RADAR JOGJA - Beroperasinya Yogyakarta International Airport (YIA) ternyata tak memberikan dampak pada peningkatan kunjungan. Parahnya hotel berbintang mengeluhkan rendahnya nilai okupansi akibat jumlah kunjungan yang minim. Jika hal ini terus terjadi, dikhawatirkan investor enggan masuk untuk berinvestasi di Bumi Binangun.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kulon Progo Sumantoyo membenarkan perihal fenomena itu. Menurutnya, semenjak beroperasinya YIA tidak ada dampak signifikan kenaikan angka okupansi hotel di Kulon Progo. Nilai okupansi hotel di Kulon Progo hanya berada di 20-40 persen.
Bahkan hotel berbintang, yang ada setelah YIA, sengaja menggunakan manager berpengalaman untuk meningkatkan jumlah kunjungan. Namun, upaya tersebut sama sekali tak membuahkan hasil. "Ini terjadi karena Kulon Progo hanya dijadikan sebagai transit," ucap Sumantoyo, pada Radar Jogja Senin (26/8).
Pengguna layanan penerbangan yang turun di YIA sama sekali tak memiliki niatan untuk berkunjung ataupun menetap sejenak di Kulon Progo. Lantaran, tak banyak pilihan tempat untuk menghabiskan waktu di Bumi Binangun.
Selain itu, kemudahan akses menuju Kota Jogja dan Sleman menjadi salah satu faktor memperburuk fenomena ini. Adanya kereta api bandara, shuttle bus, dan jalan nasional membuat pengunjung langsung berpindah dari Kulon Progo ke daerah lain. "Kalau dibiarkan seperti ini, akan membuat kapok investor untuk berinvestasi di Kulon Progo," ucapnya.
Rendahnya nilai okupansi hotel, tentunya akan berdampak pada iklim investasi. Investor bisa saja tak percaya dengan market investasi di Kulon Progo. Lantaran, investasi yang sudah berjalan sama sekali tak berkembang.
Terlebih nilai untuk berinvestasi di Kulon Progo tergolong tinggi. Lantaran harga jual tanah yang melambung tinggi. Tak sebanding dengan akses perekonomian lain, seperti mal, kawasan industri, maupun kawasan perumahan. Sehingga, bagi investor yang berpengalaman menganggap kondisi ini cukup riskan, karena memiliki risiko tinggi.
Sumantoyo menjelaskan, pihaknya sebenarnya telah berupaya mengatasi rendahnya nilai okupansi. Di tahun 2022, pihaknya mengusulkan adanya regulasi yang mengatur penggunaan hotel lokal bagi peserta kunjungan kerja pemerintahan.
Regulasi ini, mengatur setiap kunjungan kerja plat merah diharuskan menetap di hotel wilayah Kulon Progo. "Sudah diajukan tetapi belum diproses, harapannya bisa direalisasikan," ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) Kulon Progo Heriyanto mengaku mendapatkan curhatan dari manager hotel karena sepinya kunjungan. Diakuinya, keberadaan YIA cukup banyak berdampak pada investasi di Kulon Progo. Terutama saat pembangunan YIA, yang mampu menarik dana investasi triliunan selama tiga tahun berturut-turut.
Namun, lanjutnya, secara bertahap arus investasi mengalami penurunan hingga tahun lalu hanya berkisar ratusan miliar. "Kalau terus dibiarkan seperti ini, akan membuat investor menarik investasinya," ujarnya. (gas/eno)
Editor : Satria Pradika