RADAR JOGJA - Menanggapi ancaman tsunami di Pesisir Selatan Bumi Binangun, masyarakat pesisir melakukan penanaman pohon pandan laut, Minggu (21/7). Kegiatan ini difasilitasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan dikerjakan Forum Penanggulangan Resiko Bencana (FPRB) karangwuni.
Tujuannya untuk meminimalisasi dampak dari kemungkinan adanya tsunami."Ada 500 pohon pandan laut yang ditanam, dan tambahan 100 pandan laut yang berasal dari swadaya masyarakat," ucap Ketua FPRB Karangwuni Sunardi, saat dikonfirmasi Radar Jogja.
Sunardi menuturkan, pandan laut ditanam di enam kalurahan yang berbatasan langsung dengan laut selatan. Terdapat Kalurahan Jangkaran, Karangwuni, Banaran, Glagah, Bugel, dan Karangsewu. Setiap wilayah kalurahan melakukan penanaman di area gundul dan terbuka.
Hal ini dilakukan, untuk memastikan area terbuka tertutupi tanaman. Tujuannya untuk mengurangi hempasan gelombang, apabila terjadi bencana tsunami. Dengan keberadaan tanaman mampu meminimalisasi debit air laut yang masuk ke daratan.
Terlebih, pandan laut memiliki fungsi pencegahan terhadap abrasi akibat terjangan air maupun angin. Tanaman ini juga dinilai cukup adaptif. Selain itu, keberadaan tanaman ini seringkali dimanfaatkan untuk tempat bertelur penyu. Sebab, area pesisir Kulon Progo merupakan habitat penyu.
Sehingga, keberadaan tanaman pesisir ini sangatlah dipentingkan."Sebenarnya ini rangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama dua tahap,"ujarnya.
Selain penanaman, tahap sebelumnya masyarakat telah menjalankan pembangunan sarana untuk kaum disabilitas. Sebagai salah satu komponen kesiapsiagaan bencana. Fasilitas ini, digunakan tak hanya ketika terjadi sebuah bencana, namun juga bisa digunakan untuk aktivitas masyarakat.
Sebelum melakukan dua tahap ini, BNPB telah melakukan kajian mengenai pemataan, ancaman, risiko, serta kapasitas resiko bencana. Selain itu menyesuaikan dengan early warning system yang telah ada.
Setiap kalurahan yang menjalani dua tahap ini mendapat stimulan Rp 15 juta dari BNPB. Anggaran ini didapat dari anggaran talangan dari World Bank. (gas/din)
Editor : Satria Pradika