RADAR JOGJA - Evakuasi terhadap orang tua dan siswa SD IT Alam Nurul Islam, Gamping, Sleman, yang sedang mengikuti family gathering di Kalibawang menyusul putusnya jembatan, berlangsung hingga dinihari kemarin (9/3). Penyelamatan dilakukan karena dikhawatirkan air membanjiri area kegiatan.
Family gathering pun tidak dilanjutkan akibat air Sungai Tinalah meluap dan berpotensi membanjiri area kegiatan acara itu. Meluapnya sungai yang membatasi Padukuhan Semaken dengan Kemesa, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, juga merusak jembatan bambu yang berimbas terisolasinya area kegiatan.
"Sekitar pukul 19.00 jembatan bambu yang menghubungkan Bumi Perkemahan Sungai Tinalah dengan Ono Kaline River Park rusak dan terputus," ungkap Kapolsek Kalibawang AKP Zainuri saat ditemui di TKP Jumat (8/3) malam.
Kegiatan family gathering sudah diadakan sejak pukul 16.00 di Bumi Perkemahan Sungai Tinalah. Siswa, guru, dan orang tua/wali murid rencananya menetap semalam di Bumi Perkemahan dengan mendirikan tenda. Ada 84 siswa yang mengikuti kegiatan itu.
Acara awalnya berlangsung lancar. Sekitar pukul 17.00, jembatan mengalami patah akibat meluapnya Sungai Tinalah. Saat patah, jembatan itu tengah digunakan oleh salah satu wali murid. Beruntung jembatan masih bisa bertahan walaupun hanya sebentar, sehingga wali murid tidak langsung jatuh ke air sungai dan bisa menyelamatkan diri ke Bumi Perkemahan.
Patahnya jembatan ditandai dengan suara keras pada tiang yang berada di tengah. Sekitar pukul 18.00, jembatan sudah rata diterjang arus sungai yang semakin deras. "Limpahan air sungai dari wilayah atas seperti Samigaluh dan Kalibawang membuat debit air tinggi," ujar Zainuri.
Menurutnya, peristiwa itu merupakan fenomena alam yang tak bisa dihindarkan. Melihat daerah sekitar Samigaluh dan Kalibawang yang diguyur hujan deras sejak siang hari membuat beberapa sungai meluap. Ia juga menekankan tidak ada indikasi keteledoran pihak pengelola yang membangun jembatan itu.
Senada dengan AKP Zainuri, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kulon Progo Taufik Prihadi menjelaskan, kejadian itu memang dari faktor alam, sehingga tidak mudah dalam memprediksi. "Dari BPBD Kulon Progo menerjunkan 60 personel dan puluhan dari pihak lainnya," ucap Taufik usai evakuasi kemarin (9/3).
Menurut Taufik, evakuasi tidak mengalami kesulitan. Hanya ada beberapa kendala teknis yang membuat evakuasi berjalan lambat. Sekitar pukul 00.30 evakuasi seluruh pengunjung Bumi Perkemahan berhasil dilakukan. Evakuasi menggunakan metode grup yang berisi lima siswa dan wali murid dengan pendampingan dari tim evakuasi.
Taufik menjelaskan, evakuasi menggunakan jalur sisi barat Sungai Tinalah dengan panjang track 800 meter. Jalur barat tergolong lebih aman dibanding menyeberang sungai atau melewati sisi utara. Kendati aman, ia membenarkan apabila jalur barat memiliki kontur dan geografis tanah yang licin serta menanjak. Ini yang membuat tim evakuasi harus berhati-hati mengawal korban. "Kami perlu menyiapkan penerangan terlebih dahulu, menghindari korban terperosok karena jalannya sempit," ucapnya.
Selama evakuasi hujan terus mengguyur TKP dengan intensitas ringan. Saat sudah berada di dekat Jembatan Sungai Tinalah, siswa, wali murid, dan guru dicatat dan diperksa kondisinya. Apabila mengalami luka akan langsung dirawat. Setelah itu para korban di evakuasi menggunakan truk di sisi timur sungai, tepatnya di Ono Kaline Park. "Tidak ada korban jiwa ataupun luka. Hanya saja kebanyakan korban kedinginan karena faktor cuaca," ucap Taufik.
Ia menjelaskan, ada beberapa guru dan relawan SAR yang sengaja berdiam di TKP karena mengamankan benda berharga yang berada di lokasi dan merapikan beberapa barang hingga pagi hari. Pengamanan ini dihasilkan atas keputusan bersama antartim evakuasi dengan pihak sekolah.
Selain kendala teknis, Taufik mengungkapkan kendala berkaitan dengan pendataan korban. Pendataan korban sempat terhalang karena pihak sekolah maupun pengelola tidak mengetahui jumlah pasti pengunjung. Yang diketahui hanya jumlah siswa sebanyak 84. Sedangkan jumlah wali murid dan guru yang hadir, tidak terdata sebelumnya. "Tidak ada catatan pastinya, hanya siswa saja total semua korban berkisar 150-an orang," ucapnya.
Menurut Taufik, kejadian ini perlu menjadi pembelajaran bersama. Setiap orang perlu waspada dan memiliki kepekaan terhadap fenomena alam yang bisa saja mencelakai dirinya. Pengelola wisata juga perlu memperhatikan sistem pencatatan pengunjung agar memudahkan evakuasi. "Koordinasinya perlu diperkuat. Pengelola juga perlu mengonfirmasi ke pihak terkait seperti desa," ucapnya.
Menurutnya hal itu perlu dilakukan karena berkaitan dengan mitigasi bencana. Apabila koordinasi sudah dilakukan, nantinya pihak terkait akan saling mengabarkan kondisi wilayah masing-masing. Misal daerah pegunungan mengabarkan apabila curah hujan di daerahnya tinggi. Sehingga daerah bawahnya bersiap apabila air sungai meluap karena imbas limpahan air.
Sementara itu, pengelola Bumi Perkemahan dan Wisata Ono Kaline Doni mengungkapkan, patahnya jembatan bukan karena kerusakan jembatan. Namun karena meluapnya air sungai yang tak dapat dihindari. "Selalu ada pengecekan jembatan, sehingga jembatan tergolong aman," ucapnya.
Ia juga mengungkapkan, kejadian ini di luar dugaannya karena jembatan ini sama sekali belum pernah ambruk walaupun dihantam banjir. Dirinya juga melengkapi jembatan dengan seling pengaman agar kekuatannya terjamin.
Salah seorang wali murid yang tak ingin disebutkan namanya mengungkapkan, sebelum kejadian ia takut melintasi jembatan karena terbuat dari bambu. Menurutnya, saat kejadian patahnya jembatan kondisi Bumi Perkemahan tidak mengalami kepanikan.
Ia bahkan tidak mengetahui bahwa kejadian itu viral di media sosial. Kondisi anak-anak juga tidak mengalami kepanikan. Ia baru menyadari kondisi kerawanan banjir saat tim evakuasi mendatangi Bumi Perkemahan untuk melakukan evakuasi.
Rencananya orang tua atau wali murid melakukan evakuasi saat pagi hari. Namun karena mengetahui kondisi kerawanan yang disampaikan tim evakuasi, wali murid akhirnya melakukan evakuasi darurat. "Anak-anak justru inginnya tetap disana," ungkapnya.
Menurut penuturan orang tua siswa, acara yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan ini bukanlah acara milik sekolah. Namun acara yang disepakati orang tua. Dengan agenda family gathering sekaligus wisuda hafalan Alquran yang sebelumnya dilakukan para siswa kelas 3. (cr7/laz)
Editor : Satria Pradika