Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

KWT Melati di Kulon Progo Produksi Aneka Olahan Tepung Umbi dan Pisang, Berdayakan Ibu-Ibu Kampung dengan Omzet Per Hari Rp 10 Juta

Anom Bagaskoro • Rabu, 7 Agustus 2024 | 15:45 WIB

 

MENJEMUR: Setelah diiris umbi dijemur untuk mengurangi kadar air. Melalui KWT Melati, ibu-ibu pun bisa memproduksi berbagai olahan siap saji.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
MENJEMUR: Setelah diiris umbi dijemur untuk mengurangi kadar air. Melalui KWT Melati, ibu-ibu pun bisa memproduksi berbagai olahan siap saji.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Banyaknya umbi-umbian dan pisang membuat masyarakat Padukuhan Pereng, Sendangsari, Pengasih, tak berdiam diri. Diprakarsai Karisman, mereka membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati yang berhasil mengolah umbi-umbian itu menjadi tepung hingga produk makanan.

ANOM BAGASKORO, Kulon Progo

Melalui KWT Melati, kaum perempuan di desa ini dapat berdaya dan menambah pemasukan untuk keluarga. Hal ini karena umbi-umbian dan pisang yang dulunya memiliki nilai jual rendah, sekarang menjadi lebih tinggi.


Karisman mengatakan, produksi umbi dan pisang menjadi tepung berawal di tahun 2010 silam. Saat itu produk olahan tepung belum banyak dikenal. Sehingga di tahun 2014 kelompok ini mulai memproduksi olahan siap saji berupa kudapan. "Sejak saat itu masyarakat mulai mengenal produk kami," ucapnya.


Ia menjelaskan, ide bisnis kelompoknya berawal saat ada stigma masyarakat mengenai tanaman garut. Seringkali masyarakat menganggap tanaman garut sebagai sarang nyamuk dan hasil penjualan umbinya cenderung murah. Masyarakat pun mulai meninggal tanaman garut.


Namun saat itu justru kelompoknya yang menyadari potensi tanaman ini. Melalui pekarangan anggota kelompok mulai membudidayakan tanaman garut. Dari situ mereka mulai meneliti olahan yang tepat dengan nilai jual tinggi.


Butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan olahan yang tepat yaitu tepung garut. Sejak saat itu kelompoknya mulai memproduksi tepung. Untuk memproduksi tepung yang berasal dari umbi-umbian, metodenya hampir sama.


Dimulai dari pengupasan, perendaman serta pembersihan untuk memastikan kotoran hilang. Setelah itu, umbi kemudian dipotong tipis agar mempermudah saat penjemuran. Tujuannya untuk menurunkan kadar air. Kemudian proses selanjutnya digiling menjadi tepung. "Mulai dengan membuat tepung dari umbi-umbi jenis lain dan pisang," ujarnya.


Pria paro baya ini menjelaskan, ketika tepung garut sudah mendapatkan pasarnya, pihaknya mulai berinovasi kembali. Kelompoknya mulai memproduksi beberapa olahan tepung umbi ungu, ketela, umbi kuning, garut, ganyong, dan pisang.


Ternyata dari produksi yang mereka jalani, pasar mampu menyerap dengan cepat. Sehingga pihaknya sempat kewalahan mengatasi orderan yang memaksanya untuk membeli bahan baku lebih banyak.


Saat ini setiap harinya mereka mampu memproduksi 2-3 kuintal tepung yang dipasarkan maupun yang diolah kembali. Berkat produksinya, puluhan perempuan yang memiliki latar belakang ibu tumah tangga dapat membantu perekonomian keluarga. Jika ditaksir omzet bisnis ini berkisar Rp 10 juta per hari.


Tak berpuas diri, KWT Melati terus berinovasi. Tujuannya mengolah hasil tepung menjadi makanan siap saji. Kelompok ini kembali membuat produk olahan berupa kudapan dari berbagai tepung hingga memberikan gambaran produksi hulu hingga hilir.


Saat ini, olahan produk yang berasal dari tepung berupa roti, camilan stik ketela, dan thiwul instan. Produk-produk ini telah merajai industri oleh-oleh di Kulon Progo maupun DIY.


Biasanya kelompok ini dalam seminggu menyetorkan 50-70 produk di puluhan toko oleh-oleh. Sedangkan untuk pemasaran online, produk ini telah menembus pasar di luar Jawa. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Aneka Olahan Tepung #umbi-umbian #Kulon Progo #Tepung Umbi #KWT Melati #omzet