KULON PROGO - Setiap hari Minggu, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kalipenten, Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo, selalu dipadati jamaah gereja.
Namun, ada hal menarik dari kegiatan beribadah yang terjadi di dalam gereja. Ada seorang laki-laki bernama Mujiyono Nasuha, 47, berdiri di tengah-tengah jalan.
Mujiyono berdiri di tengah Jl Sentolo sambil mengawasi keadaan jalan.
Ketika ada jamaah yang menggunakan kendaraan ingin menyebrang jalan, Mujiyono sigap dalam menyeberangkan.
Jalan Sentolo merupakan jalur alternatif menuju Wates ke Jogja ataupun sebaliknya. Keadaan jalanan sangat ramai. Selain itu, sering kali kecelakaan terjadi di daerah tersebut.
"Sudah menjalani kegiatan menyeberangkan jamaah gereja ini selama 10 tahun," ucap Mujiyono.
Mujiyono menjelaskan, saat menyeberangkan jamaah selalu berada di depan gereja sejak pukul 08.00 sampai 10.00 WIB.
Ia tak hanya membantu menyeberangkan kendaraan keluar masuk gereja. Namun, juga membantu warga sekitar yang beraktivitas di sekitar gereja.
Untuk mempernyaman para penyebrang ia selalu datang lebih awal dari jamaah untuk memasang separator portable jalan.
Ia ingin memastikan agar penyeberang merasa aman dan nyaman selama menyeberang.
Hal ini, melihat kondisi jalan yang berupa turunan yang bisa saja membuat kendaraan tak sempat mengerem.
"Hanya menyebrangkan jalan, kalau pengamanan ada sendiri," ucap Mujiyono.
Mujiyono menjelaskan, walaupun hanya menyebrangkan jalan, dirinya seringkali dimintai tolong pihak gereja untuk melakukan pengamanan.
Pengamanan gereja biasanya ia lakukan saat acara tertentu, seperti Natal.
Mujiyono mengaku, dirinya tak keberatan membantu gereja. Ia melandasi kegitannya sebagai bentuk pengabdian ke masyarakat. Sebagai usaha menjaga kerukunan antar umat beragama.
"Dari gereja memberikan perhatian dengan memberikan uang Rp 300 ribu setiap bulannya," ucap Mujiyono.
Mujiyono mengaku bersyukur karena kegiatannya bermanfaat bagi masyarakat.
Ia juga tak pernah mempermasalahkan terkait pemberian uang, karena pemberian uang ia anggap sebagai apresiasi dari gereja.
Ia setiap hari bekerja sebagai petani dan memelihara ternak.
Ia juga melakukan tugas menyebrangkan siswa SDN Kaliagung setiap pagi hingga siang hari.
Dari menyebrangkan siswa SD, ia mendapat tambahan pemasukan sebesar Rp 300 ribu.
"Alhamdulillah cukup untuk kebutuhan sehari-hari," ucap Mujiyono.
Sementara itu, Apriyanti, 36, istri Mujiyono, sangat mendukung kegiatan suaminya dalam menyebarankan jamaah gereja.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan kegiatan postif, demi menciptakan ketenteraman dan toleransi antar umat beragama.
Ia menjelaskan, selama menjadi petugas penyebrangan banyak sekali tetangganya yang membicarakan kegitan tersebut.
Namun, ia tak menggubris omongan tetangganya. Karena bagi dirinya tujuan suaminya sudah sangat baik.
"Kalau penghasilan, alhamdulillah selalu tercukupi," ucap Apriyanti. (cr7)
Editor : Amin Surachmad