RADAR JOGJA - Tak memiliki pengalaman di dunia batik, tak membuat Hanang Mintarta minder untuk mengembangkan bisnisnya. Melalui usaha kerasnya, Hanang berhasil mengembangkan batik lukis yang mampu menembus pasar Internasional. Apa kiatnya?
"Sama sekali tidak memiliki basic batik, basic saya justru seni lukis," ucap Pemilik Batik Banyu Sabrang Hanang Mintarta, saat ditemui Radar Jogja, Selasa (27/8).
Hanang yang merupakan lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Bugisan hanya memiliki kemampuan melukis. Usai lulus sekolah dirinya sempat bekerja di perusahan lokal DIJ. Namun, karena tak menikmati pekerjaannya Hanang akhirnya keluar dan memutuskan membuat usahanya sendiri sekitar 2014.
Saat itu mulai membuka usaha bernama batik Banyu Sabrang. Kala itu, batiknya belum banyak diminati masyarakat. Bahkan uang hasil penjualan tak mampu mencukupi kebutuhan operasional, membeli bahan baku serta membayar karyawan. Hal ini berlangsung sekitar setahun.
Dari situlah ia memulai memperdalam pengetahuannya mengenai batik. Hanang juga melakukan berbagai percobaan membuat motif batik ciri khasnya. Sampai di titik, dirinya mulai menyadari melalui keterampilan melukisnya bisa digunakan untuk membatik. "Baru sadar ternyata teknik melukis bisa digunakan untuk membatik," ucapnya.
Hanang yang telah sadar dengan tekniknya, terus melakukan percobaan, hingga menemukan teknik pembuatan batik timpa dan lukis. Teknik ini diciptakan dengan menggabungkan teknik batik tulis dan cap, dengan perpaduan goresan kuas lukis. Setiap tahapannya harus ditimpa dengan berbagai tahapan pewarnaan.
Menurutnya, ciri khas batik banyu sabrang berada pada teknik pembuatan serta warna yang berani. Pewarnaan yang berani, terinspirasi dengan pelukis Indonesia Affandi yang menjadi salah satu tokoh panutannya. Dalam selembar batik, dirinya melakukan penempatan warna hingga berulang kali. Sehingga menciptakan warna batik yang berani, namun indah.
Berkat perjuangan kerasnya menemukan formulasi yang tepat, membuat batiknya mulai dikenal masyarakat. Lantaran, ciri khas batiknya dapat dinikmati kaum muda dan tua. Perpaduan warna cerah memberikan perubahan stigma masyarakat terhadap batik. Sehingga, batiknya mulai dicari-cari pasar. "Awal, kami bergerak memasarkan melalui media sosial seperti facebook, instagram, dan sekarang ke platform marketplace," ujarnya.
Hanang menuturkan, pengembangan usahanya juga tak luput dalam pemasaran dengan media sosial. Berkat itu, saat pasar mulai merambah media sosial, dirinya tak perlu banyak penyesuaian. Bahkan ceruk pasar media sosial cukup banyak menyumbangkan laba penjualan.
Saking laris produknya, setiap bulan dirinya bisa memproduksi 500 lembar batik. Dengan omzet setiap bulannya berkisar Rp 500 juta. Batiknya juga telah merambah pasar Internasional, seperti Malaysia, Jepang, Lithuania, dan Hongkong. "Terakhir kali kami menjalin bisnis dengan Filipina," ucapnya.
Kendati sudah terbilang sukses dengan bisnisnya, Hanang masih terus mengembangkan batiknya. Terutama demi mewujudkan cita-citanya memberdayakan masyarakat sekitar rumah. Dia memiliki target menyerap tenaga kerja 200 orang di 2026, yang saat ini masih berkisar 50 orang.
Menurutnya, sebuah usaha tak boleh hanya berorientasi pada keuntungan saja. Tetapi juga kebermanfaatan bagi masyarakat. Dalam bisnisnya, tak hanya menyerap pekerja yang merupakan tetangganya. Tetapi juga memberikan peluang bagi perempuan lanjut usia untuk tetap dapat bekerja, sambil mendapatkan gaji yang dapat membantu perekonomian keluarga. (pra)