Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bawaslu DIY Ungkap Kerawanan Pilkada di Kulon Progo Cenderung Kondusif, Sleman Predikat Kerawanan Tertinggi se-DIY

Anom Bagaskoro • Sabtu, 25 Mei 2024 | 01:30 WIB
Kordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu DIY Umi Illiyina saat menghadiri pelantikan Panwascam Kulon Progo, Jumat (24/5/2024).
Kordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu DIY Umi Illiyina saat menghadiri pelantikan Panwascam Kulon Progo, Jumat (24/5/2024).
 
KULON PROGO - Pilkada sebagai ajang kontestasi politik lokal tentunya memiliki berbagai aspek yang perlu disorot.
 
Salah satunya tingkat kerawanan penyelenggaran Pilkada setiap daerah yang menyelenggarakan. 
 
Kerawanan Pilkada dapat dilihat dari Indeks Kerawanan Pemilu (IKP), yang memuat instrumen deteksi dini potensi kerawanan.
 
"Kulon Progo relatif kondusif, sedangkan Sleman meruoakan wilayah kerawanan tertinggi se-DIJ," ucap Kordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Umi Illiyina, usai menghadiri pelantikan Panwascam Kulon Progo, Jumat (24/5/2024).
 
Baca Juga: Berlanjut, Pemain Timnas Malaysia Kembali Diteror, Khuzaimi Piee: Rumah Saya Dibobol Pencuri
 
Data ini didasarkan pada IKP yang diluncurkan Bawaslu RI tahun 2022.
 
Wilayah Kulon Progo dinilai lebih kondusif dalam penyelenggaran Pilkada dibanding Kabupaten Sleman.
 
Sleman menduduki peringkat pertama IKP se-DIY, dan urutan ke 25 secara nasional.
 
Berbeda dengan Kulon Progo, tingkat kerawanan Sleman cenderung tinggi dikarenakan beberapa faktor. 
 
Antara lain banyaknya pendatang, perguruan tinggi, dan calon nasional yang bertempat tinggal di Sleman. 
 
Sehingga dari segi sosial politik Sleman lebih rawan dibanding Kulon Progo.
 
Baca Juga: Bawaslu Kulon Progo Wanti-Wanti Kerawanan Pilkada Ke Panwascam Usai Dilantik
 
Kendati Kulon Progo memiliki kecenderungan penyelenggaraan Pilkada yang kondusif. 
 
Pengawasan Pilkada tetap harus diperketat. 
 
Hal ini dikarenakan dimensi Pilkada berbeda dengan Pemilu, yang secara langsung mempengaruhi kerawanan penyelenggaraan.
 
"Di Pilkada, pemilihannya lebih akar rumput sehingga potensi kerawanan meningkat," ucap Umi.
 
Umi menjelaskan, isu lokal terkadang lebih sensitif dibanding isu nasional. 
 
Diperkuat dengan hadirnya calon peserta Pilkada di masyarakat, membuat hubungan kedekatan antara pemilih dan yang dipilih semakin kuat. 
 
Baca Juga: Menikmati Curug Tirta Sela di Baturraden Banyumas yang Memiliki Panorama Keindahan
 
Selain itu, munculnya daerah basis massa pendukung menunjukkan tingkat kerawanan nyata. 
 
Basis massa pendukung bisa menjadi potensi kerawanan, karena daerah tersebut memiliki massa dengan militansi tinggi.
 
Sehingga apabila pelaksanaan Pilkada dinilai menyalahi peraturan, dan merugikan calon yang didukung makan akan berpotensi terjadinya konflik.
 
"Perlu identifikasi yang sifatnya politik lokal, untuk antispasi keberlangsungan Pilkada," ucap Umi.
 
Umi menjelaskan, dalam mengatasi kerawanan Pilkada diharapkan setiap pengawas pemilihan mampu memetakan, mengidentifikasi, dan menyiapkan strategi.
 
Baca Juga: Prediksi Lyon vs PSG Final Coupe De France Minggu 26 Mei 2024 Kick Off Pukul 02.00, H2H dan Susunan Pemain
 
Dimana setiap langkahnya harus didasari pada kondisi sosial politik daerah, dan evaluasi penyelenggaran pemilihan di tahun-tahun sebelumnya.
 
Umi mencontohkan, di Pemilu 2024 lalu banyak pemilih meninggal dunia yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).
 
Menurutnya hal itu menjadi bahan evaluasi dalam pengawasan nanti. Karena fungsi pengawasan berkaitan dengan penjaminan hak pemilih memberikan suaranya.
 
"Pilkada nantinya sangat berbeda dengan tahun sebelumnya," ucapnya.
 
Umi menjelaskan, peran pengawas sangat sentral dalam mengawal Pilkada. 
 
Dahulu Pilkada masih menjadi isu nasional, namun dizaman ini Pilkada telah menjadi isu lokal. 
 
Baca Juga: Tren Pariwisata Bergeser, Tak Lagi Tiap Akhir Pekan Tapi Hari Kerja, Pelaku Wisata Diminta Selalu Siap Hadirkan Paket Wisata Menarik
 
Yang mana dapat mempengaruhi berbagai aspek, salah satunya netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN).
 
ASN terkadang memiliki preferensi politik sendiri, di mana hal ini sah-sah saja. 
 
Namun preferensi politik diharapkan tak dimunculkan hingga menjadi konsumsi publik. 
 
Karena berpitensi menimbulkan konflik, sekaligus melanggar aturan yang ada. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva
#kerawanan #potensi #2024 #Sleman #indeks kerawanan pemilu #Pilkada #Kulon Progo #instrumen #pemilu 2024 #bawaslu diy