KULON PROGO - Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) kembali digelar oleh BMKG sebagai agenda nasional. Penyelenggaraan dilaksanakan di Pantai Pasir Kadilangu, Senin (22/4).
Sekolah cuaca bertujuan memberikan pengetahuan bagi nelayan dan penambak tentang kondisi cuaca yang berpengaruh terhadap mata pencahariannya.
"Pengetahuan dan pemahaman terkait cuaca sangat diperlukan bagi nelayan serta penambak," ucap Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, usai SLCN digelar, Senin (22/4).
Dwikorita menjelaskan, pemahaman diperlukan bagi nelayan mengingat kondisi cuaca laut yang terkadang tak sama dengan daratan.
Bagi penambak yang membudidayakan hasi laut, pemahaman terkait cuaca juga sangat mempengaruhi hasil panen.
Banyak terjadi penambak yang tak memahami cuaca, sehingga hasil panen tambaknya tak optimal.
Terlebih, dengan adanya perubahan iklim yang berada di depan mata, membuat pemahaman terkait cuaca menjadi baarang wajib bagi nelayan dan penambak.
"Nelayan dan penambak merupakan kelompok yang cukup terdampak akibat perubahan iklim," ucap Dwikorita.
Dalam sekolah cuaca ini, peserta sejumlah 100 orang yang berasal dari Kulon Progo dan Purworejo mendapat pemahaman baru.
Peserta diajarkan cara membaca cuaca melalui aplikasi yang telah disediakan. Serta cara memahami gambaran cuaca dalam aplikasi.
Sehingga peserta dapat memitigasi apabila perubahan cuaca akan berimbas pada hasil tangkap ataupun panen tambaknya.
Usai kegiatan peserta dan pemateri melakukan giat lapangan berupa penebaran bibit udang di tambak yang tak jauh dari lokasi sekolah.
Tak hanya itu, peserta juga dibekali cara membaca peta maritim, serta pengetahuan membaca imformasi yang dikeluarkan BMKG.
Hal ini erat kaitannya dengan pemahaman mitigasi nelayan terkait kewaspadaan gelombang tinggi.
"Ini merupakan upaya untuk mendukung keselamatan dan kesejahteraan masyarakat nelayan dan petambak udang di DIY," ucapnya.
Sementara itu, Bambang Sutrisno salah satu nelayan asal Congot menjelaskan, kebermanfaatan sekolah tersebut.
Menurutnya, sekolah cuaca memeberikan tambahan pemahaman bagi dirinya.
Selama ini banyak kekeliruan dalam memahami cuaca saat melaut maupun budidaya tambak.
Ia menceritakan, selama beberapa bulan terakhir di pesisir selatan Kulon Progo gelombang sangat tinggi.
Membuat beberapa tambak udang terkena imbas akibat air pasang. Pemahaman yang didapat akan menjadi upaya mitigasi baginya.
"Biasanya pakai ilmu titen untuk melaut, sehingga terkadang meleset prediksi nelayan," ucap Bambang.
Bambang menjelaskan, sebelum melaut banyak nelayan yang mengandalkan prediksi tanpa data pasti.
Sehingga banyak nelayan dan penambak tak mendapatkan hasil optimal.
Adanya sekolah ini dapat menggeser perilaku nelayan lama ke arah yang lebih baik. (cr7)
Editor : Amin Surachmad