Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Usai Terdampak Longsor, SDN Sungapan Perlu Rehabilitasi, Jika Hujan Kegiatan Belajar Dihentikan

Anom Bagaskoro • Minggu, 4 Februari 2024 | 21:17 WIB
SEMANGAT: Kegiatan belajar mengajar di SDN Sungapan tetap berlangsung walaupun mengalami longsor di bagian tanggul.
SEMANGAT: Kegiatan belajar mengajar di SDN Sungapan tetap berlangsung walaupun mengalami longsor di bagian tanggul.

KULON PROGO - Bencana longsor di Bumi Binangun sejak Januari awal terus terjadi. Daerah di Kapanewon Kokap menjadi salah satu bagian daerah rawan longsor.

Kejadian longsor sempat menimpa SDN Sungapan, yang terletak di Padukuhan Sungapan I, Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap, Kulon Progo. 


"Sekolah kami terdampak longsor, terdapat tiga titik longsor disekitar sekolah," ucap Guru SDN Sungapan Saruji saat ditemui Radar Jogja usai kegiatan belajar mengajar, Jumat (2/2).


Saruji mengungkapkan bahwa longsoran sudah terjadi sejak seminggu yang lalu. Sebelum longsor sempat mengalami retakan.

Kemudian, saat hujan tiba, tanah tidak mampu menahan jumlah air sehingga longsor terjadi.

Ia juga mengungkapkan bahwa baru pertama kali SDN Sungapan mengalami longsor.


"Terdapat tiga titik longsor, ketiga longsoran terjadi dalam jangka waktu dua hari," ucap Saruji.


Tiga titik longsor itu, merusak halaman sekolah, ruang kelas, dan perpustakaan. Hal ini memaksa beberapa murid mengosongkan ruang kelas, dan berpindah ke ruang kelas lainnya.

Tentunya akibat longsor sangat mengganggu aktivitas belajar mengajar di SDN Sungapan.


Saruji khawatir dengan kondisi halaman sekolah yang longsor.

Hal ini melihat keadaan longsoran yang hanya berjarak satu meter dengan bangun sekolah.

Jika tak hati-hati dan waspada siswa bisa saja terperosok jatuh.


Selain itu orangtua siswa juga sempat mengeluhkan kekhawatirannya ke Saruji selaku guru.

Kebanyakan orang tua khawarir akan adanya longsor kembali yang membahayakan anaknya.


"Yang bisa kami lakukan adalah mengumpulkan siswa dalam satu kelas, agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, dan saat cuaca buruk terpaksa kegiatan di sekolah dihentikan, sesuai instruksi dinas," jelas Saruji.


Senada dengan Saruji, Kepala SDN Sungapan, Kasiyanti mengungkapkan bahwa pihak sekolah terpaksa harus tetap melakukan kegiatan belajar mengajar.

Ia mengungkapkan, siswa terpaksa berpindah ke ruang kelas lain atau ke mushola.


Kasiyati mengungkapkan bahwa pihak terkait sebenarnya sudah melakukan bantuan.

Ia mengungkapkan, bantuan dilakukan untuk rehabilitasi gedung sekolah yang dianggarkan melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).


SDN Sungapan sendiri merupakan sekolah dasar pelosok. Saat ini jumlah siswanya hanya 36 siswa.

Namun, keberadaan sekolah dasar ini sangat membantu warga sekitar karena lokasi sangat dekat dibanding sekolah lainnya.

Siswa SDN Sungapan berasal dari 4 padukuhan, yaitu Padukuhan Crangah, Menguri, Sungapan I, dan Sungapan II.


"Dari orangtua sendiri, kemungkinan ada yang keberatan, karena bila di relokasi akan membuat siswa jauh dari rumahnya," ucap Kasiyati.


Kasiyati berharap agar adanya bantuan sesegera mungkin, mengingat kondisi sekolah yang masih aktif, dan terdapat potensi longsor yang masih akan terjadi.

Sebelumnya, ia sempat dihubungi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo untuk mengabarkan situasi sekolah.

Selain itu, BPBD Kulon Progo juga memberikan bantuan berupa terpal untuk pengamanan sementara.


"Kemarin dari dinas sempat datang kesini, infonya sudah ada nota dinas, tapi kami belum tahu realisasinya seperti apa," ucap Kasiyati.


Saat dihubungi melalui sambungan telepon oleh Radar Jogja, Sabtu (3/1), Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo Arif Prastowo membenarkan kejadian longsoran di SDN Sungapan.

Pihaknya saat ini sedang melakukan pengkajian untuk proses rehabilitasi.


"Saat ini sudah ada nota dinas berkaitan dengan longsoran yang menimpa SDN Sungapan," ucap Arif.


Menurut Arif terdapat mekanisme yang memungkinkan untuk merehabilitasi SDN Sungapan.

Pertama, melalui APBD, namun mekanisme ini membutuhkan waktu lama hingga realisasinya di tahun depan.

Kedua, melalui APBD Perubahan, dimana APBD ini dimaksudkan untuk mengalokasi sebagian pada pembangunan sekolah.

Ketiga, melalui pengajuan dana belanja tidak terduga (BTT).


"Yang paling realistis dan cepat penanganannya memang melalui BTT," ucap Arif.


Ia mengungkapkan, BTT menilai dari tingkat urgensi. Apalagi, SDN Sungapan terdampak longsor sehingga bisa terakomodasi melalui BTT.

Arif mengungkapkan adanya peran BPBD dalam penyaluran BTT akan sangat membantu rehabilitasi sekolah.


Senada dengan Arif, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kulon Progo Taufik Prihadi mengungkapkan kebenaran mekanisme tersebut.

Menurutnya BTT bisa mengakomodasi untuk perbaikan tanggul halaman SDN Sungapan.


"Sebenarnya, kami menunggu pengajuan dari dinas terkait, dan akan kami anggarkan," ucap Taufik.


Kendati demikian, Taufik mengungkapkan bahwa dan BTT sangat sedikit dibanding APBD. Sehingga belum tentu mampu mengakomodasi kebutuhan yang ada.

Namun kelebihan data BTT lebih cepat realisasinya karena bersifat kedaruratan. (cr7)

Editor : Amin Surachmad
#daerah rawan #bencana longsor #kokap