Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tren Penggunaan Bahan Berbahaya di Makanan Mengalami Penurunan, BBPOM Yogyakarta Periksa Makanan di Alun-Alun Wates

Anom Bagaskoro • Sabtu, 23 Maret 2024 | 01:50 WIB
PASTI: Uji cepat yang dilakukan BBPOM Yogyakarta sebelum berbuka puasa. (Anom Bagaskoro/Radar Jogja)
PASTI: Uji cepat yang dilakukan BBPOM Yogyakarta sebelum berbuka puasa. (Anom Bagaskoro/Radar Jogja)

KULON PROGO - Bahan berbahaya seperti formalin sempat menghantui masyarakat. Penggunaan bahan berbahaya seringkali ditemui di olahan makanan yang dijual oleh pedagang nakal.

Namun, menurut Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta, akhir-akhir ini penggunaan bahan berbahaya dalam makanan berkurang.

"Tren penggunaan bahan berbahaya untuk campuran makanan mengalami penurunan," ucap Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BBPOM Yogyakarta Rizqi Amalia Rohmah, saat pemeriksaan makanan di Alun-Alun Wates, Kamis (21/3).

Rizqi menjelaskan, beberapa bahan berbahaya yang sering digunakan sebagai campuran makanan oleh pedagang nakal.

Antara lain, formalin, boraks, rodhamin B, dan methanil yellow. Penggunaan formalin biasanya ditujukan agar bahan makanan bisa awet.

Boraks ditujukan untuk pengawet, dan penambah tekstur. Rodhamin B digunakan sebagai pewarna makanan yang cerah.

Methanil yellow digunakan sebagai pewarna pada makanan untuk menimbulkan warna kuning pendar.

Menurut Rizqi, penggunaan bahan-bahan tersebut berbahaya bagi tubuh manusia. Baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang.

Apabila bahan berbahaya masuk dalam jumlah besar ke dalam tubuh, maka tubuh bisa saja keracunan.

"Terus kita gencarkan pemerikasaan dan sosialisasi seperti hari ini," ucap Rizqi.

Rizqi menjelaskan, penggunaan bahan berbahaya dalam makanan dapat berkurang karena kesadaran dari masyarakat.

Selain itu, gencarnya pemeriksaan yang dilakukan BBPOM cukup berpengaruh. Seperti yang dilakukan BBPOM yang mengagendakan pemeriksaan makanan takjil di Alun-Alun Wates kemarin, Kamis (22/3).

Rizki mengutarakan, selama bulan Ramadhan pihak BBPOM terus menggencarkan pemeriksaan makanan.

Sasarannya adalah makanan berbuka puasa, yang sering dijajakan ditempat umum. Sebelum pemeriksaan di Kulon Progo, BBPOM melakukan pemeriksaan di Sleman dan Bantul.

"Di dua kabupaten tersebut tidak ada temuan, total 40 sampel yang diuji," ucap Rizqi.

Untuk pemeriksaan di Kulon Progo, pihaknya menggandeng Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo.

Rizqi menjelaskan, tidak ada takjil yang dijual pedagang di Alwa yang mengandung bahan berbahaya. Hal ini didasari hasil uji cepat ke makanan yang dijual dengan 17 sampel makanan.

Kendati tak ditemukan bahan berbahaya, Rizqi mengimbau masyarakat tetap berhati-hati dalam membeli makanan.

Konsumen diharapkan memeriksa warna, kondisi, dan tekstur makanan.

Menurut Rizqi, sebelumnya seringkali pihaknya mendapati pedagang nakal yang menjual makanan yang dicampu bahan berbahaya.

Seperti penggunaan boraks dan formalin pada lanting maupun kerupuk.

"Dulu seringkali ditemui pada krupuk dengan motif putih merah menggunakan pewarna pakaian," ucap Rizqi.

Senada dengan Rizqi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo Sri Budi Utami, menyoroti penggunaan bahan berbahaya pada makanan.

Menurutnya, bahan berbahaya bersifat merusak organ tubuh manusia. Ia mengharapkan selain pihaknya, masyarakat juga proaktif dalam memilih makanan.

"Banyak aosialisasi sudah dilakukan agar masyarakat mengetahui makanan yang mengandung zat berbahaya," ucap Sri beberapa waktu lalu. (cr7)

Editor : Amin Surachmad
#Kulon Progo #olahan makanan #bahan berbahaya #formalin