Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Contohkan Gunungkidul, Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo Ketir-Ketir Pascabonus Demografi

Anom Bagaskoro • Senin, 22 Juli 2024 | 03:00 WIB
TEMUI: Kepala BKKBN Kulon Progo menemui beberapa kader untuk berdialog.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
TEMUI: Kepala BKKBN Kulon Progo menemui beberapa kader untuk berdialog.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA



RADAR JOGJA - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI Hasto Wardoyo mewanti-wanti DIY pascabonus demografi. Dengan menekankan peningkatan kualitas generasi. Dia ketir-ketir saat lebih banyak lansia dibanding penduduk usia produktif.

Tujuannya untuk memastikan agar negara tak terjebak dalam kondisi middle income trap, yang disebabkan tak adanya generasi berkualitas usai melewati masa bonus demografi.

"Kita harus agak cemas sedikit untuk mengembangkan generasi selanjutnya," ucap Hasto Wardoyo dalam peringatan Hari Keluarga Nasional di Wates, Minggu (21/7).


Bonus demografi adalah fenomena proporsi penduduk usia produktif, 15–64 tahun, lebih banyak dari lansia. Hasto menjelaskan, DIY sebentar lagi akan masuk masa populasi orang tua lebih banyak dibanding pemuda. Sehingga, angka populasi yang bekerja cenderung lebih kecil dibanding yang tidak bekerja. Hal ini, perlu diwaspadai karena cukup banyak berpengaruh pada produktifitas.


Dirinya mencontohkan, Kabupaten Gunungkidul pada 2020 lalu telah memasuki fenomena ini. Angka populasi orang tua lebih banyak dibanding pemuda. Banyaknya populasi orangtua yang tak produktif membuat kesimbangan antara pihak pemberi makan (usia produktif) dengan penerima makan (usia lansia) tak sesuai.

Adanya fenomena ini perlu menjadi pemahaman, agar setiap stakeholder mampu meningkatkan kualitas SDM generasi selanjutnya. Lantaran, di tahun 2045 tujuan pemerintah Indonesia Emas, dengan memanfaatkan bonus demografi yang didapat.

Namun, setelah bonus demografi digunakan, diharapkan agar Indonesia tak terjebak pada kondisi stagnan pada pertumbuhan ekonomi negara berkebang, karena tak memiliki SDM berkualitas. "Peran keluarga salah satu hal yang penting untuk mwmpersiapkan generasi selanjutnya," tuturnya.

Bupati Kulon Progo 2011-2019 itu menegaskan, keluarga memiliki peran penting dalam membangun generasi unggul. Di DIY Indeks Pembangunan Keluarga tertinggi d Kota Jogja. Sedangkan Kabupaten Kulon Progo menempati urutan keempat sebelum Gunungkidul, dengan angka indeks 63,28.

Perceraian dinilai menjadi penyebab memburuknya angka Indeks pembangunan keluarga. Tentunya hal ini cukup berpengaruh terhadap mental generasi selanjutnya. Menurutnya, pekerjaan rumah inilah yang perlu diperhatikan. (gas/pra)

Editor : Satria Pradika
#hasto wardoyo #kabupaten kulon progo #BKKBN