KULON PROGO - Sudah sekitar 1 tahun semenjak sosialisasi pembangunan tol di Padukuhan Jamus, Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih digelar.
Namun, hingga saat ini warga padukuhan belum mendapatkan kepastian.
"1 bulan yang lalu, Padukuhan Jamus sudah dilakukan pematokan untuk proyek jalan tol," ucap Dukuh Jamus Priyo, saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Minggu (25/1).
Menurut Priyo, setelah konsultasi publik yang pernah diadakan di Taman Budaya Kulon Progo pada April 2023 lalu, belum ada kabar maupun informasi terkait kebutuhan tanah untuk tol.
Namun, sebulan yang lalu terdapat tim pengukur tanah yang melakukan pematokan bambu untuk keperluan tol.
Dan selang seminggu kemudian pematokan dilanjutkan menggunakan pipa.
"Warga hanya berpegang pada patok, namun tidak ada penjelasan detail terkait site plan," ucap Priyo.
Priyo menjelaskan, hampir semua Padukahan Jamus terdampak tol apabila dilihat dari patok yang telah terpasang.
Sisi selatan Padukuhan Jamus merupakan wilayah paling banyak terdampak.
Dari keseluruhan, terdapat 68 rumah warga yang terdampak pembangunan tol.
Padukuhan Jamus sendiri memiliki 150 KK yang tinggal dalam 100 rumah, tersebar dalam 2 RW dengan 4 RT.
"2 RW ini, terdampak semua, dan sisanya sedikit sekali," ucap Priyo.
Selain rumah warga, fasilitas umum juga terdampak, seperti TK Pertiwi dan sejumlah makam yang berada di Padukuhan Jamus.
Menurut Priyo, Padukuhan Jamus akan digunakan sebagai lingkar simpangan tol yang menghubungkan arah Jogja ke Temon.
Selain, menghubungkan jalan arah Jogja-Temon, lingkar simpang juga menghubungkan akses ke exit tol yang terletak di pesawahan dekat Taman Budaya Kulon Progo.
Menurut Priyo, hal itulah yang membuat wilayahnya terdampak cukup banyak dibanding wilayah lain.
"Kalau di daerah Padukuhan Ngento, rencana jalan tol berbentuk lurus, kalau disini lingkaran," ucap Priyo.
Menurut Priyo, warga Padukuhan Jamus tidak menginginkan adanya penggusuran untuk tol. Namun, warga tak bisa berbuat banyak.
Apalagi, belajar dari kasus pembangunan di daerah lain, dimana kebutuhan infrastruktur akan selalu dipentingkan.
"Dari warga hanya minta ganti untung yang sesuai agar mereka tetap bisa membangun rumah, dan melanjutkan hidup seperti sebelumnya," ucap Priyo.
Senada dengan Priyo, Irmawati warga Padukuhan Jamus yang rumahnya terletak didekat patok tol, mengungkapkan dirinya akan segera pindah.
Ia mengaku akan pindah apabila uang ganti untung sudah diterimanya.
"Kalau sudah diterima ganti ruginya kami akan segera pindah," ucap Irmawati.
Irma menjelaskan, rumah, toko, dan pekarangannya terkena tol, bila melihat posisi patok. Bahkan, tiga rumah kerabatnya juga mengalami nasib yang sama.
Irma mengaku khawatir tidak bisa membangun rumah baru apabila menerima uang ganti untung yang tidak sesuai.
Melihat harga tanah diseputaran Padukuhan Jamus yang lumayan tinggi.
Di daerah Padukuhan Jamus tanah berharga R 1,8 juta hingga Rp 2,5 juta permeter persegi, Sebelumnya harga tanah tak semahal itu.
Namun setelah pembangunan bandara di Kapanewon Temon, tanah tiba-tiba melonjak drastis.
Menurut Irma, saat ini dirinya dan tetangganya sudah berencana untuk pindah dan membangun rumah baru yang saling berdekatan.
Hal itu, dimaksudkan agar hubungan sosial yang sudah terjalin lama tidak putus.
"Harapannya, segera ada kepastian dan semoga uang ganti untungnya sesuai," ucap Irma. (cr7)
Editor : Bahana.