Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ancaman saat Pilkada Disinformasi, Ujaran Kebencian hingga Politik Identitas

Anom Bagaskoro • Kamis, 27 Juni 2024 | 16:10 WIB
KONSOLIDASI: Sapto Ongko menjelaskan perihal potensi ancaman non militer saat Pilkada. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
KONSOLIDASI: Sapto Ongko menjelaskan perihal potensi ancaman non militer saat Pilkada. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

RADAR JOGJA – Menjelang Pilkada 2024, enam organisasi relawan dan ormas di Kulon Progo mengadakan Forum Grup Discussion (FGD), Selasa (25/6). Tujuannya membahas mengenai kerawanan serta ancaman non militer saat Pilkada. Lantaran, Pilkada 2024 cukup menarik perhatian dan berpotensi memberikan dampak besar bagi masyarakat.

Acara yang digelar oleh Relawan Anak Bangsa (RAB) Kulon Progo di Sekretariat Relawan Anak Bangsa DIJ. Salah satu narasumber Sapto Ongko menerangkan, perihal potensi ancaman nonmiliter saat pilkada. Perkembangan zaman membuat ancaman militer secara langsung tak lagi terjadi. Namun, saat ini berganti menjadi ancaman non militer. “Ancaman ini dapat melalui berbagai segmen, baik sosial, ekonomi, bahkan politik,” tuturnya.

Dalam dunia politik, ancaman non militer diibaratkan sebagai senjata yang efektif dalam memecah kehidupan sosial. Bentuk ancaman militer berupa polarisasi, politik identitas, disinformasi serta ujaran kebencian. Ancaman ini dapat mempengaruhi berbagai aspek di masyarakat, serta menyentuh seluruh lapisan. “Nonmiliter lebih sulit dideteksi, terutama dimensi politik,” ucap Ongko.

Dosen Universitas Pertahanan ini menjelaskan, gelombang pilkada dapat disusupi ancaman non militer yang mampu memperlambat perkembangan daerah. Lantaran, daerah memegang peran penting dalam mensukseskan dan menjalankan program nasional. Sehingga dalam Pilkada 2024 nanti, sosok bupati dan wakil bupati terpilih harus didasari atas keinginan jernih masyarakat.

Ketua RAB Korda DIJ Asep Susilo menjelaskan, acara tak hanya bersifat diskusi, namun juga konsolidasi antarormas dan kelompok relawan. Tentunya dengan tujuan penciptaan Pilkada 2024 yang kondusif. Lantaran, saat pilkada kerawanan tergolong tinggi. Masyarakat seringkali sumbu pendek akibat persaingan antarpaslon saat Pilkada.

Potensi inilah yang harus dikonsolidasikan ke kelompok relawan serta ormas. Tujuannya agar kelompok relawan dan ormas dapat bersinergi dalam mendinginkan suasana Pilkada 2024 saat sedang memanas. Terlebih potensi polarisasi juga dapat dicegah dengan penciptaan kondisi saat pilkada. (gas/pra)

 

Editor : Herpri Kartun
#pilkada 2024 #relawan anak bangsa