RADAR JOGJA – Yogyakarta merupakan kawasan yang kaya akan seni tradisional. Salah satunya adalah Tari Angguk yang berasal dari Kulon Progo dan diyakini telah muncul sekitar tahun 1900-an.
Seni ini tumbuh subur di daerah pedesaan, terutama di bagian barat dan utara Kulon Progo (Temon, Kokap, Girimulyo), meskipun juga ditemui di Kecamatan Sentolo, walaupun tidak seumur Kokap.
Tari ini awalnya ditarikan oleh penari laki-laki, namun pada tahun 1991, di dusun Pripih, Hargomulyo, Kokap, untuk pertama kalinya tarian ini ditarikan oleh penari perempuan, yang perdana ditampilkan pada tanggal 17 Agustus 1991.
Hal tersebut memicu kegembiraan dan kesenangan tersendiri bagi penonton, yang menyukai gaya penari perempuan tersebut.
Makna dan Filosofi di Balik Tari Angguk
-
Sebagai Ungkapan Budaya Masyarakat Petani Karena mayoritas penduduk Kulon Progo bekerja sebagai petani, kesenian ini menjadi medium ekspresi budaya masyarakat pertanian. Sebelum pertunjukkan dimulai, mereka selalu memohon keselamatan kepada Tuhan melalui simbol-simbol seperti sesaji yang merupakan tradisi khas masyarakat petani.
-
Sebagai Sarana Dakwah Tari Angguk juga digunakan sebagai sarana dakwah dengan mengiringi syair dan sholawat Islam. Syair-syair dalam tembang ini mengajak untuk berbuat kebajikan dan menjauhi perilaku menyimpang.
Keunikan Tari Angguk:
-
Gerakan Tarian Gerakan dalam Tari Angguk relatif lebih sulit dibandingkan dengan tarian-tarian pada umumnya. Tarian ini terbagi menjadi dua jenis: Tari Jejeran (ombyokan) dan Tari Pasangan. Tari jejeran terdiri dari pemuka, jejeran ndadi, jejeran barat gunung, dan jejeran ambil kain. Sedangkan Tari Pasangan dilakukan oleh penari berpasangan, namun bisa juga dilakukan oleh tiga atau empat penari. Contoh Tari Pasangan antara lain Pasangan E Asola, Turi-Turi Putih, Sekar Mawar, dan Waru-Waru Doyong.
-
Busana Para penari Angguk mengenakan busana khas yang telah menjadi ciri khas kesenian tersebut, antara lain:
- Baju hitam dengan kerah Sanghai yang dihiasi pada bagian kerah, ujung lengan dada, punggung, dan pundak, serta berbagai corak.
- Celana pendek (atau sesuai permintaan, penari juga bisa menggunakan celana panjang hingga di atas mata kaki).
- Pelengkapnya adalah selendang motif batik yang diikatkan di pinggang, kacamata hitam untuk penari, topi hitam dengan sulaman hiasan di bagian depan, dan kaos kaki.
-
Personel Jumlah penari yang tampil rata-rata adalah 16 orang, ditambah satu orang sesepuh yang melakukan ritual selama pertunjukan dan bertugas sebagai nyuwuk (mengembalikan kesadaran penari angguk yang trance atau ndadi), dua orang bowo (penembang), dan 13 wiyaga (pemain musik).
-
Alat Musik Pada awalnya, alat musik yang mengiringi Tari Angguk terdiri dari 1 bedug, 1 kendang biasa, 1 kendang Jaipong, 4 rebana, 3 Saron, dan 1 Kecrek. Namun, untuk mengatasi kebosanan penonton, musik pengiring Tari Angguk sekarang telah ditambah dengan 1 organ dan 1 drum, menciptakan variasi musik yang lebih menarik bagi pendengar.