Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terkait Penetapan Hari Raya Idul Fitri, Ketum Muhammadiyah Haedar Nashir: Tidak Akan Problematik Ketika Pemerintah Mengayomi Semua Pihak

Iwan Nurwanto • Minggu, 24 Maret 2024 | 22:24 WIB
SAMA : Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.
SAMA : Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

SLEMAN - Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah memprediksi penetapan Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah antara pemerintah maupun Muhammadiyah akan jatuh pada hari yang sama.

Meskipun demikian, pemerintah tetap diminta mengayomi semua pihak jika nantinya terjadi perbedaan.


Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, dari hasil kajian dan pengumpulan informasi pihaknya kemungkinan besar Hari Raya Idul Fitri tahun ini akan jatuh pada hari yang sama.

Yakni, pada tanggal 10 April 2024 mendatang. Baik itu yang ditetapkan oleh pemerintah maupun pengurus Muhammadiyah.


“Untuk hari raya Idul Fitri berbeda kemungkinannya tipis,” ujar Haedar saat ditemui, Kamis (21/3) lalu.


Kendati nantinya penetapan Hari Raya Idul Fitri akan berbeda ataupun sama, dia berharap, agar umat muslim di Indonesia dapat menyikapinya dengan bijak. 

Selain itu, menjadikan ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri sebagai momen untuk mematangkan pribadi, pikiran dan sikap agar membawa pencerahan.


Lebih dari itu, Haedar menilai, bahwa pemerintah juga harus bisa selalu mengayomi kekuatan dan potensi umat beragama.

Entah itu dalam konteks perbedaannya maupun kesamaannya.


“Masalah itu (penetapan Idul Fitri) tidak akan problematik ketika pemerintah mengayomi semua pihak, baik ketika sama lebih-lebih ketika berbeda,” tegas Haedar.


Dikutip dari Jawapos.com, Kementerian Agama (Kemenag) menggelar sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1445 Hijriah, pada hari ini Minggu (10/3) lalu.

Sejumlah lembaga, salah satunya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan penetapan awal Ramadhan 1445 Hijriah.

 Baca Juga: Viral! Dua Pelajar SMP Diduga Mesum di Kali Kota Plengkung Magelang

Kemenag menggunakan kriteria baru yang mengacu pada hasil kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada 2021.

Penerapan kriteria baru MABIMS berdampak pada perubahan dalam penghitungan dan penetapan awal bulan Hijriah.

 

Berdasarkan pada hasil kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada 2021 kriteria hilal berubah menjadi ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan surat bersama ad referendum pada 2021 terkait penggunaan kriteria baru MABIMS di Indonesia mulai tahun 2022.

 

Peneliti ahli utama Pusat Riset Astronomi, Prof Thomas Djamaluddin menuturkan, rukyat (pengamatan) dan hisab (perhitungan) secara astronomi dinilai setara dalam penentuan awal bulan Hijriah. Sehingga, tidak ada dikotomi antara rukyat dan hisab.

 

Dengan metode perhitungan itu, bakal ada potensi perbedaan awal puasa pada bulan Ramadhan tahun ini. Namun akan ada kesamaan pada awal bulan Syawal. 

Sehingga, awal puasa diperkirakan akan dimulai pada tanggal 12 Maret 2024, dan Idul Fitri atau 1 Syawal 1445 Hijriah akan jatuh bersamaan pada tanggal 10 April 2024.

 

“Terkait perbedaan yang terjadi lebih karena perbedaan kriteria dan perbedaan otoritas yang belum bisa disatukan, tetapi Kementerian agama dan Majelis Ulama Indonesia terus mengupayakan adanya persamaan. Perbedaan yang ada harus kita hormati namun upaya untuk mencari titik temu harus kita teruskan,” beber Thomas. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#Haedar Nashir #Muhammadiyah #idul fitri