RADAR JOGJA - Kaum disabilitas asal Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur mengunjungi rumah produksi Sembung Batik, yang terletak di Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah. Dalam kunjungannya, mereka tak hanya belajar, namun juga membuat batik dengan motif disabilitas.
Kunjungan merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan Dinas Koperasi (Dinkop) UKM Kutai Kartanegara untuk meningkatkan kompetensi kaum disabilitas. Terdapat 20 peserta yang mengikuti kegiatan ini, dengan hambatan komunikasi, fisik, dan sikap. Namun dengan hambatan ini, justru kaum disabilitas membuktikan diri dengan menciptakan motif batik ciri khas disabilitas.
"Jauh-jauh untuk belajar, dan kami juga membuat motif batik yang sengaja kami tonjolkan," ucap Staf Pemberdayaan Usaha Mikro Dinkop UKM Kutai Kartanegara Sadino, saat ditemui Radar Jogja, Kamis (1/8).
Berbagai macam simbol ditonjolkan dalam pembuatan batik, baik dengan menggunakan metode cap maupun canting manual. Cukup menonjol ditengah-tengah motif batik biasa, simbol tangan dicetak diatas kain putih. Beberapa simbol tangan diwujudkan sebagai ciri khas kaum disabilitas dengan hambatan komunikasi.
Sedangkan untuk hambatan fisik disimbolkan dengan motif kursi roda maupun motif lain. Tak lupa dalam batik ini, dimasukkan motif khas Pulau Kalimantan atau sering disebut motif dayak juga dimasukkan. Motif yang dicantumkan menambah keanekaragaman batik ini dengan tetap menyimbolkan ciri khas disabilitas. "Setelah ini diharapkan kaum difabel dapat membuat usahanya,"ujarnya.
Minat untuk terjun dalam mengembangkan bati disabilitas juga diutarakan salah satu peserta difabel Andini Pradiya Safitri. Dirinya tak hanya antusias pada kegiatan membatik, namun juga antusias dengan pengembangan bisnis bati di Kalimantan. Menurutnya, batik motif disabilitas mencerminkan pembuktian kaumnya yang bisa mandiri. "Membuktikan bahwa kami mampu, dan memiliki keterampilan yang sama," ucap Andini.
Andini menuturkan, selama di sentra batik Lendah dirinya mempelajari setiap proses dalam industri batik, dari hulu hingga hilir. Sejak hari pertama dirinya mempelajari berbagai motif batik, cara membuatnya hingga pewarnaan. Kemudian mereka mulai membuat motif yang menggambarkan disabilitas melalui simbol isyarat tangan.
Sementara itu, Pemilik Sembung Batik Bayu Permadi secara langsung memuji motif yang diusulkan oleh peserta pelatihan. Menurutnya, sebelum mengusulkan motif difabel, peserta melakukan brain storming dengan pihaknya. Kemudian Sembung Batik memfasilitasinya dengan membuatkan canting khusus. "Kebetulan kami ada salon canting, bersama kami buat canting cap motif disabilitas," ucap Bayu.
Bayu menjelaskan, motif tersebut cukup jarang ditemui. Sehingga memiliki peluang pasarnya tersendiri, apalagi jika dikombinasikan dengan motif daerah Kalimantan berupa corak ornamen. Kombinasi ini akan menciptakan batik kontemporer yang layak dipasarkan.
Drinya juga menyampaikan, selam peserta mengikuti pelatihan di Sembung Batik, pada awalnya instruktur pelatih cukup kebingungan. Lantaran, instruktur sembung batik tak memahami cara berkomunikasi dnegan kaum disabilitas. Sehingga saat itu cukup menghambat mengenai penyampaian materi pelatihan. "Akhirnya kami juga belajar bahasa isyarat, sekaligus metode pelatihan yang lebih banyak dengan cara mencontohkan," ucapnya.
Dari pengalamannya melatih peserta difabel ini, dirinya mulai memahami metode yang tepat untuk melatih dengan cara mencontohkan lebib banyak. Berkat itu, peserta memahami pelatihan. Bahkan kaum difabel justru memiliki keuletan dan ketelitian melebihi orang normal lainnya. "Sekarang justru lebih teliti dan imajinasinya bagus," puji Bayu. (gas/pra)