Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bansos dan Kekurangan Stok Jadi Penyebab Utama Kenaikan Harga Beras di Kulon Progo, Banyak Pedagang Mengeluh Sepi

Anom Bagaskoro • Senin, 12 Februari 2024 | 00:38 WIB
MELIMPAH: Tri Widiastuti saat melayani pembeli, Sutijah, di Pasar Wates.
MELIMPAH: Tri Widiastuti saat melayani pembeli, Sutijah, di Pasar Wates.

KULON PROGO - Sejak Januari akhir, perlahan tapi pasti harga beras mengalami kenaikan. Terlebih, di awal Februari, kenaikan harga cukup signifikan.

Hal ini juga diperparah dengan adanya pembagian bantuan sosial (bansos) berupa beras. Ini yang membuat minat masyarakat menurun.


"Penurunan pembeli dan jumlah beras yang dibeli cukup signifikan," ucap pedagang beras di Pasar Wates, Tri Widiastuti, saat ditemui Radar Jogja, Minggu (11/2).


Tri mengungkapkan, beras yang dijualnya mengalami kenaikan drastis sejak awal Februari.

Rata-rata kenaikan sejak awal Februari berkisar Rp 500 sampai Rp 1.100. Kenaikan tersebut membuat beberapa pembeli mengurangi jumlah pembelian berasnya.


"Favorit pembeli itu, beras ladori sekarang harganya Rp 15.500, yang awalnya hanya sekitar Rp 13.900. Selain itu, beras mentik wangi juga mengalami kenaikan, sekarang harganya Rp 15.500," ucap Tri.


Ia mengungkapkan, rata-rata kenaikan harga beras sejak akhir Januari berkisar di angka Rp 200 setiap harinya.

Apabila dihitung sejak 2 minggu lalu tentunya kenaikan ini akan sangat berpengaruh terhadap minat beli masyarakat.


Tak hanya beras, Tri mengungkapkan, beras ketan juga mengalami kenaikan. Kenaikan harga ketan di sekitar Rp 1.500 per kg. Saat ini harga beras ketan di angka Rp 22.500.


Tak hanya Tri, pedagang beras lainnya juga mengalami nasib yang sama. Asih, pedagang di Pasar Wates, juga membenarkan kenaikan harga pangan tersebut.


"Cukup signifikan, misal Beras Elma yang termasuk kategori C4, harga awal itu Rp 13.900, saat ini harganya Rp 15.200," ucap Asih.

Baca Juga: Tekad Hat-trik Juara, Tenis Kursi Roda NPC DIY Ingin Pertahankan Predikat Juara Umum di Peparnas 2024


Perempuan paro baya ini mengungkapkan, biasanya mampu menjual 5 kuintal beras dalam satu hari.

Bahkan, ketika harga stabil, ia mampu menjual 1 ton dalam sehari.

Namun, akhir-akhir ini hanya mampu menjual maksimal 3 kuintal setiap harinya.


Asih juga mengungkapkan, kenaikan harga ini disebabkan oleh ketidaksediaan stok di pasar.

Padahal, Asih mendapat suplai beras dari wilayah Klaten, Bantul, Purworejo, dan dari lokal.


"Susah didapat, dan ketika stok ada pasti tidak dapat memenuhi stok pribadi karena setiap suplier membaginya secara merata ke setiap pedagang," ucap Asih.


Salah satu pembeli yang ditemui Radar Jogja mengakui keberatan dengan harga beras yang diluar nalar.

Sutijah, warga Kapanewon Wates, mengungkapkan terpaksa untuk tidak menyetok beras dirumahnya.


"Agak berat dengan harga sekarang, tapi karena kebutuhan pokok saya tetap harus membeli, walaupun jumlahnya saya kurangi," ucap Sutijah.


Sutijah mengungkapkan, dirinya menyiasati kenaikan harga ini dengan membeli sedikit beras. Biasanya ia membeli beras 10 kg untuk 20 hari.

Saat ini, ia menyiasati dengan hanya membeli 5 kg beras untuk 10 hari dengan 3 anggota keluarganya.


"Kalau bisa harganya segera turun, karena harga bahan pokok lainnya seperti gula juga mengalami kenaikan," ucap Asih.


Adanya kenaikan ini, sudah dipantau oleh Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kulon Progo Sudarna.

Saat dihubungi Radar Jogja melalui sambungan telepon, Minggu (11/2), ia mengungkapkan, kenaikan harga tersebut diakibatkan stok beras yang sulit didapat.


"Dari sudut pandang produsen, pasokan beras yang diperjualbelikan tersendat," ucap Sudarna.


Ia mengungkapkan, Indonesia juga melakukan impor beras. Namun, dia belum mengetahui pasokan beras tersebut ada di mana.

Sudarna, bahkan, sempat menanyai beberapa produsen beras yang besar untuk mencari tahu alasan kenaikan harga. Produsen beras mengaku stok miliknya juga mengalami penurunan.


"Untuk pembagian bansos sebenarnya pengaruhnya ada diminat masyarakat," ucap Sudarna.


Menurut Sudarna, kelangkaan stok membuat harga beras naik. Hal ini juga diperparah dengan adanya bansos yang membuat minat membeli beras masyarakat turun.

Sehingga memaksa penjual menaikkan harga untuk menutup biaya operasional.


"Kemungkinan akan segera kembali pulih, karena wilayah Utara Kulon Progo sudah panen dan siap edar," ucap Sudarna.


Apabila tak kunjung mengalami penurunan, Sudarna menyiapkan beberapa mekanisme agar masyarakat mampu membeli beras.

Ia menyiapkan mekanisme operasi pasar dan pasar murah.


"Kami juga akan berkordinasi dengan Bulog untuk menanyakan pasokan beras untuk masyarakat," tegasnya. (cr7)

 

Editor : Amin Surachmad
#Bantuan Sosial #bansos #harga beras