Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ketua BPPD DIY GKR Bendara Dorong Desa Wisata di Kulon Progo Sajikan Depth Experience, Bisa Jadi Alternatif Wisata Konvensional di DIY dan Minim Sampa

Anom Bagaskoro • Rabu, 12 Juni 2024 | 03:55 WIB

GKR Bendara saat menjelaskan depth experience di Kulon Progo.
GKR Bendara saat menjelaskan depth experience di Kulon Progo.
 

RADAR JOGJA - Kulon Progo sebagai kabupaten yang memenangkan Anugerah Desa Wisata (ADWI) sebanyak empat kali, terus didorong pengembangannya. Berbeda dengan kabupaten lain, desa wisata di Kulon Progo memiliki peran penting dalam mewujudkan ekosistem pariwisata.


ANOM BAGASKORO, Kulon Progo


Persoalan sampah yang sedang dihadapi Kota Jogja, Sleman dan Bantul turut berdampak ke sektor pariwisata. Harapannya Kulon Progo tak merasakannya. Karena itu perlu diversifikasi paket wisata dengan tiga daerah lainnya.


Hal ini disampaikan, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY GKR Bendara, saat melakukan audiensi GIPI di Kompleks Kantor Bupati Kulon Progo, Senin (10/6). "Kulon Progo kekuatannya ada di desa wisata," ucap GKR Bendara.

GKR Bendara menjelaskan, pengembangan desa wisata memiliki dimensi berbeda dengan wisata lain. Desa wisata mampu menyajikan depth experience bagi wisatawan. Terutama wisatawan sudah jenuh dengan suasana tempat wisata konvensional yang sudah menjamur di beberapa wilayah.


Wisata yang berorientasi pada depth experience tak memiliki dampak negatif. Yang mana wisata konvensional seringkali menimbulkan masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Hal ini dikarenakan masifnya wisatawan, yang harus diakui memberikan dampak besar pada masyarakat. Puteri bungsu Raja Keraton Jogja itu mencontohkan masalah sampah yang menjadi dampak adanya wisata konvensional.


Selain dampak negatif, GKR Bendara menegaskan depth experience tak memerlukan ongkos besar dalam pengembangannya. Sarana dan prasaran penunjang dalam menciptakan ekosistem pariwisata tak membutuhkan biaya banyak seperti wisata konvensional. "Tak perlu banyak sarpras, bangunan mewah, dan tak memberikan dampak lingkungan," ucap GKR Bendara.


Istri KPH Yudanegara itu menjelaskan, Kulon Progo memiliki ciri khas yang tak dimiliki kabupaten lain. Desa wisata salah satu contohnya. Menurutnya, desa wisata di kabupaten kota di DIY tak memiliki kesempatan untuk mengembangkan sayapnya. Lantaran memiliki beberapa masalah karakteristik sosial daerah.


Sementara itu, Pj Bupati Kulon Progo Srie Nurkyatsiwi menjelaskan, pemkab terus berupaya dalam mewujudkan ekosistem pariwisata. Pemkab akan mendorong kolaborasi antar OPD dalam mewujudkan wisata unggul, khususnya desa wisata. "Kolaborasi diperlukan terutama dalam membentuk pariwisata pentahelix," ucap Siwi.


Siwi menjelaskan, dalam mengoptimalkan desa wisata diperlukan kolaborasi lintas sektoral, tak hanya bertumpu pada OPD terkait. Peran serta masyarakat perlu dilibatkan dalam pengembangan pariwisata. (pra)

 

Editor : Satria Pradika
#GIPI #Kulon Progo #DIY #desa wisata #GKR Bendara