RADAR JOGJA - Tak seperti pasar murah yang digelar sebelumnya. Pasar Murah yang bertempat di Kalurahan Banyuroto sepi pembeli. Dinas Perdagangan dan Perindustrian DIJ sebagai pihak penyelenggara tetap menggelar pasar murah. Walaupun tak banyak pembeli yang datang.
"Masyarakat tidak banyak yang datang membeli, kemungkinan stok lebaran kemarin masih ada," ucap Fungsional Pengawas Perdagangan Disperindag DIJ Sabar Santoso, saat ditemui Radar Jogja, Senin (6/5).
Sabar menjelaskan, fenomena sepinya pasar murah dikarenakan stok bahan pokok perorangan masih banyak. Hal ini terjadi karena, saat menjelang lebaran pemeŕintah telah banyak menggelar pasar murah. Saat itu masyarakat berbondong-bondong membeli bahan pokok, dengan kuantitas banyak.
Padahal di Pasar Murah kali ini subsidi yang digeontorkan untuk tujuh komoditas bahan pokok berkisar Rp 2 ribu per kg. Komoditas yang diperdagangkan antaralain, beras, minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, telur ayam, bawang putih, dan bawang merah. Dengan total 10 ton dari seluruh komoditas. "Subsidi berasal dari APBD DIJ bantuan distribusi, perkiraan menelan biaya Rp 20 juta," ucap Sabar.
Pasar murah diklaim untuk mengatasi permintaan masyarakat terhadap komoditas tertentu. Saat ini komoditas gula menjadi incaran masyarakat. Dan harganya secara bertahap mengalami kenaikan, akibat permintaan meningkat.
Dengan pasar murah, selain menyuplai komoditas di masyarakat. Juga berfungsi sebagai usaha menyetabilkan harga, denagn mencukupi permintaan pasar. Upaya ini juga diklaim untuk mengendalikan laju inflasi. "Kalau sepi tidak kami batasi jumlah pembelian, tapi kalau ramai pasti kami batasi," ucapnya.
Biasanya pasar murah selalu dipadati oleh masyarakat yang datang. Bahkan masyarakat rrla mengantri sebelum stand penjual dibuka. Beberapa penjual bahkan kehabisan stok barang yang akan dijual kepada masyarakat yang mengantri. Namun kali ini, stok yang dibawa penjual masih banyak.
Sabar menjelaskan, terdapat tiga mekanisme apabila komoditas tak terjual banyak. Pertama, Disperindag akan menjual ke Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk membeli komoditas yang tersisa. Kemudian Bumdes akan menjual kembali ke masyarakat dengan mengambil untung tak terlalu banyak. "Di Kulon Progo beberapa kali BUMDes membeli komoditas tersisa, untuk dijual kembali ke masyarakat dengan harga miring," ucapnya.
Kedua, Disperindag akan menjual sisa komoditas ke beberapa pedagan disekitar pasar murah. Ketiga, komoditas akan disimpan dan diperdagangkan kembali untuk pasar berikutnya. Tentunya hanya beberapa komoditas yang memiliki masa simpan relatif lama.
Sepinya pasar murah juga dirasakan, Fitriani pembeli asal Padukuhan Dlingo, Kalurahan Banyuroto. Dirinya mengaku apabila ke pasar murah selalu diberikan kupon. Namun saat datang kali ini dirinya bisa membeli tanpa perlu mengantri dan menukar kupon. Bahkan pembelian tak dibatasi kuantitasnya. "Beli minyak goreng dan gula pasir, haragnya lebih miring bila dibandingkan dengan harga warung," ucap Fitriani.
Fitriani menjelaskan, pasar murah perlu digiatkan karena membantu masyarakat dalam menyediakan kebutuhan pokok. Terlebih haraga subsidi sekutar Rp 2 ribu tak membuat masyarakat keberatan untuk membeli. (gas/pra)
Editor : Satria Pradika