Aris mengusulkan adanya pembangunan untuk underpass maupun flyover.
Langkah ini lebib ideal dibanding harus menggunakan rekayasa lalu lintas di Teteg Kulon
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kulon Progo Ariadi membenaekan perihal rekayasa lalu lintas di Teteg Kulon.
Berbeda dengan Aris, menurutnya kemacetan di Teteg Kulon justru terjadi akibat pengguna jalan yang melanggar arahan rambu-rambu.
"Disitu tidak boleh belok kanan, kalau belok kanan malah ada penumpukan kendaraan penyebab macet," ucapnya, saat dikonfirmasi Radar Jogja, Senin (2/9/2024).
Ariadi menuturkan, penumpukan akibat pengguna jalan yang melanggar aturan menyebabkan macet.
Pengguna jalan diharap dapat mematuhi aturan, agar tak terjadi penumpukan di jalan.
Pihaknya setiap tahun, selalu mengevaluasi kepadatan arus lalu lintas.
Jika arus lalu lintas mengalami kepadatan, pihaknya melakukan kajian untuk mencari solusi.
Solusi bisa berupa rekayasa lalu lintas maupun pelebaran jalan.
Namun, untuk kasus kepadatan di teteg kulon, masih bisa tertangani.
Lantaran, kepadatan hanya terjadi di satu titik akibat pelanggaran pengguna jalan. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva