RADAR JOGJA - Perbukitan Menoreh memiliki berbagai potensi atas kondisi geografisnya. Salah satunya komoditas kopi yang menjadi produk khas Kulon Progo. Dalam rangka mengenalkan komoditas ini, Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo mengadakan Festival Kopi 2024 di Lapangan Sidomulyo, Pengasih, Kulon Progo Sabtu (13/7).
Kepala Bidang Sarana dan Pengembangan Usaha Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan DPP Kulon Progo Wazan Muzakir menjelaskan, pengenalan kopi khas Kulon Progo diperlukan untuk memperluas pasar. Lantaran, produksi kopi lokal mulai masif di tiga tahun terakhir.
Sebelumnya, kopi asli Kulon Progo belum dikenal masyarakat luas. Sehingga membutuhkan sarana untuk mengenalkan produk.
Padahal adanya ketinggian perbukitan menunjang budi daya tanaman kopi. Seperti jenis robusta, arabica, dan liberica. “Walaupun paling banyak ditanam berjenis robusta,” ujarnya.
Di DIJ, perkebunan kopi terluas hanya ada di Kulon Progo. Berkisar 1,5 ribu hektare. Dengan produksi kopi berasan (green bean) per tahun tidak kurang dari 450 ton. Tentunya, potensi komoditas kopi memiliki peran penting untuk menyejahterakan masyarakat.
Adanya festival kopi, diharapkan mampu mengangkat pamor kopi lokal. Terdapat 20 stand kopi yang berasal dari seluruh penjuru Kulon Progo. Stand yang ditampilkan mampu menarik pengunjung cukup banyak. Terbukti dengan ada dua ribu pengunjung yang datang.
Peserta Festival Kopi Agustinus Sulistio menyebut, kegiatan ini cukup membantu menaikkan pamor kopi lokal. Dia sebagai petani dan pengolah kopi dari Kalurahan Pagerharjo, Samigaluh mengaku, selama ini mengalami kendala pemasaran. “Ini kesempatan yang baik,” lontarnya.
Terlebih pada Agustus, Oktober, dan November, akan ada penen raya. Sehingga pasar kopi lokal perlu disiapkan untuk menampung hasil panen.
Dia juga berharap, harga kopi akan stabil. Mengingat saat ini, tengah melambung mencapai Rp 60 ribu per kilogram untuk green bean. (gas/eno)
Editor : Satria Pradika