RADAR JOGJA - Tradisi Nyadran Agung kembali digelar di Alun-Alun Wates kemarin (6/3). Sebanyak 20 gunungan yang ikut diarak saat Nyadran Agung, ludes dalam dua menit saat rayahan gunungan.
Sebelum rayahan dimulai, terlebih dahulu gunungan dibawa dari Gedung DPRD Kulon Progo. Kemudian gunungan di arak melalui Jalan Sugiman, menuju ke Alun-Alun Wates. Saat dibawa, gunungan dikawal oleh pasukan Bregodo Sutomoyo. "Ada filosofinya, karena dari DPRD menyimbolkan rakyat, sedangkan Alun-alun merupakan tempat berkumpulnya maayarakat," ucap Kepala Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Kulon Progo Eka Pranyata.
Setelah momen rayahan, masyarakat dapat membawa pulang hasil gunungan berupa nasi, sayuran, buah, dam sejumlah makan tradisional. Di mana hasil rayahan ini, dipercaya membawa kebaikan dan berkah bagi sebagian masyarakat.
Tak hanya berkaitan dengan tradisi yang harus dilestarikan, rayahan juga merupakan wujud syukur atas pemberian Tuhan. Yang memang disimbolkan dalam bentuk gunungan. Selain itu, tradisi ini juga berkesinambungan dengan Nyadran Agung yang turut memanjatkan doa untuk para leluhur. "Melestarikan tradisi dan juga sebagai upaya silaturahmi antar masyarakat se-Kulon Progo," ucap Eka.
Warga Pengasi, Ari mengaku ikut rayahan karena antusias. Bahkan ini adalah kali keempatnya ikut dalam prosesi Nyadran Agung. "Selalu menunggu acara ini," ucap Ari.
Perempuan ini bahkan rela berdesakan dan menunggu berjam-jam demi bisa mengikuti rayahan. Dia pun berhasil mendapatkan beberapa sayur dan buah-buahan. "Ngalap berkah, sekaligus perwujudan syukur, sehingga saya selalu mengikuti rayahan," ucapnya. (cr7/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita