KULON PROGO - Lebah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Tak hanya bagian dari keseimbangan alam, manfaat lebah yang menghasilkan madu dengan berbagai khasiatnya.
Sejak zaman dahulu madu dipercaya, tak hanya sebagai perasa manis, namun juga sebagai pengobatan. Banyak produk yang dibuat dari bahan madu, seperti kudapan hingga kosmetik.
Kebutuhan madu yang kian diminati masyarakat membuat sebagian besar peternak madu meninggalkan cara tradisional.
Banyak darinya yang menggunakan larutan gula untuk meningkatkan hasil madu.
Namun berbeda dengan Heri Kurniawan, pemilik Omah Tawon Randu Alas, yang terletak di Padukuhan Sekendal, Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap, Kulon Progo.
"Mulai dari tahun 2018, sebelumnya ayah saya yang melakukan budidaya lebah madu," ucap Heri ketika ditemui Radar Jogja, Kamis (8/2).
Heri mengungkapkan, pada awal pendirian omah tawon, dirinya sangat berorientasi pada bisnis.
Hal ini cukup wajar karena Heri merupakan korban PHK, ia sempat bingung mencari pekerjaan.
Berawal Dari Wangsit
Heri menceritakan bahwa dirinya sempat di PHK.
Kemudian suatu malam ia mendapatkan mimpi melihat rombongan Nabi Muhammad SAW.
Mimpinya berlanjut ketika ia disuruh mendermakan dirinya ke sesama.
Pada akhirnya ia menemukan cara agar mendapatkan penghasilan dengan budidaya lebah yang selama ini dikerjakan orangtuanya.
"Saya mendapat mimpi, untuk mendermakan hidup saya bagi sesama," ucap Heri.
Ia melanjutkan pembudidayaan lebah karena terinspirasi dengan Surat An Nahl.
Filosofi surat tersebut berhubungan dengan mimpinya. Bahwa setiap manusia harus memberi manfaat bagi orang lain, sama seperti lebah.
Pada awalnya, Heri berorientasi pada bisnis ternak lebah ditahun 2018 hingga 2019.
Orientasi tersebut ia jalani dengan serius. Bahkan ia sempat membangun sarana dan prasarana untuk ternak lebah.
Tak hanya itu ia bahkan menanam bunga agar kebutuhan nektar bagi lebah tercukupi, sehingga produksi madu bisa terus digenjot.
"Saat itu saya mempunyai 50 Glodok (tempat lebah bersarang)," ucap Heri.
Tetangga Heri juga mengikuti jejaknya dengan membuat peternakan lebah dan sekarang hampir setiap rumah memiliki ternak lebah sendiri.
Sampai dititik tertentu Heri sadar bahwa orientasinya mengenai bisnis ternak lebah dan madu salah besar.
"Saat itu saya sadar, bahwa yang harus difokuskan adalah ternak lebah secara tradisional, sebagai warisan budaya bukan untuk kepentingan komersil," ucap Heri.
Omah Tawon Randu Alas Saat Ini
Karena kesadarnya Heri membuat Omah Tawon Randu Alas bertransformasi dari hanya penghasil madu, menjadi tempat rekreasi dan edukasi tentang budidaya lebah tradisional.
Ia mengkangkat tema menjaga warisan leluhur yang hampir punah.
"Sudah tidak lagi berorientasi tentang uang, namun tentang edukasi," ucap Heri.
Konsep Omah Tawon yang sekarang berfokus pada budidaya tradisional. Dimana hal ini memilik ciri khusus.
Menurut Heri ciri tersebut terletak pada tempat budidaya, metode pembudidayaan, dan filosofi budidaya.
Tempat budidaya lebah menggunakan glugu yang dibelah, atau sering disebut Glodok. Media glodok dipergunakan untuk lebah jawa (Apis Cerana Javana Enderlein).
Sedangkan untuk lebah klanceng (Apis Florea), menggunakan media gerabah kendil dan peti kayu.
Menurutnya pemilihan media sarang sangat berpengaruh pada lebah. Lebah tak hanya suka tempat yang bersih, namun juga memilik insting alami.
Dari segi metode pembudidayaan, Heri tidak berorientasi pada hasil madu. Karena bila berorientas dengan hasil madu memerlukan banyak sarang dan lebah.
Menurutnya bila populasi lebah banyak, juga akan sangat berpengaruh terhadap keseimbangan lingkungan.
Terutama bagi pertanian kelapa yang disadap niranya untuk pembuatan gula merah. Lebah yang semakin banyak, justru mengganggu perkembangan tanaman kelapa.
"Kita harus menjaga keharmonisan biodiversitas yang ada, jangan karena keserakahan akhirnya alam rusak," ucap Heri.
Baca Juga: Disney Umumkan Jadwal Rilis Frozen 3 & Toy Story 5, Ini Dia Waktunya...
Tak hanya itu, metode pemancing lebah agar mau bersarang juga diperhatikan. Terkadang peternak menggunakan pemancing propolis untuk lebah agar bersarang.
Namun, berbeda dengan Heri. Ia hanya meletakkan sarang dan mrnunggu selama beberapa hari agar sarang tersebut terisi.
"Kembali ke surat An Nahl, Buatlah sarang-sarang di Bukit-Bukit, saya mengartikan bahwa sarang lebah ideal ditempatkan di batu-batu. Sama seperti zaman nenek moyang kit," jelasnya.
Wisata Edukasi
Heri mengungkapkan bahwa ia sekarang tak berorientasi pada uang.
Ia lebih fokus pada edukasi bagi masyarakat mengenai pelestarian budidaya lebah tradisional.
Menurutnya pengunjung dapat datang ke lokasi Kampung Tawon atau rumahnya, untuk belajar tentang sejarah, budaya, adat istiadat mengenai budidaya lebah.
"Nantinya pengunjung bisa belajar sejarah mengenai lebah di daerah ini," ucapnya.
Pengunjung akan diajak di sebuah titik dimana sejarah budidaya lebah sejak nenek moyangnya ada.
Di tempat itu pengunjung akan melihat sarang lebah yang berada di batu besar.
Dimana lebah bersarang di celah-celah retakan batu. Batu tersebut dipercaya sebagai salah satu cikal bakal daerah tersebut.
Selain itu pengunjung juga diajarkan cara beternak lebah, mulai dari penyiapan sarang sampai panen.
Tentunya semua berorientasi pada budidaya tradisional.
Sebagai contohnya adalah saat panen. Pengunjung diajarkan agar saat panen tidak memotong habis kantong madu.
Hal ini diajarkan agar lebah tetap memiliki stok makanannya.
"Sudah banyak pengunjung yang datang kesini, tak hanya sekedar membeli madu namun juga belajar mengenai budidaya lebah tradisional," tutur Heri.
Menurut Heri kebanyakan pengunjung berasal dari luar daerah, seperti Kalimantan dan Sumatera.
Kebanyakan dari mereka memiliki minat khusus dalam budidaya.
Beberapa peneliti juga datang berkunjung untuk meneliti perilaku lebah di daerah tersebut.
Tak hanya itu budayawan juga seringkali bertandang, unruk menguak sejarah dan budaya lebah di daerah tersebut.
"GKR Bendara juga pernah mampir kesini, bahkan beliau sangat antusias," jelasnya.
Putri Sultan Hamengkubuwono X tersebut, berkunjung ke rumah Heri untuk mengetahui budidaya lebah. Bahkan dirinya sempat menandatangani sarang lebah milik Heri.
Kendati sudah ramai dikunjungi orang, Heri masih berharap kunjungan orang orang lain. Agar budaya ternak lebah tradisional bisa diketahui khalayak luas.
Ia juga bermimpi kedatangan turis asing yang akan belajar bagaimana ternak lebah yang menghasilkan keharmonisan alam.
Sejalan dengan pernyataan Heri, Lurah Hargotirto, Tukiyo membenarkan bahwa banyak sekali pengunjung yang datang ke Hargotirto untuk mempelajari budidaya lebah. Menurutnya budidaya lebah tradisional memiliki keunikannya sendiri.
"Dari segi budaya, ternak lebah sudah turun temurun di desa kami," ucap Tukiyo.
Tukiyo mengungkapkan bahwa Omah Tawon Randu Alas menyumbang berbagai penghargaan untuk Desa Wisata Hargotirto.
Penghargaan tak hanya di event daerah namun juga taraf nasional.
Ia juga berharap adanya wisata edukasi dapat mengangkat potensi wisata di Kalurahan Hargotirto. Terlebih itu juga akan berdampak pada perekonomian masyarakat setempat.
Baca Juga: Bawaslu Sleman Temukan 1.752 Surat Suara Rusak, Pemusnahannya Akan Diawasi!
3. Hri menunjukkan penghargaan yang ia dapat, mewakili Desa Wisata Hargotirto. (Anom Bagaskoro)
Editor : Meitika Candra Lantiva