Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Agustinus Sulistio Perjuangkan Buruh Kopi Menjadi Petani Kopi di Perbukitan Menoreh, Keuntungan Terasa, Kopi Menoreh pun Kini Lebih Dikenal

Anom Bagaskoro • Rabu, 10 Juli 2024 | 04:50 WIB
LEBIH MENGUNTUNGKAN: Agustinus Sulistio menjelaskan soal perkebunan kopi miliknya di Perbukitan Menoreh, Kulon Progo.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
LEBIH MENGUNTUNGKAN: Agustinus Sulistio menjelaskan soal perkebunan kopi miliknya di Perbukitan Menoreh, Kulon Progo.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Tak puas sukses menggarap Agroeduwisata Trajumas Java Cofee, Agustinus Sulistio mencoba membawa gagasan mengenai petani kopi di Perbukitan Menoreh. Ia mengajak buruh tani kopi "naik kelas" menjadi petani kopi.


ANOM BAGASKORO, Kulon Progo


"Tak hanya mengubah klausulnya dari buruh tani kopi menjadi petani kopi, tetapi juga aspek lainnya," ungkap Agustinus Sulistio saat ditemui Radar Jogja Selasa (9/7).


Pria yang kerap disapa Tio ini menyampaikan, masyarakat di Perbukitan Menoreh telah mengenal komoditas kopi sejak lama. Hal ini berkaitan dengan kondisi geografis yang menunjang pertumbuhan kopi.


Namun, kebanyakan masyarakat tak serius menggarap perkebunan kopi. Mereka condong menjadi buruh tani kopi, karena tidak mampu menyejahterakan hidupnya melalui komoditas ini.


Terlebih masyarakat perbukitan memiliki kebun yang ditanami banyak jenis pepohonan. Membuat efektivitas perkebunan tak bisa diukur dengan jelas. Keuntungan yang didapat petani juga tak terlihat. Lantaran setiap jenis tanaman memiliki cara perawatan berbeda.


Menurutnya, masyarakat perbukitan tak perlu menebangi tanaman lain untuk memperluas perkebunan kopi. Tetapi memerlukan manajemen perkebunan yang optimal. Dalam pengembangannya dilakukan secara terukur agar manfaatnya dapat terasa. "Satu tanaman kopi dalam setahun menghasilkan 10 kg dengan harga Rp 6 ribu per kg," ungkapnya.


Tio menggambarkan, jika masyarakat menanam kopi dengan manajemen yang baik, akan sangat menguntungkan. Jika terdapat dua ribu tanaman kopi dalam satu hektare, maka dalam setahun petani mampu meraup Rp 120 juta per tahun.


Selain diukur dari hasil panen kopi, masyarakat Perbukitan Menoreh didorong dengan pembuatan agroeduwisata. Perbukitan memiliki berbagai komoditas, seperti cengkeh, kapulaga maupun kopi. Yang mana dapat dikelola masyarakat menjadi agrowisata dengan manajemen pertanian yang baik.


Gagasan mengenai buruh tani menjadi petani kopi yang diangkat Tio, kini telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat sekitar. Terbukti dengan melonjaknya nama Kopi Menoreh. Agroeduwisata Trajumas sendiri merupakan hasil penggabungan antara beberapa lahan masyarakat yang dikelola secara bersama.


Untuk mendorong komoditas kopi serta petani kopi yang sejahtera di Perbukitan Menoreh, Tio terus berupaya melakukan sosialisasi dan memberikan gambaran mengenai manajemen pertanian.


Tidak hanya itu, ia juga rutin menjembatani masyarakat untuk beraspirasi ke pemda agar memberikan dukungan pada perkebunan kopi di Perbukitan Menoreh. "Dari dinas terkait akhirnya memberikan dukungan dengan penambahan perkebunan kopi sejumlah 20 hektare," ujarnya.


Selama proses perubahan klausul buruh tani menjadi petani kopi, Tio mengaku mengalami banyak kendala. Kendala utamanya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan pertanian yang berkelanjutan. Masyarakat cenderung tak ingin berpindah dari kebiasan lama menanam berbagai tanaman dalam satu bidang.


Selain itu, masyarakat juga ragu dengan manajemen pertanian yang disampaikan Tio. Lantaran masyarakat memerlukan contoh nyata keberhasilan manajemen pertanian.

Hal inilah yang membuat dirinya memberikan percontohan perkebunan kopi yang terintegritas. Sehingga masyarakat dapat mengikuti jejaknya. Hingga saat ini sudah banyak masyarakat di Perbukitan Menoreh mengikuti jejaknya untuk mengatur perkebunannya. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Kulon Progo #Geografis #Petani Kopi