Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lestarikan Tradisi Tiap Suro, Kadipaten Pakualam Menggelar Labuhan di Pantai Glagah

Anom Bagaskoro • Rabu, 17 Juli 2024 | 23:35 WIB
KIRAB: Gunungan hasil bumi diarak dan di larung di Pantai Glagah. 
KIRAB: Gunungan hasil bumi diarak dan di larung di Pantai Glagah. 


KULON PROGO - Kadipaten Pakualam kembali menggelar hajad dalem Labuhan dengan meriah di Pantai Glagah, Rabu (17/7/2024).

Acara ini digelar setiap 10 Suro dalam penanggalan jawa ini digelar dengan upacara adat dan hiburan yang menarik perhatian masyarakat luas.

"Labuhan merupakan tradisi, dan di tahun ini lebih lengkap dibanding tahu n lalu," ucap Kapanitran Kadipaten Pakualam Kanjeng Sestrodiprojo, saat ditemui awak media, Rabu (17/7/2024).

Sestro menjelaskan, labuhan kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Pandemi covid-19 membuat kirab tak selengkap sekarang.

Kirab cukup banyak mempengaruhi barang yang akan dilabuh. Lantaran, gunungan yang dilabuh perlu diangkat lebih dari 1 orang.

Selain itu, pasukan arak-arakan juga lebih meriah dibanding tahun sebelumnya.

Keluarga dan kerabat Kadipaten Pakualam juga turut hadir, yang menambah kesan meriah.

Terlebih masyarakat sekitar, dan pengunjung Pantai Glagah cukup antusias dengan labuhan.

Terbukti dengan jumlah pengunjung yang menyaksikan serta mengikuti rangkaian kegiatan labuhan.

Sebelumnya rangkaian acara labuhan, diawali dengan kirab dengan membawa gunungan dari Pesanggrahan Kadipaten Pakualaman menuju Pesisir Barat Pantai Glagah.

Jarak tempuh kirab sekitar 2 km, memakan waktu sekitar 1,5 jam. Kirab diawali dengan Bergada Lombok Abang, dengan diikuti oleh 4 gunungan.

Diantaranya gunungan yang berisi hasil bumi, hasil panen, jajanan pasar, serta gunungan sukerto milik Sri Paduka Pakualam ke-10.

Dibelakang gunungan diikuti bergada dengan iringan musik khas keraton. Dan selanjutnya barisan terakhir diikuti masyarakat sekitar.

"Labuhan merupakan bentuk syukur, dan membuang sial," ucapnya.

Sestro menjelaskan, labuhan memiliki makna dan filosofinya sendiri. Lantaran, 4 gunungan yang dilarung ke laut menyimbolkan filosofi.

Seperti gunungan sukerto, menyimbolkan proses pembuangan kesialan yang melekat pada diri.

Diwujudkan dengan gunungan berisi ikatan kain, didalamnya terdapat pakaian, kain, kuku, dan rambut yang dulunya pernah dikenakan raja, ratu, serta kerabat Kadipaten Pakualam.

Gunungan sukerto ini dibawa ke tengah laut, agar ketika ombak menerjang tak membuat gunungan kembali ke pinggir pantai.

Sedangkan gunungan yang berisi hasil bumi serta panen, menyimbolkan perwujudan rasa syukur, dan mendoakan arwah leluhur. Gunungan inilah yang kebanyakan ditunggu masyarakat.

Lantaran, saat sesudah dilarung masyarakat diperbolehkan untuk merayah gunungan tersebut.

Seperti yang dilakukan Indah Pangestri warga Kalurahan Bojong Panjatan.

Dirinya mengaku sengaja mendatangi pantai untuk ikut serta emnyaksikan kirab dan labuhan.

Hal ini, dilakukannya sebagai kegiatan rutin tahunan. Sehingga sudah wajar jika dirinya menunggu momen ini.

"Tadi rayahan mendapat gabah, dan jajanan pasar," ucap Indah sambil menunjukkan hasil rayahan.

Indah percaya dengan hasil rayahan bisa memberikan berkah di kehidupannya.

Tak hanya urusan ekonomi, dirinya percaya hasil rayahan memberikan keselamatan bagi keluarganya. Sehingga acara labuhan selalu dinanti, terutama saat rayahan. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Gunungan sukerto #Kulon Progo #kadipaten #labuhan #Hajad Dalem #pantai glagah #Pakualaman