KULON PROGO - Tim Gabungan Operasi Pasar (Opsar) selama 2 hari gencar melakukan pengecekan dagangan yang diperjualbelikan di pasar tradisional jelang Lebaran Idul Fitri.
Tim Opsar, yang terdiri dari Satpol PP, Dinas Kesehatan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian dan Pangan, serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian, melakukan pengecekan di 3 pasar wilayah Kulon Progo.
"Selama 2 hari, kami melakukan operasi di Pasar Jagalan, Wates, dan hari ini Pasar Bendungan," ucap Pengawasan Pasar Satpol PP Kulon Progo Rochmat Budianto, saat ditemui Radar Jogja di Pasar Bendungan, Jumat (5/3/2024).
Menurut Rochmat, Tim Opsar menemukan beberapa makanan dan bahan makanan yang mengandung zat berbahaya.
Penemuan ini terjadi, setelah Tim Opsar melakukan pengecekan zat berbahaya di lapangan.
Dinas Kesehatan melakukan pengecekan pada makanan dan bahan makanan setengah jadi.
Sedangkan Dinas Pertanian dan Pangan melakukan pengecekan pada produk hasil pertanian.
Dari pengecekan kedua, menghasilkan beberapa produk dan bahan makanan mengandung zat berbahaya.
Zat berbahaya Rhodamin B terkandung pada krupuk rengginang yang belum digoreng.
Zat Rhodamin B ini digunakan untuk memberikan warna merah pada kerupuk rengginang.
Biasanya kerupuk rengginang sering disajikan saat momen lebaran.
Sehingga diharapkan konsumen untuk lebih berhati-hati dalam membeli bahan makanan yang memiliki warna mencolok.
Selain itu beberapa jenis sayuran terindikasi mengandung pestisida dengan kadar rendah hingga tinggi.
Sayuran seperti sawi terkonstrasi pestisida dengan kadar rendah.
"Konsentrasi pestisida dengan kadar tinggi ditemukan di cabai setan," ucap Rochmat.
Rochmat menjelaskan, temuan sayuran yang mengandung konsentrasi pestisida bukanlah hal baru.
Namun, temuan ini tergolong cukup banyak kasusnya di Kulon Progo.
Hal ini mengingat, kebanyakan suplier sayuran di Kulon Progo hanya berasal dari satu daerah.
Apabila, semasa menjelang panen petani di daerah tertentu menyemprot pestisida dengan takaran tinggi.
Akan membuat hasil panen terkontaminasi pestisida. Yang nantinya akan berpengaruh dihampir seluruh produk panennya.
"Untuk pengujian pestisida, dari tim memang membawa bahan uji ke laborat khusus," ucap Rochmat.
Rochmat menjelaskan, selain sayuran terdapat daging ayam yang sudah tidak layak edar. Daging bewarna kebiruan akibat pembusukan.
Selain itu, daging yang sering dikeluar masukkan ke ruang pendingin dapat mempengaruhi kesegaranya. Sehingga penjual seharusnya tidak menjual kembali daging tersebut.
Produk kadaluarsa juga berhasil diamankan Tim Opsar. Terdapat produk kadaluarsa yang ditemukan di 3 jenis makanan. Yaitu jenis makanan bumbu yang paling banyak, diikuti jenis produk makanan berupa mie kering.
Rochmat berharap agar masyarakat sebagai konsumen harus berhati-hati dalam membeli bahan makanan yang berpotensi terdapat zat berbahaya.
Banyak indikator yang dapat diketahui masyarakat tentang sampel zat berbahaya yang terkanduk dalam produk makanan. Diharapkan masyarakat dapat selektif sebelum membeli. (cr7)
Keterangan
1.