KULON PROGO - Yogyakarta International Airport (YIA) telah beroperasi penuh sejak 29 Maret 2020.
Beroperasinya bandara ini, diklaim dapat menumbuhkan perekonomian sekitar.
Belajar dengan keberadaan bandara lainnya, investasi di daerah yang terdapat bandara akan meningkat.
Namun, kenyataannya iklim investasi di Kulon Progo relatif stabil tak mengalami peningkatan.
"Investasi belum terjadi secara masif, tapi perlu diketahui bahwa bandara berpengaruh besar pada investasi," Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kulon Progo Heriyanto, saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Senin (29/4).
Menurutnya, investasi yang kurang optimal disebabkan iklim investasi yang belum terbentuk. Iklim investasi dapat terbentuk apabila Kulon Progo memberikan daya tarik bagi investor.
Daya tarik yang perlu digenjot adalah sarana prasarana penunjang yang sesuai dengan taraf bandara.
Heri menjelaskan, hingga saat ini pertumbuhan investasi berkutat pada sektor pariwisata yang didominasi sub sektor perhotelan.
Hotel di wilayah Kulon Progo terhitung mengalami kenaikan investasi. Namun, terdapat kecenderungan untuk tidak berkembang.
"Kembali lagi sarpras sektor pariwisata perlu ditingkatkan, tak hanya membangun hotel," ucap Heri.
Menurutnya, terdapat beberapa aspek yang diperlukan untuk mengembangkan iklim investasi.
Di antaranya infrastruktur, pusat perbelanjaan, ruang publik, dan kawasan khusus seperti industri maupun perumahan.
Infrastruktur untuk menunjang iklim investasi diperlukan. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan investor mengenai aksesbiltasnya.
Tak hanya tol, infrastruktur seperti pelabuhan diperlukan untuk menarik minat investor.
Kebanyakan investasi selalu mengaitkan pada rantai pasok dan berhubungan dengan industri.
Pusat perbelanjaan juga diperlukan, hal ini dikarenakan pusat perbelanjaan dapat menampung peminat. Yang tentunya akan berpengaruh pada minat investor.
Pembangunan kawasan industri dan perumahan juga diperlukan.
Kawasan industri merupakan pusat perekonomian, yang mana akan berpengaruh pada daya beli masyarakat.
Sedangkan kawasan perumahan merupakan bentuk akomodasi atas kenaikan populasi.
"Kami DPMPTSP tak pernah menjual Kulon Progo, kami hanya menawarkan ruang bagi investor," ucapnya.
Sebenarnya, pihak DPMPT telah melakukan pengakjian terkait upaya peningkatan investasi.
Namun, selalu terkendala pada perencanaan yang sifatnya meluas. Sehinnga membatasi kebijakan pembangunan.
Sementara itu, Ketua DPRD Kulon Progo Akhid Nuryati menjelaskan besarnya potensi investasi di Kulon Progo.
Namun selama ini, belum berjalan optimal. Diperlukan visi misi yang jelas dalam memanfaatkan potensi investasi yang besar.
"Diharapkan momen adanya bandara dapat mengangkat investasi," ucap Akhid.
Akhud menjelaskan, dalam pengembangan investasi tak hanya bertumpu pada investor besar. UMKM asli Kulon Progo juga harus ikut serta dalam pembentukan iklim investasi.
Menurutnya, perlu langkah konkrit dalam meningkatkan umkm dengan adanya bandara. Tak hanya monitoring namun juga evaluasi setiap bulannya.
UMKM tidak hanya di pajang dibandara namun perlu dievaluasi mengenai jumlah pendapatan. (cr7)
Editor : Amin Surachmad