RADAR JOGJA - Potensi megatrust terus membayangi daerah pesisir DIY. Megatrust merupakan istilah yang menggambarkan kondisi sumber gempa di kedalaman yang dangkal. Gempa disebabkan adanya tumbukan antar lempeng bumi.
"Konsen kami memang untuk mempersiapkan kesiapsiagaan terhadap isu megatrust," ucap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo Taufik Prihadi saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, kemarin (3/5).
Taufik menjelaskan, megatrust memang harus dihadapi karena potensinya akan selalu ada. Sehingga cara terbaik dalam menghadapi dengan mempersiapkan segala komponen kesiapsiagaan. Sekaligus mengoptimalkan penggunaannya.
Megatrust dapat mengakibatkan tsunami apabila titik pusatnya berada dekat dengan pesisir. Unsur kesiapsiagaan sangat diperlukan. Dalam hal ini BPBD Kulon Progo segera membangun early warning system (EWS). Teknologi itu berfungsi memperingatkan masyarakat untuk segera menjauh dari pesisir pantai yang berpotensi diterjang tsunami. "Kami mengajukan 24 titik EWS, namun baru disetujui enam titik EWS oleh BNPB," ucapnya.
Taufik menjelaskan, pihaknya terus mengajukan pengadaan EWS karena peran teknologi sangatlah vital. Hal ini dikarenakan masyarakat sangat membutuhkan sistem peringatan untuk menghindari jumlah korban akibat suatu bencana.
Sebenarnya BPBD Kulon Progo telah berupaya pengadaan EWS melalui pengajuan anggaran untuk APBD. Namun tak kunjung direalisasi. Adanya bantuan dari BNPB cukup membantu bagi BPBD Kulon Progo, kendati jumlahnya belum sesuai kebutuhan.
Ke-6 EWS nantinya akan dipasang di pesisir pantai. Beberapa kalurahan telah dikunjungi untuk memastikan lokasi tempat. Tak hanya karena berkaitan dengan administrasi lahan untuk EWS. Namun juga berkaitan dengan efektivitas peringatan dari EWS yang bisa menjangkau masyarakat. "Penentuan lokasi harus jadi kajian utama, agar EWS dapat menjangkau masyarakat lebih banyak," tuturnya.
Sementara itu, Komandan TRC BPBD Kulon Progo Sunardi menjelaskan tentang keutamaan penggunaan EWS. EWS tak hanya memperingatkan masyarakat, namun juga berkaitan dengan golden time evakuasi saat terjadinya potensi tsunami.
Golden time bencana tsunami tergolong singkat, menurut kajian hanya berkisar 30 menit. Di mana EWS berperan penting memperingatkan masyarakat untuk segera evakuasi. Sekaligus memberikan kesempatan bagi tim untuk evakuasi. "Kami memiliki tujuh EWS di pesisir, namun rusak karena korosi, sehingga penggunaannya tak bisa optimal," ungkapnya.
Ia berharap penggunaan teknologi EWS dapat terus dimanfaatkan. Tentunya jumlah EWS juga ditambah. Idealnya EWS ditempatkan tiap 1 km sepanjang pesisir pantai. (gas/laz)