Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dibayangi Isu Kesejahteraan, Banyak Lansia di Kulon Progo Lebih Memilih Hidup Sendiri, Ini Alasannya

Anom Bagaskoro • Kamis, 30 Mei 2024 | 13:30 WIB
SEHAT: Momen wisuda lansia yang menunjukkan tingkat harapan hidup yang tinggi.
SEHAT: Momen wisuda lansia yang menunjukkan tingkat harapan hidup yang tinggi.

 


RADAR JOGJA - Hari Lanjut Usia selalu diperingari pada 29 Mei. Munculnya peringatan ini karena peran Radjiman Widyodiningrat dalam memimpin sidang BPUPKI, dalam persiapan kemerdekaan. Peringatan ini untuk meningkatkan kepedulian terhadap kehadiran lansia. 

Peringatan ini juga merupakan pesan tersirat mengenai isu kesejahteraan lansia. Tak hanya berkotak pada kesejahteraan, lansia yang mengalami penurunan fungsional tubuh juga harus memiliki akses kesehatan, transportasi, pendidikan, pekerjaan, dan domisili yang memadai.

"Di Kulon Progo, dinsos terus berupaya dalam menciptakan kesejahteraan bagi lansia," ucap Pekerja Sosial Dinas Sosial P3A Kulon Progo Noviyana Rahmawati, saat ditemui Radar Jogja, Rabu (29/5).

Novi menjelaskan, banyak lansia hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal mereka merupakan kelompok rentan yang memiliki keterbatasan untuk mendapatkan akses sosial. Sebagai upaya menciptakan kesejahteraan lansia, Dinsos Kulon Progo telah menggelontorkan banyak bantuan. Seperti bantuan sosial lansia, dan bantuan jaminan sosial lanjut usia.

Upaya ini diklaim cukup efektif dalam menyejahterakan kehidupan lansia. Tercermin pada data BPS mengenai angka harapan hidup yang terus mengalami kenaikan, sejak 2020-2022. Kulon Progo memegang predikat tertinggi angka harapan hidup dengan nilai 75 tahun.

"Fenomena di Kulon Progo banyak lansia yang lebih memilih hidup sendiri," ucap Novi.

Novi menjelaskan, kendati dibayangi isu kesejahteraan banyak lansia memilih untuk hidup sendiri. Alasan memilih hidup sendiri karena kebanyakan lansia tak ingin merepoti keturunannya. Mereka juga lebih nyaman hidup di desa ketimbang pindah ke kota mengikuti anaknya.


Fenomena ini seringkali ditemui di daerah desa yang berlokasi di pegunungan. Seperti Kapanewon Samigaluh, Kalibawang, serta Girimulyo. Kebanyakan lansia di wilayah tersebut memiliki umur panjang dengan rata-rata umur di atas 70 tahun dengan kondisi badan fit.

"Kebanyakan mereka masih sehat bahkan sering berkebun, fenomena ini pernah kami teliti," ucap Novi.

Menurut Novi angka harapan hidup lansia di Kulon Progo lebih tinggi dibanding kabupaten lainnya. Terdapat 4 faktor utama yang mempengaruhi umur panjang lansia di Kulon Progo. Di antaranya keluarga, comunity, peran negara serta ketersedian aktivitas.

Di antara keempat faktor, terdapat dua faktor yang paling berpengaruh kuat diantaranya faktor keluarga serta comunity. Hal ini terjadi karena banyak lansia yang dirawat anak keturunanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Walaupun terkadang lansia memilih hidup sendiri, anak keturunannya terus bekomunikasi serta memberikan kebutuhan yang cukup bagi orang tuanya.

Selain itu, faktor komunitas lingkuangan juga mengambil bagian penting. Komunitas masyarakat mampu memberikan dorongan optimisme kepada lansia untuk terus menjalani hidup dengan optimis. Bahkan seringkali komunitas terutama tetangga saling tolong menolong untuk membantu lansia di sekitar rumah.


"Ada kejadian lansia hidup sendiri, untuk memenuhi kebutuhannya tetangga memberikan makanan," ucap Novi.

Faktor komunitas juga memunculkan budaya "Nerimo Ing Pandum". Sehingga banyak lansia yang tak terlalu ambil pusing masalah kesejahteraan serta merasa cukup menjalani hidupnya. (gas/eno)

 

 

Editor : Satria Pradika
#kesejahteraan #lansia #Kulon Progo #hidup sendiri #Hari Lanjut Usia #sidang bpupki #Radjiman Widyodiningrat