Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rahmat Sugiyanto dari Jual Asongan di Kereta Api, Dulu Kerja Pagi-Malam Dapat Rp 100 Ribu per Hari, Kini Omzet Rp 20 Juta Sehari

Anom Bagaskoro • Kamis, 27 Juni 2024 | 08:10 WIB
PROSES: Rahmat menunjukkan proses pembuatan bakpia dan wingko.(ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
PROSES: Rahmat menunjukkan proses pembuatan bakpia dan wingko.(ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

RADAR JOGJA - Kisah sukses mengiringi Rahmat Sugiyanto, warga Kalurahan Terbah, Kapanewon Wates. Berawal dari berjualan bakpia secara asongan di dalam kereta api. Kini Sugiyanto berhasil mendirikan tempat produksi bakpia terbesar di Kulon Progo.

 Mengenakan kopiah dan sarung, Rahmat Sugiyanto menyapa para karyawannya yang sedang meracik bakpia. Sapaanya disambut para karyawan. Taka da canggung antara Rahmat dan para karyawannya. Karena sebagian adalah tetangganya. Bahkan ada di antaranya yang merupakan penyandang disabilitas. 

“Saat ini terdapat 60 karyawan yang merupakan warga asli Kulon Progo,” ungkapnya saat ditemui Radar Jogja di rumah produksi Bakpia Rahmat, Selasa (25/6).

Usahanya pun makin berkembang. Kini pria 52 tahun itu memiliki tujuh outlet di DIJ dan tiga outlet di Jabodetabek untuk memasarkan produknya. Alhasil omzet penjual bakpia setiap harinya berkisar Rp 10 juta – Rp 20 juta. Dengan total produksi mencapai sekitar dua ribu box bakpia wingko. "Dulu cuma berjualan asongan, selama 12 tahun dari situlah banyak belajar tentang bakpia," ucap Rahmat,

Dia mengenanh dulu dirinya berjualan asongan dari Stasiun Tugu Jogja ke Purwakarta. Tak kenal lelah siang dan malam dirinya bekerja mencukupi kebutuhan keluarga dengan berjualan bakpia di dalam kereta. Setiap hari dirinya mampu mengumpulkan uang Rp 80 ribu – Rp 100 ribu.

Namun, semenjak adanya larangan pedagang asongan di dalam kereta, dirinya perlu memutar otak. Tak bisa berjualan di dalam kereta membuat dirinya memulai usaha produksi bakpia. Bermodal uang Rp 10 juta, dirinya nekat memproduksi bakpia tanpa ada ada pengalaman dalam bisnis. "Sengaja mengumpulkan warga sekitar yang terbiasa membuat bakpia untuk ikut produksi," ucap Rahmat.

Pria yang gemar menggunakan kopiah ini menyebut, aksi nekat membuka produksi bakpia didukung dengan pengalaman, serta kesiapan SDM produksi. Pengalaman berjualan bakpia merek lain memberikan wawasan mengenai cita rasa, karakteristik, serta pasar yang diminati.

Melalui pengalaman yang dia punya, terwujudlan cita rasa bakpia dan wingko dengan merek Rahmat. Rahmat menjelaskan, sengaja merekrut karyawan produksi asal Kulon Progo yang telah terampil. Kala itu dirinya mempekerjakan 10 orang karyawan. "Kulon Progo tidak ada produsen bakpia, jadi ini ceruk pasar besar," tuturnya.

Menurutnya, wilayah Kulon Progo saat itu tak banyak pesaing di industri bakpia dan wingko. Sehingga persaingan bisnis tak banyak terjadi. Dalam memulai bisnisnya, Rahmat sengaja mengincar konsumen yang menggelar acara hajatan. Seperti kenduri maupun nikahan.

Sukses, bakpia Rahmat mulai dikenal masyarakat. Tak kenal lelah, Rahmat terus berinovasi dalam meningkatkan produknya. Strategi pemasaran dengan menyiapkan beberapa paket isian bakpia juga dilakukan. Pembeli bisa memilih beberapa variasi isian dan jumlah bakpia. "Sekarang sudah ada lima variasi, dengan berbagai paket jumlah," ucapnya. (pra)

 

 

Editor : Herpri Kartun
#bakpia #Rahmat Sugiyanto