KULON PROGO - Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah memiliki berbagai potensi yang bisa digali.
Selain sebagai sentra industri batik, wilayah yang dekat dengan Sungai Progo ini juga memiliki potensi kesenian yang dikemas menjadi destinasi wisata menarik.
Seperti pada Rabu (21/8/2024) malam, pertunjukan kesenian digelar di wilayah ini.
Tepatnya di Pelataran Rumah Dukuh Nglatiyan 1, selatan Balai Kalurahan Ngentakrejo.
Beragam kesenian budaya dan tradisi mewarnai destinasi wisata di wilayah tersebut.
"Ada 3 paguyuban asli Ngentakrejo, yang menampilkan kesenian," ucap Lurah Ngentakrejo Sumardi, saat ditemui Radar Jogja, Rabu (21/8/2024).
Paguyuban Ngesti Budaya menampilkan seni karawitan.
Paguyuban Mangestoni menampilkan seni macapat, serta paguyuban Sotya Manunggal menampilkan beberapa seni tari.
Kegiatan ini, mendapat dukungan Dana Keistimewaan dan difasilitasi Dinas Pariwisata DIY, untuk mengoptimalkan potensi wisata yang ada.
Mengusung konsep promosi destinasi wisata, Paguyuban Sotya Manunggal menampilkan 3 seni tari.
Tarian pertama berupa Tari Nirbaya gagrag Jogja.
Menampilkan sepasang penari yang yang berlenggak-lenggok bak sepasang suami istri.
Penggambaran, tari yang dilakukan antara penari pria dan perempuan mewujudkan keharmonisan berumah tangga.
"Tarian ini dipercaya sebagai penolak bala dalam hubungan rumah tangga," ucapnya.
Ditampilkan secara atraktif, tarian ini mengajak penonton ikut menari, karena penari sengaja mendekati penonton. Bahkan tarian ini cukup seru dilihat.
Lantaran, jika terdapat penonton yang takut dengan penari, maka penonton akan dikejar oleh penari.
Penonton terkadang takut dengan penari, karena makeup yang digunakan tidak wajar.
Setelah tari Nirbaya dilanjutkan dengan 2 tarian kontemporer yang menunjukkan semangat.
Selain tarian dan penampilan mocopat, dalam pagelaran kesenian juga menampilkan potensi wisata batik.
Hal ini diwujudkan dengan keberadaan pameran batik.
"Batik yang ditampilkan dalam pameran, merupakan hasil produksi asli kalurahan kami," ujarnya.
Dalam pameran, dipajang berbagai produk batik seperti kain batik, selendang, baju, topi, serta hiasan rumah.
Produk yang ditampilkan berasal dari usaha yang dibuat masyarakat Ngentakrejo.
Tak lupa, pada pameran tersebut juga menggambarkan proses pembuatan batik dari nol hingga akhir.
Sehingga, pengunjung dapat menyaksikan setiap tahapannya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ngentakrejo Hanang Mintarta mengungkapkan, potensi wisata batik.
Wisata batik di Ngentakrejo sebenarnya sudah banyak dikenal masyarakat luas. Terutama bagi masyarakat DIJ.
Seringkali, pengunjung dari kabupaten lain mendatangi Ngentakrejo untuk belajar batik.
"Sering jadi rujukan, bahkan luar daerah seperti Bandung hingga Kalimantan rela datang kesini," ujarnya.
Pemilik batik Banyu Sabrang ini menyampaikan, keberadaan batik asli Ngentakrejo menjadi potensi wisata tersendiri.
Lantaran, 60 persen masyarakat di desanya bekerja di sektor batik. Sehingga, pengunjung dapat datang setiap waktu.
Pada kunjungan biasa, pengunjung akan diajak belajar mengenai batik selama satu hari.
Pembuatan batik sejak dari kain hingga menjadi produk batik akan diajarkan disini.
Tentunya, pengunjung akan didampingi instruktur yang telah berpengalaman dan berwawasan di dunia bati. Sehingga, dapat menjawab rasa penasaran pengunjung.
Jika pengunjung ingin lebih berlama-lama lagi dapat mengikuti program live ini.
Pengunjung selama seminggu akan diajak mengikuti aktivitas pembatik Ngentakrejo.
Mereka akan mengajarkan setiap proses membatik secara detail.
Program ini, biasanya dimanfaatkan oleh kedinasan dari luar daerah untuk memberdayakan tenaga kerja.
Sehingga, setelah pulang dari Ngentakrejo dapat membuat usaha batiknya sendiri. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva