RADAR JOGJA - Kajian mengenai dunia antariksa dan menjelajahinya, menjadi topik yang terus dikaji. Mengingat masih banyak hal yang belum diketahui manusia. Pemikiran mengenai ketahanan pangan di luar angkasa, menjadi topik yang digeluti oleh tiga periset dan satu pegiat antariksa asal Indonesia.
ANOM BAGASKORO, KULON PROGO
Mereka berempat berhasil mengembangkan produk makanan yang berasal dari jamur. Produk tersebut ditujukan sebagai bahan pangan di luar angkasa. Dengan mempertimbangkan semua unsur pendukung, mulai dari bahan pembuatan, proses pembuatan, dan hasil produk yang berupa prototype.
"Luarannya berupa produk makanan yang bisa diistribusikan untuk keperluan pelatihan ataupun penjelajahan di luar angkasa," ucap Direktur ISSS Venzha Christ, salah satu pegiat yang mengikuti riset produk, Senin (25/3).
Venzha menjelaskan, produk makanan luar angkasa sebelumnya telah dikenalkan melalui pameran yang diselenggarakan di Kampung Alien, Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Sabtu (23/3) lalu. Pameran tersebut mengenalkan kepada masyarakat luas mengenai produk hasil riset mereka berempat.
Riset tersebut menggabungkan tiga periset berasal dari Universitas Podomoro, akademisi dari ISI Jogjakarta, dan University of Michigan. Tiga periset tersebut membuahkan hasil sesuai bidang keilmuannya. "Space food sebenarnya sudah banyak dikembangkan oleh negara seperti Rusia," ucap Venzha.
Venzha menjelaskan, Rusia menjadi salah satu negara paling banyak menyuplai space food. Namun, berdasarkan dari pengalamannya, variasi space food asal Rusia sangat sedikit. Rasanya cenderung hambar akibat tidak ada komponen pendukung. Berbeda dengan produk yang diusung oleh ketiga periset yang memiliki cita rasa lokal dan Asia.
Proyek riset ini telah dijalankan sejak 2023. Mengusung potensi Indonesia yang memiliki biodiversitas yang beragam. Menurutnya penggunaan jamur sebagai bahan utama produk sudah mengkaji potensi yang dimiliki Indonesia."Tidak akan dipatenkan, agar masyarakat luas mampu memanfaatkan," ucap Venzha.
Walaupun produk risetnya tergolong tak biasa, dirinya dan tim berniat agar produk dijadikan contoh untuk masyarakat luas. Tak hanya untuk kegiatan luar angkasa, produk ini juga bisa dikembangkan untuk pangan alternatif. Hal ini, mengingat kompabilitas produk yang dapat dibuat oleh semua kalangan.
Timnya tak hanya berorientasi pada luar angkasa. Namun, berorientasi pada kesexiaan pangan di bumi. Melihat kondisi bumi yang lahan pangannya semakin sempit. Diperlukan inovasi pangan yang sehat, dan tidak memakan banyak tempat.
Sementara itu, Dina Lestari peneliti asal Universitas Podomoro menjelaskan, space food pertama asal Indonesia terbuat dari fungi atau jamur. Menurutnya, jamur dipilih karena dapat diolah menjadi berbagai macam space food.
Terlebih jamur memiliki sistem adaptasi tumbuhan yang mampu ditanam di berbagai tempat, termasuk di luar angakasa. "Asalkan menjaga kelembapannya, jamur dapat dibudidaya di manapun," ucap Dina.
Dina menjelaskan, jamur memiliki potensi besar dalam pengolahannya. Apabila ditinjau dari cara perkembangan jamur, dapat tumbuh secara cepat, masif, dan diberbagai tempat. Bahkan jumlahnya melebihi makhluk hidup lainnya seperti manusia ataupun hewan.
Terdapat tiga jamur yang menjadi bahan utama pembuatan produk, antara lain jamur kuping, tiram, dan salju. Ketiga jamur tersebut diolah menjadi kudapan seperti kue nastar, dan sirup.
Menurutnya produk olahan tersebut sanga mudah dibuat. Dalam menghasilkan produk ini pihaknya telah melakukan riset. Sehingga aman dikonsumsi. "Yang biasanya susah diolah masyarakat adalah jamur kombucha atau teh," ucap Dina.
Jamur teh sangat jarang diolah masyarakat karena rasanya yang masam. Namun, diproduknya cita rasanya dapat di netralkan, menjadi minuman. Ia berharap agar produknya bisa dijadikan opanduan unruk masyarakat agar dapat mengolah jamur secara optimal.
Saat ini, timnya tengah melakukan kajian mengenai kandungan gizi, dan mengoptimalkan kandungan yang ada. Selain itu, timnya juga sedang mengkaji pengemasan makanan agar dapat dibawa sebagai pangan luar angkasa. (pra)
Editor : Satria Pradika