Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nelayan Alih Profesi Jadi Petani atau Buruh, Di Pesisir Pantai Selatan Kulon Progo karena Paceklik

Anom Bagaskoro • Senin, 15 April 2024 | 15:30 WIB
SEDIKIT: Ikan segar hasil tangkapan nelayan yang dilelang di TPI Congot, Kulon Progo.
SEDIKIT: Ikan segar hasil tangkapan nelayan yang dilelang di TPI Congot, Kulon Progo.

 

RADAR JOGJA – Nelayan pesisir pantai selatan Kabupaten Kulon Progo, tiap tahunnya selalu mengalami musim paceklik. Sehingga, nelayan tidak melakukan kegiatan melaut selama musim tersebut. Alhasil banyak, nelayan yang beralih profesi, untuk mencukupi kebutuhannya.


“Kalau sedang musim paceklik, kami tidak melaut,” ucap Ketua Kelompok Nelayan Bogowonto Bambang Sutrisno, saat ditemui Radar Jogja di TPI Congot, pekan lalu.


Bambang menjelaskan, nelayan dalam kelompoknya banyak yang berpindah profesi menjadi petani, buruh serabutan, maupun bekerja di sektor non formal lainnya.

Bambang sendiri selama masa paceklik bekerja di sektor konstruksi, sebagai pekerja lepas. Menurutnya fenomena ini menjadi hal biasa bagi nelayan di pesisir pantai Kulon Progo.


Alasannya sederhana, sebagian nelayan menganggap apabila musim paceklik datang, dan nelayan dipaksa melaut justru akan merugi.

Hal ini terjadi karena wilayah tangkap nelayan pesisir Kulon Progo sangat terbatas. Kondisi ini, disebabkan sederhananya teknologi yang dimiliki nelayan.“Bukan kapal, hanya perahu kecil jadi jarak tempuhnya terbatas,” ucap Bambang.


Bambang menjelaskan, nelayan di daerahnya hanya bermodal perahu kecil dengan dimotori mesin tempel berkekuatan 15 PK. Umumnya perahu sejenis ini hanya kuat melaut selama delapan jam, dan tak bisa berhari-hari di tengah laut. Kapal yang mampu bertahan berhari-hari merupakan kapal yang dilengkapi 2 motor dengan ukuran diatas 2 PK.


Selain itu lambung kapal juga berpengaruh ke durasi nelayan melaut. Lambung kapal berfungsi sebagai tempat penyimpanan ikan tangkap, dengan dibekali es sebelum melaut.

Apabila, nelayan tak memiliki lambung kapal yang memadai dan dipaksa melaut sela berhari-hari, ikan tangkapannya tidak dapat dipasarkan karena tidak segar.


Kendati selalu mempersiapkan segala hal sebelum masa paceklik, banyak nelayan yang memang tidak hidup dengan layak. Menurut Bambang, nelayan Kulon Progo perlu diperhatikan oleh pemerintah. Perhatian bisa berwujud dalam insentif seperti subsidi, ataupun permodalan untuk mengembangkan bisnis perikanan tangkap.

Baca Juga: Ini Peringatan Dini BMKG, Gelombang Tinggi di Pantai Selatan Gunungkidul Ancam Keselamatan Nelayan


Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kulon Progo Wakhid Purwosubiyantoro, membenarkan perihal masa paceklik bagi nelayan.

Menurutnya nelayan di Kulon Progo memang memiliki masa melaut maksimal 200 hari dari 365 hari. Apabila nelayan melihat nilai ekonomis yang sesuai mereka akan melaut, bahkan tanpa harus disuruh. “Contohnya musim paling bagus itu Januari hingga Maret,” ucap Wakhid.


Wakhid menjelaskan, saat bulan Januari hingga Maret, ikan tangkap sangat melimpah. Nelayan biasanya banyak mendapatkan ikan bawal laut dan lobster.

Nelayan memanfaatkan momen musim migrasi ikan tangkap untuk melaut, karena memiliki keuntungan yang signifikan. Hingga masuk masa paceklik, nelayan akan terus melaut.


Wakhid menuturkan, masa paceklik dimulai sejak April dengan penurunan jumlah ikan tangkap. Dan berangsur turun di Mei hingga Juni.

Di bulan Juni hasil ikan tangkap akan berada di titik terendahnya. Dan berlanjut hingga Agustus, kemudia bertahap hasil ikan tangkap akan mengalami kenaikan. (cr7/pra)

Editor : Satria Pradika
#musim paceklik #Pantai Selatan Kulon Progo