Penyebaran kasus hama wereng ini hampir merata di 12 kapanewon.
Hal ini tentunya akan berimbas pada hasil panen dan kecukupan pemenuhan komoditas padi.
"Ada kasus hama wereng batang coklat (WBC) di Kulon Progo," ucap Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kulon Progo Drajat Purbadi, saat ditemui Radar Jogja, Selasa (23/4).
Berdasarkan pemantauan DPP Kulon Progo terdapat 2.426 ha dari 7.768 ha lahan tanam padi yang terkena hama WBC. 2 ribu ha laha ini terjangkit hama dengan kadar ringan, sedang, berat, dan fuso. Lebih detail lahan padi yang dinyatakan fuso akibat hama sebesar 59 ha.
Drajat menjelaskan, serangan hama cukup merata di 12 kapanewon.
Namun, intensitas serangan berbeda-beda setiap daerahnya. Hal ini berkaitan dengan kondisi cuaca masing-masing daerah.
Selain itu umur tanaman juga berpengaruh terhadap intensitas serangan hama.
"Pengendaliannya tentu dengan beberapa mekanisme, dan sekarang sudah berjalan," ucap Drajat.
Menurutnya pengendalian yang telah dilakukan oleh DPP berupa pemantauan oleh para pengendali hama yang memantau setiap laporan yang diterima DPP.
Saat melihat adanya gejala hama, pihaknya kemudian akan menyuplai alat dan pestisida untuk penyemprotan.
Tak hanya itu, DPP juga menekankan pentingnya pola tanam agar dapat memutus rantai penyebaran hama wereng.
Drajat mengungkapkan, pola tanam perlu diperhatikan mengingat siklus hidup wereng dan persebarannya bisa meluas.
Senada dengan Drajat, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan DPP Kulon Progo Supomo menjelaskan, pengendalian hama wereng telah dilakukan oleh DPP.
Mekanisme pengendalian berupa penyemprotan pestisida kimiawi selama 3 kali. Dengan mempertimbangkan intensitas hama.
"Penyemprotan dilakukan selama 3 kali, dengan unsur pestisida yang berbeda-beda," ucap Supomo.
Supomo menjelaskan, saat penyemprotan pertama akan dinilai apakah hama mati.
Apabila belum mati maka dihari kedua akan dialanjutkan penyemprotan kembali hingga 3 kali penyemprotan.
Biasanya hama akan menghilang setelah dilakukan penyemprotan berturut-turut.
Menurutnya, penyemprotan selama 3 kali cukup efektif dengan mempertimbangkan siklus wereng.
Siklus hidup wereng saat menetas hingga kembali bertelur berkisa 28 hari. Sedangkan waktu menetasnya hanya membutuhkan waktu 4-5 hari.
"Dibanding tahun sebelumnya ini memang lebih parah persebarannya," ucap Supomo.
Supomo menjelaskan, fenomena ini terjadi karena adanya perubahan cuaca ekstrim.
Baca Juga: Persiapan Puslatda Jauh Lebih Baik, KONI DIY Optimistis Raih 16 Medali Emas di PON Aceh-Sumut
Cuaca sangat berpengaruh terhadap kelembapan udara yang berdampak pada keberhasilan penetasan telur wereng.
Di cuaca normal telur wereng hanya menetas sekitar 30%, sedangkan dalam kondisi saat ini telur wereng menetas hampir 90%. Yang berarti jumlah wereng akan over populasi.
Menurutnya dari 12 kapanewon, paling banyak terdampak berada di Kapanewon Samigaluh dan Nanggulan.
Yang mana daerah ini terdampak karena berkaitan dengan cuaca dan siklus wereng. Daerah pegunungan cenderung memiliki iklim dingin dan perubahan cuaca ekstrim.
Sehingga wereng tak terkendali jumlahnya.
Adanulya serangan hama ini tentunya sangat berpengaruh terhadap hasil panen. Menurut Supomo hasil panen tidak akan menurun drastis.
Namun, dirinya tak menampik kemungkinan produksi beras akan berdampak.
Sementara itu, Lurah Kebonharjo Sugimo, membenarkan wilayahnya paling banyak terdampak hama wereng.
Sekitar 21,5 ha lahan padi mengalami serangan hama. Sebagian besarnya puso akibat sudah tak tertanggulangi.
Menurutnya hal ini sangat berdampak pada petani diwilayahnya. Khususnya 143 petani yang terdampak langsung dengan serangan hama.
"Kami sudah bersurat agar ada perhatian dari dinas terkait," ucap Sugimo, saat ditemui radar Jogja, Senin (22/4).
Sugimo menjelaskan, agar penyebaran hama tak meluas dan mempengaruhi hasil panen dirinya telah berkordinasi dengan dinas. Dinas langsung menurunkan pestisida dan alat untuk menyuplai kebutuhan penyemprotan. Sedangkan penyemprotan dilakukan oleh masyarakat secara kerja bakti.
Editor : Bahana.