RADAR JOGJA - Bakpia dan Wingko menjadi makanan yang seringkali menjadi oleh-oleh dari pemudik, ketika kembali ke perantauan. Sejak lebaran hingga menjelang arus balik, permintaan bakpia dan wingko mengalami kenaikan.
Hal ini terpantau di beberapa toko oleh-oleh, banyak dipadati para pembeli. Salah satunya di toko oleh-oleh sekaligus produsen bakpia dan wingko yang terletak di Padukuhan Terbah, Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih.
"Dari sisi penjualan mengalami kenaikan, karena banyak pemudik membeli sebagai oleh oleh," ucap pemilik toko oleh-oleh Rahmat Sugianto, saat ditemui Radar Jogja di tokonya, Senin (15/4).
Rahmat menjelaskan, kenaikan angka penjualan terjadi sejak H-3 lebaran, dan diprediksi akan terus terjadi hingga H+10 lebaran. Sebelum lebaran kebanyakan produk makanan dibeli untuk kudapan lebaran. Sedangkan setelah lebaran, penjualan makanan ditujukan untuk oleh-oleh.
Di hari normal penjualan bakpia wingko berkisar 2 ribu dus. Sedangkan saat lebaran penjualan naik menjadi 12 hingga 15 ribu dus perhari. Kenaikan ini berimbas langsung pada omset penjualan. Biasanya omset penjualan berkisar Rp 10 juta perhari. Namun, saat lebaran naik hingga 3 kali lipat, diangka Rp 30 juta perhari.
Rahmat menjelaskan, jumlah produksi saat ini belum menampung minat masyarakat yang cukup tinggi. Hal ini terjadi karena di Kulon Progo tidak banyak toko dan tempat produksi oleh-oleh bakpia wingko. Kebanyakan diproduksi di Jogja. Sehingga masyarakat Kulon Progo banyak yang langsung mencari ke tokonya.
Untuk menampung minat masyarakat, pihaknya bahkan menambah pekerja untuk menggenjot produksi. Saat hari normal, terdapat 60 pekerja, dan saat ini pekerja ditambah hingga 120 pekerja. Pekerja ini kebanyakn di tempatkan di produksi wingko karena produksinya memakan waktu lama. Dan sebagian untuk produksi bakpia serta pramuniaga.
Kebanyakan pekerja tambahan berasal dari wilayah Kulon Progo, dan sebagian Magelang. Pekerja ini memang biasanya selalu dipanggil untuk bekerja sambilan. Namun sudah berpengalaman untuk produksi bakpia dan wingko.
Dari segi bahan produksi, untuk memenuhi minat masyarakat bahan produksi terus didatangkan. Pada hari biasa produksi membutuhkan 2,5 kwintal kacang hijau per hari untuk bakpia. Saat lebaran bekisar 8-10 kwintal kacang hijau perhari. Untuk wingko, pada momen lebaran menyiapkan 3 ribu butir kelapa, sedangkan dihari normal hanya 1 ribu butir.
Karena peminatnya membeludak, dirinya berstrategi agar pembeli tidak kehabisan. Dengan cara hanya menyediakan satu tipe paket dus. Biasanya terdapat 3 tipe paket dus, tergantung isinya masing. Pihaknya hanya menyediakan paket dus berisi 15 bakpia, agar semua pembeli mendapat bagian. Dan tak khawatir kehabisan setelah menunggu beberapa hari.
Sementara itu, Lia pembeli oleh-oleh asal Jakarta menjelaskan, saat pulkam dirinya kebingungan mencari oleh-oleh di Kulon Progo. Dan setelah berkonsultasi dengan temanny, ia langsung menuju ke rumah produksi milik Rahmat.
"Ini membeli bakpia, wingko, dan baberapa makanan khas lain," ucap Lia. (cr7/pra)
Editor : Satria Pradika